Header Ads

Memukau, “Drama Show The Culture Of Mbojo” yang Digelar HIMABI STKIP Tamsis Bima



Kabupaten Bima, Garda Asakota.-

          Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris (HIMABI) Program Studi Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima menyelenggarakan acara “Drama Show The Culture Of Mbojo” yang super istimewa. Tidak hanya dihadiri oleh ratusan penonton, tetapi seluruh prosesi acaranya, dari awal hingga akhir, menggunakan bahasa Inggris.

          Semua yang terlibat dalam acara ini, mulai dari MC, laporan ketua panitia, sambutan dari Ketua HMPS, Dosen Pembina, Ketua Prodi, Ketua Lembaga hingga pada puncak acara “Drama Show”, semuanya menggunakan bahasa Inggris. Sungguh moment yang sangat Istimewa. Para pimpinan yang menyampaikan sambutan sebelum ‘Drama Show’ berlangsung, tak menyia-nyiakan moment istimewa ini untuk ‘Show of’ dengan sambutan yang luar biasa pula.




         Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si menyampaikan lima point yang menginspirasi. Pertama, beliau sangat suprise dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kreatifitas dan kemampuan psikomotorik yang dimiliki mahasiswa; Kedua, sekarang kita sedang berada di abad 21, era dunia tanpa batas (borderless world era), dimana “clash of civilization” tak bisa dihindari, budaya global menghegemoni hingga ‘local genuine’, dan tak ada cara lain, bahwa ‘Globalization must be countered by localization’, yaitu dengan melestarikan budaya lokal;

          Ketiga, Maju mundurnya sebuah bangsa dan daerah ada di tangan generasi muda. Generasi mudalah yang selalu mengubah sejarah dunia, yaitu generasi yang kreatif, inovatif, dan terus belajar mengembangkan aspek Kognisi, Afektif, dan Psikomotoriknya sekaligus; Keempat, Prodi Bahasa Inggris selain mahir berbahasa Inggris, juga harus memiliki dan kemampuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal; dan Kelima, Akreditasi B yang disandang oleh Prodi Bahasa Inggris sekarang memungkinkan kalian semua untuk berkompetisi hingga ke level Internasional, God Luck!.

          Sebagai Dosen Matakuliah Drama. Ramli, M.Pd menyapa Ketua Prodi dan Sekprodi sebagai sosok Ki Hajar Dewantaranya Prodi Bahasa Inggris. Dalam sambutannya, Pak Ramli berpesan kepada seluruh mahasiswa tentang perlunya ‘ATM’, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi dalam belajar dan mengembangkan kreatifitas. Inilah tips untuk melahirkan banyak karya, terutama dalam bidang seni dan budaya. Ketua Program studi Pendidikan Bahasa Inggris bapak Suratman, M.Pd.BI sangat berterima kasih kepada Ketua Lembaga atas dukungannya mensukseskan acara ini. Katanya, bahwa kemajuan kampus sangat tergantung dari geliat mahasiswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang positif seperti ini. Pak Suratman mengatakan bahwa Akreditasi B ini adalah buah dari karya seluruh dosen dan mahasiswa. Bersama kalian semua dunia menjadi seindah Taman Siswa. Disambut dengan tepuk tangan yang gemuruh dari Audiens.

          Drama Show ‘The Culture Of Mbojo’ ini adalah gaweannya mahasiswa Semester 6 Prodi Bahasa Inggris STKIP Taman Siswa Bima yang dikembangkan dari mata kuliah Drama. Seluruh Isi cerita drama ini disadur atau dimodifikasi oleh mahasiswa sendiri. Drama Show ini didesain sebagai sebuah lomba atau kompetisi antar kelompok drama yang mengangkat tema-tema yang menceritakan tentang nilai dan budaya Mbojo dalam versi bahasa Inggris, seperti “Parise Buncu”, “Wai Toma & Sultan Lalim”, “La Hila”, “Wadu Ntanda Rahi”, “Daeng La Minga”,  dan “Putri Nila Fatirah”.

          Saya terkagum-kagum dengan kemampuan bahasa Inggris dan acting Drama yang mereka tunjukkan. Ada beberapa moment yang mereka tunjukkan dalam penjiwaan yang luar biasa, hingga membuat para penonton histeris, terharu dan meneteskan air mata. Berikut sinopsisnya: Pertama, “Purti Nila Fatirah” mengisahkan tentang seorang gadis putri Raja yang sangat cantik; karena Kecantikannya membuat seorang ‘Babu’ istana iri hati dan dengki, sehingga menyihirnya menjadi makhluk yang buruk rupa seperti kerbau. Akhirnya Puri Nila Fatirah kabur meninggalkan Istana untuk menyendiri di sebuah gunung tanpa diketahui oleh siapapun. Pesannya, ‘tidak boleh iri terhadap orang lain’.

