Header Ads

Konflik Batin…



Oleh: Rafika, S.Pd
ini konflik batin itu berke­ca­muk  kala membaca lembar demi lembar wacana yang disodorkan tanpa program yang tidak bisa diprediksi saksama. Tak  satu  organ pun mampu membaca kegalauan, mendeteksi, dan menjawab dengan objektif, tetapi  hanya kuasa berapresiasi dalam labirin hati yang teramat rahasia. Konflik itu tak bisa dengan liar dan atbitrer dikisahkan untuk khalayak,dan deadline. Karena  segalanya merupakan senandung hati yang kian ronta untuk memilah dan memilih  yang disodorkan untuk diagendakan. Ujungnya menjadi jentik-jentik yang tak berarti diantara kegamangan yang senantiasa
meronta ingin lepas dari simpul-simpul yang melilit dengan erat.Simpul itu  kiat erat walau telah lama dibuka dengan upaya, tetapi kini terurai sendiri tanpa tendensi yang signifikan. Ya  …semua bagian-bagiannya telah mampu menjadi notulen yang tanpa titah,sensibel,tersistem, dan akurat untuk membaca peta yang ada.
Masihkah konflik itu berorasi  ? Dengan keutu­han yang ego ? Dengan suka cita ? Dengan kewenangan ? Dengan tendensi ? Konflik itu lebih tertata , tertib, dan tak akan mungkin amburadol dengan membolak-balikan sistematikanya. Karena apa yang telah tertata, mustahil  akan keteter oleh sistem yang bukan pada tempatnya.Kuasakah hati untuk menja­dikan bagian- bagian yang lain lebih layak untuk diselamatkan, layak untuk tidak dianaktirikan, layak untuk mendapatkan rekor, dan layak diko­mersial-kan.Tetapi hati ini kadang ego dan apatis, karena telah ditoreh oleh sembilu yang kian perih dan radam.   Saya lebih suka kebena­ran meskipun pahit, daripada kebohongan yang teramat manis,’  Shakira, penyanyi asal Kolombia.Dan membohongi kata hati akan  menyuburkan kebohongan yang berkontinyu.
Padahal telah terpaparkan semuanya dalam setiap moment yang sakral, telah kubisikan disetiap hati yang seikrar dan telah kukadokan untuk hati yang amat mengerti kondisi yang tersirat… agar semuanya tidak menjadi tema yang amat galau seantero.Kadang  hati kian subjektif dan temporal ketika memandang audien dengan keanehan yang luar biasa anekdot dan tawar. Tetapi lama-kelamaan menjadi kisah nyata tanpa sutradara, tanpa naskah dan tanpa ending sama sekali. Ataukah temanya terlampau ragam diselaraskan dengan tokoh yang diperankan. Mungkinkah  estetika tanpa maestro …. Konklusinya terlintas, hati itu tidak realis dan konsisten dengan tilas awal.
Entah  kali yang ke berapa renungan itu menyapa lagi, ya …entah  kali  yang keberapa   kini menyapa lagi tanpa batas, arah, dan paripurna. Renungan itu tidak  akan mencapai finis dan menemukan jawaban yang dicari, malah berkembang menjadi prosa yang fenome­nal dan layak dilakonkan. Tak dianggap seperti­nya sangat disayangkan  ketika terlewati begitu saja, tetapi ketika sudah terlewatkan seakan menyimpan pembelajaran yang layak dijadikan bagian dari edisi  renungan yang berarti. Renungan itu kian berakar hingga mencapai finis sedetik, setelah itu kian tabah melilit dan   berantai, sehingga yang ada adalah cakrawala yang menanti estafet selanjutnya. Ya…seakan menjadi lembaran yang tertata dalam memori yang tidak kuasa  terbaca oleh siapapun ,kecuali yang Maha membaca segala pikiran yang senantiasa berkeluh diantara detik-detik  kehidupan yang sesungguhnya. Walau sebenarnya disodorkan untuk menjadi bahan apresiasi, jawabannya adalah setitik angan dan akan raib begitu saja diantara pengharapan yang terlampau tinggi. Ingin berorasi malah akan terbeberkan menjadi legenda yang anonim.
