Bencana Longsor di Pemandian Bima Tirta, Pemerintah Tutup Mata

 Kota Bima, Garda Asakota.-
Bencana longsor yang terjadi pada awal Juni 2014 lalu nampaknya masih menyisakan pahit yang amat dalam bagi pemilik usaha Pemandian BIMA TIRTA yang berada di jalan lintas Melayu-Kolo Kota Bima, dimana hampir sebagian aset yang dibangun di sekitar areal longsoran hancur karena sepanjang 150 meter dengan ketinggian 70 meter tebing di sekitar areal usaha tergerai longsor. Pemilik usaha, H. Ali Sofyan, yang dimintai keterangannya membenarkan hal tersebut.
“Memang kejadian itu telah membawa kerugian yang cukup besar buat saya sekitar Rp600 juta dan saya sangat menyayangkan sekali aksi
penambangan yang dilakukan oleh pemilik lahan di samping areal ini yang terlalu berani melakukan penambangan tanpa memikirkan dampaknya terhadap usaha saya. Bahkan saya yakin penambangan itu illegal,” tegasnya kepada wartawan, Sabtu (3/1).
Diakuinya, pejabat pemerintah dari dinas Pertambangan serta dinas terkait lainnya sudah beberapa kali datang melakukan survey pendataan kerusakan namun sampai hari ini hasil survey dan pendataan tersebut tak ada realisasi sama sekali.
Diapun berharap agar sekiranya aksi penambangan itu illegal, maka dapat diproses sesuai ketentuan yang berlaku. “Jangan sampai orang lain yang dirugikan dong. Sekarang siapa yang mau mengganti kerugian saya?,” cetus pensiunan polisi itu. Pihaknya berharap pemerintah dapat berlaku bijak terhadap keberadaan BIMA TIRTA. Agar faktor keamanan dan kenyamanan para pengunjung, diapun berharap kepada Pemkot Bima agar dapat memprioritaskan pembangunan bronjong di kawasan longsor. Pria asli Bali yang biasa di panggil H. Komang tersebut juga mengaku  sudah sering menegur baik secara lisan maupun tertulis agar penambangan tidak diteruskan, namun tidak diindahkan. “Yah, akibatnya musibah longsor terjadi,” tandasnya. (GA. Hendrawan*).

Post a Comment

Previous Post Next Post