Header Ads

Redefining Hero

Oleh: Diana Dahlan 

            Kita, penduduk dunia tahu bahwa satu tahun untuk 365 hari dan menjadi 366 hari ditahun kabisat. Pada penghujung tahun 2017 ini, ilmuwan memprediksi bahwa setahun kedepan akan banyak terjadi gempa bumi, tanah longsor, abrasi (penutupan pantai oleh air laut yang disebabkan oleh global warming) bahkan tsunami. Hal demikian terjadi karena perputaran bumi yang melambat sepersekian mili detik (silahkan klik sains.kompas.com, liputan6.com, tribunnews.com). So, mungkin saya dan anda yang kadang meminta, “Andai sehari lebih dari 24 jam” bisa berhenti mengucapkannya karena kalimat ini berarti memohon kepada Tuhan untuk dunia disegerakan berakhir. Kiamat.
     Redefining Hero. Mendefinisikan kembali kata “Hero.” Tapi sebenarnya, tulisan ini tidak mencoba mendefinisikan kembali “Hero.” Redefining Hero lebih pada menuliskan kebingungan duniawi akan makna kata Hero. Hero adalah satu kosakata berbahasa Inggris yang berarti pahlawan. Secara duniawi, orang tidak baik bisa saja mengklaim dirinya sendiri sebagai pahlawan atau orang tidak baik dengan potensi kekuasaan tertentu bisa dijual sebagai produk untuk tujuan semisal kekuasaan, pemenuhan diri yang narsistik atau demi uang. Kenapa “bingung secara duniawi” saja? Ya, karena seperti yang diajarkan yaitu di akhirat Allah tidak mengenal siapa pahlawan, siapa bukan. Allah hanya tahu manusia baik akan diarahkan ke surga dan yang tidak baik digiring ke neraka. Pertanyaan selanjutnya adalah pertanyaan dari saya yang lebih ditujukan pada diri sendiri yaitu:
“Kalau Allah hanya memperhitungkan amal-amal mu, lalu kenapa engkau meributkan hal-hal keduniawian?”
Saya belum mempunya jawaban yang pasti. Kira-kira akan bagaimana jawabannya jika pertanyaan diatas direspon oleh setiap individu yang hidup di bumi termasuk anda.

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.” Didalam tanda kutip itu ada syarat tertera untuk seseorang layak menyandang sebutan pahlawan yaitu:

1. Menonjol

Dalam memperjuangkan kebenaran, ia harus menonjol. Sekali lagi, hal yang diperjuangkan pahlawan adalah KEBENARAN bukan hal lain. Dan, banyak individu istimewa yang memperjuangkan kebenaran, hanya yang menonjolah yang bisa disematkan sebagai pahlawan.

2. Menonjol

Selain menonjol dalam memperjuangkan kebenaran, pahlawan harus menonjol dalam segi pengorbanan untuk memperjuangkan kebenaran. Ia berkorban. Tentu saja, berkorban disini bukan bekerja lembur di Rumah Sakit untuk mendapat penghasilan ekstra, misalnya. Hal itu berarti anda bekerja keras, mengorbankan waktu meninggalkan keluarga lebih lama dan anda mendapat uang/ barang sebagai balas jasa. Ya, anda pahlawan bagi keluarga bukan lalu dengan perbuatan itu disebut sebagai pahlawan dan semua orang perlu membungkuk. Saya yakin, anda termasuk saya bukan orang picik yang ingin menjadi pahlawan bangsa tanpa menonjol dan berani dalam hal kebenaran dan pengorbanan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Berani

Silahkan cek sendiri apa itu definisi berani, keberanian. Disini saya akan menulis dua “sebutan” yang menurut saya pantas dianugerahi pin sebagai pahlawan bangsa sekaligus pahlawan kemanusiaan.

a. Veteran

Siapa yang mengaum dengan bambu runcing sementara musuh mu mempunyai meriam? Ya, sebagian orang hidup dalam takut, lebih berani menjadi budak atau mengungsi untuk kehidupan yang lebih baik dan layak. Tapi, mereka lebih memilih mati daripada dijajah. Segala taktik dikerahkan untuk memenangkan perang yang kondisinya tidak seimbang. Toh ternyata, keberanian atas nama kebenaran adalah amunisi tersendiri. Sayangnya, dikemudian hari disebuah upacara, veteran ditempatkan dibelakang panggung sedangkan penerus ditempatkan diatas panggung bertenda untuk penghormatan atas image perjuangan yang dikesankan oleh veteran.

         Tidak ada yang salah dengan posisi karena bumi pun berputar. Prajurit Indonesia bukan tidak punya peringkat di dunia. Dan, seumur-umur, organisasi pemerintah inilah yang tidak pernah ribut soal tuntutan kenaikan gaji/ tunjangan, mereka tidak pernah berdemo, resiko pekerjaan berat, latihan fisik dan mental tidak tanggung-tanggung.

“Mengingat proses hidup itu, apakah tega menempatkan mu dibelakang panggung suatu saat nanti ketika engkau pensiun?”
Ketika anda ingin satu inspirasi bagaimana memperlakukan veteran dengan baik dan hormat, maka belajarlah dari presiden Amerika Serikat ke 44: Barrack Obama.

b. Guru Honorer

Saya mempunyai seorang teman yang juga adalah sebagai adik, penyuplai cumi kering dan my partner in crime. Oh tentu! Itu tidak mengesankan. Hal yang luar biasa adalah ia rela menyebrangi pulau di Labuan Bajo sana untuk mengabdi sebagai guru honorer. Pekerjaan ini dilakukannya dimasa jomblo. Ketika sudah menikah pun, ia masih menggelutinya. Pertanyaan adalah, “Mengapa?” Dengan bertambahnya anggota keluarga, bukankah pula bertambah beban? Ia bisa saja menyebrang ke Sulawesi untuk mengejar job dengan gaji yang banyak. Dengan demikian, keluarga pun bisa lebih makmur. Tapi, kenapa tidak dilakukannya? Jawabannya adalah ia guru sejati yang layak hidup dalam puisi dan diperingati secara nasional. Ia adalah guru yang tidak menyukai dunia politik dan tidak bermain image untuk berkuasa. Ia hanya guru muda yang takut kekenyangan sehingga menjadi malas, takut menuntut kenaikan gaji/tunjangan karena hadir beberapa jam saja disekolah.

Ya, hanya guru honorer sajalah yang exist dalam pemerintahan dan berani berkorban demi pendidikan generasi dengan bayaran minim. Hidup tidak main-main. Jika peduli, tetapkan guru honorer sebagai pahlawan bangsa atau hapuskan keberadaannya. Dan, ya! Yang saya maksud adalah semata guru honorer bukan yang lainnya.
Pahlawan, Veteran gugur demi kemerdekaan bangsa. Guru honorer mengabdi demi kecerdasan bangsa. Dan, saya tidak berpikir pahlawan lahir dari memenangkan debat tentang siapa pemilik Jerusalem, misalnya. Pahlawan lahir dari perjuangan untuk mengatakan kebenaran atasnya, memperjuangkannya dan mempertahankannya. Dunia memang harus damai. Tapi, pula harus siap jika perang tidak terelakkan.

Redefining Hero.

Poin tulisan saya adalah, “Please deh. Tidak usah segelintir kalian memberi brainstorm kepada generasi muda untuk mengklaim diri mu sebagai pahlawan sedangkan agenda terbesar perjuangan organisasi mu adalah faktor kesejahteraan ekonomi.”*

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.