           Kedua, “Parises Buncu” mengisahkan tentang kehebatan Ncuhi Buncu dalam mensejahterakan masyarakatnya dan melindunginya dari ancaman musuh. Ncuhi Buncu disimbolkan sebagai perisai yang perkasa dan adil dalam melindungi rakyatnya. Ketiga, “Wai Toma & Sultan yang Lalim”, mengisahkan tentang pengabdian seorang nenek sebagai pembantu di Istana; dia begitu sabar dalam melayani Sultan meski diperlakukan dengan tidak adil. Seorang Sultan yang lalim ini begitu sombong, angkuh dan kejam terhadap rakyatnya. Sultan tidak bisa melihat kesalahan bawahannya dan langsung dihukum dengan kejam. Atas kekejamannya, sultan mendapatkan balasan dari rakyatnya, dengan meneteskan air ‘racun’ yang membuat sekujur tubuhnya gatal dan luka yang mengerikan hingga sultan meninggal dalam kondisi yang mengerikan.

           Keempat, ‘La Hila’ mengisahkan tentang seorang gadis dari kalangan biasa yang memiliki wajah yang sangat cantik dan berkepribadian yang luhur. Cerita tentang kecantikan dan kebaikan La Hila menjadi buah bibir masyarakat; suatu waktu, ketika La Hila bersama teman-temannya sedang mandi di sungai, lewatlah seorang pangeran dan melihat La Hila yang membuatnya jatuh cinta dan hendak melamarnya. Karena kondisi kerajaan sedang berkecamuk dengan peperangan, maka rencana untuk melamar tidak jadi. Beberapa lama kemudian, sang pangeran kembali ingin melamar La Hila, tetapi tanpa diketahui sebab musababnya, La Hila berubah wujud menjadi pohon Bambu yang amat rindang; sehingga seluruh masyarakat menangisi perubahan wujud La Hila.

          Kelima, ‘WADU NTANDA RAHI’ mengisahkan tentang sebuah rumah tangga yang harmonis dan sakinah mawaddah warahmah. Suami dan istri yang bertanggung jawab, kerja keras, dan taat beribadah. Anak-anaknya berperangai baik, berbakti kepada kedua orang tuanya, taat beribadah, rajin belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh demi kebahagiaan orang tua, dirinya dan orang lain. Karena Mimpinya untuk membahagiakan keluarga dan orang lain, suaminya bertekad kuat hijrah ke luar daerah untuk mencari nafkah, meski tidak ditolak oleh istri dan anak-anaknya. Dengan kecintaan yang kuat, istrinya menanti kepulangan suaminya, berhari-hari istrinya menangis karena kerinduannya yang dalam, hingga istri berubah wujud menjadi BATU yang bernama “Wadu Ntanda Rahi”. Pesannya, begitu kesetian perempuan Mbojo terhadap suaminya, dan begitulah mestinya potret keluarga mbojo yang memiliki akhlak yang mulia dan bermanfaat bagi sesama.

          Keenam, “Daeng La Minga”, mengisahkan putri raja yang sangat cantik dan memiliki kulit yang bening. Daeng la Minga dijuliki ‘Wajah oha rangaha’ dan ‘Ninu oi ra nono”, yang bermakna bahwa nasi yang dimakan dan air yang diminumnya terlihat jelas lewat dalam tenggorokannya. Begitupun tutur kata dan budi pekertinya sangat santun, sopan dan RAMAH. Sosok Daeng La Minga mencuri perhatian para pemuda dan dua orang pangeran di kerajaan tetangga. Dua pangeran ini berkelahi merebutnya, hingga kedua pangeran ini tewas. Untuk menghindari kejadian yang sama yang menimpa para pemuda yang lain, maka Daeng La Minga diusir meninggalkan kampung halamannya.

         Sekali lagi, saya sangat kagum dengan kreatifitas, kemampuan berbahasa Inggris, dan actingnya dalam menjiwai sebuah peran. Saya jadi optimis, kalau Drama Show The Culture Of Mbojo ini terus dikembangkan atau dimodifikasi maka akan menjadi sebuah seni pertunjukkan yang layak ditonton oleh khalayak ramai. (GA. 212*)







No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.