Haruskah melepas semua label agar semuanya terlepas dari boomerang yang kian merongrong seperti rang-rang ? Ataukah semuanya adalah imbas yang harus dihadapi ketika   segalanya tanpa cacat.Sekeliling sarat dengan warna yang dijeda oleh titik yang tidak disukai. Sementara renungan ini sepertinya menjadi sempurna ditengah lingkaran yang terapung. Untuk sesaat renungan itu terurai dengan sendirinya, tetapi esok tidak bisa terukur oleh indra. Semuanya samar dan tak menentu karena segalanya tergantung dengan cuaca yang tidak bisa diajak kompromi.
Mengapa bisa separah itu ? pertanyaan itu selalu menanti jawaban yang tak kunjung tertutur. Haruskah hati divonis dan didikte, padahal belum terdeteksi kesalahan apa yang telah tertoreh dari hati yang kian idealis tanpa batas.   Satu hal yang paling sulit dalam hidup adalah memiliki kata-kata dalam hati, tapi tidak bisa mengucapkannya,’ James Earl Jones, aktor Amerika Serikat   ‘Ada dua cara untuk meng­hadapi kesulitan, Anda mengubah kesulitan itu atau Anda mengubah diri sendiri untuk meng­hadapinya,’ Phyllis Bottome, novelis Inggris. Dan tidak ada kesulitan yang tidak bisa diselesaikan, Saidin, S.Pd M.Pd Kasek SMA Negeri 1 Bolo.
Esai itu bukan lagi menjadi topik yang heboh untuk diagendakan oleh tataran hati yang terlampau apik untuk memaknai cerita yang tidak mampu dimaknai dengan objektif…. Bijaksana dan realis adalah  langkah luar biasa yang menjadi pengharapan, karena telah terpaten  seutuhnya  tanpa harus  tertatar­kan.Tak kuasa berekspresi dalam lilitan benang-benang yang terbalut dengan kamuflase dadakan.Kini hati ini begitu  superior mematok seluruh organ untuk senantiasa mensuplai seluruh rasa yang kian tenggelam oleh naluri yang kian rakus. Kadang hati terenyuh dengan sentilan-sentilan yang tidak diresponsif, atau hati malah ngakak dengan sarkas.
Alternatif terbaik adalah memilih untuk senantiasa bersenandung merenungi segalanya daripada dipercayakan kepada organ-organ yang senantiasa bertendensi,  segalanya tanpa korsase pemanis ,tanpa mafela, dan tanpa  kebohongan yang tertunda .Karena apa yang direnungkan senantiasa tertitip dengan amanah, terjaga tanpa dusta dan tidak tertata dengan ambisi musimam.Haruskah dipaksa untuk senantiasa objektif menyikapi ocehan yang tidak bermutu. Semuanya terukir dan tereksploitasi dari ketidakjujuran yang sengaja dikerdilkan. Mengapa harus mencetak rival untuk sesuatu yang tidak memiliki arti. Anggaplah segalanya sebagai intermezo melipur lara.
Tetapi ketika ingin direlevankan semuanya harus setapak lebih maju agar lebih memiliki sesuatu yang hampir mirip dengan cita-cita bersama.   Orang yang tidak bisa mengubah cara berpikir tidak pernah mampu mengubah kenyataan dan tidak akan pernah bisa,’Anwar Sadat, Presiden Mesir. Orang-orang kreatif termotivasi oleh keinginan untuk maju, bukan oleh keinginan untuk mengalahkan orang lain,Ayn Rand Novelis Amerika.
Ku dapat menangkap segalanya dari setiap yang tersirat dan hanya mampu terdeteksi oleh sesama cita.Adakah yang lebih berarti dan memahami dari kebersamaan yang membawa kemaslahatan ? Tanpa dituturkan  semuanya telah menjadi kisah yang bermakna sepanjang sejarah yang terlewati.Indah nian perjalanan ketika semuanya ada rahasia yang terlampau liku untuk dicerna bersama dalam cita-cita yang sakral.   Saya tidak berharap menjadi segalanya untuk setiap orang, saya lebih suka menjadi sesuatu untuk seseorang,’ Javan, ilmuwan kelahiran Iran penemu teknologi gas laser.Dan pengharapan yang tertinggi adalah ketika semua yang lakoni  bisa berarti, dan bermanfaat untuk semua… Amin.

Pemerhati pendidikan dan budaya
Mengajar di SMA Negeri I Bolo Bima

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.