Header Ads

240 Ribu Orang Lebih Mengungsi, 385 Orang MD Dampak Gempa Lombok

Dampak Gempa Bumi Lombok

Mataram, Garda Asakota.-

Lempeng sesar naik flores yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi, masih terus bergerak. Pada Jum'at malam 10 Agustus 2018 sekitar pukul 23.57 wita gempa pada kedalaman 10 km timur laut Lombok Utara, masih terjadi gempa bumi dengan skala 5.0 SR. 

Gempa Bumi Lombok yang terjadi selama hampir Dua Pekan lebih yang dimulai dari tanggal 29 Juli 2018 dengan skala 6.4 SR, disusul gempa bumi tanggal 5 Agustus 2018 dengan kekuatan 7.0 SR dan lagi disusul gempa bumi tanggal 9 Agustus dengan skala goncangan 5.9 SR, menyisakan duka mendalam bagi warga masyarakat Lombok NTB.

Sumber Data BNPB

Berdasarkan data dari BNPB yang dirilis pada Jum'at 10 Agustus 2018, jumlah total korban jiwa meninggal dunia akibat gempa bumi Lombok mencapai angka 385 orang. "Dengan jumlah tertinggi yakni di Kabupaten Lombok Utara sebanyak 334 orang Meninggal Dunia. Disusul Kabupaten Lombok Barat sebanyak 30 orang. Di Kota Mataram tercatat 9 orang meninggal dunia, Lombok Tengah 2 orang meninggal dunia dan di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 10 orang meninggal dunia," jelas Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi NTB, Ir H Mohammad Rum, kepada wartawan Jum'at 10 Agustus 2018.

Masih menurut data BNPB, lanjutnya, total rumah rusak sementara berjumlah 7348 rumah, total prasarana pendidikan terdampak sebanyak 458 unit, dan total fasilitas umum terdampak sekitar 429 unit. "Sementara total jumlah pengungsi mencapai 240595 orang," timpalnya.

Menurutnya, BNPB bersama pihak terkait seperti TNI dan Polri serta sejumlah relawan dari berbagai organisasi telah melakukan berbagai upaya untuk menangani korban gempa bumi Lombok seperti memantau perkembangan dampak gempa, mendirikan tenda pengungsian, melakukan evakuasi korban gempa dengan instansi terkait, mendirikan tenda untuk rumah sakit lapangan, dan menyalurkan bantuan logistik.

Sementara kendala yang dihadapi dalam menangani dampak gempa ini, lanjutnya, seperti kurangnya peralatan dan logistik, terbatasnya jumlah personil, listrik tidak berfungsi, terputusnya sebagian sarana komunikasi, dan terganggunya jaringan air PDAM (air yang keluar berwarna kuning dan cokelat). 

"Kebutuhan yang mendesak saat ini seperti tenda pengungsi, makanan siap saji, air mineral, selimut dan terpal," pungkas Rum. (GA. 211*).

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.