-->

Notification

×

Iklan

Forum Komunikasi Kehumasan Poltekpar Gelar Diskusi Kepariwisataan di Desa Wisata Bilebante

Sunday, March 19, 2023 | Sunday, March 19, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-08-26T02:18:42Z
Diskusi Kepariwisataan yang digelar oleh Forum Komunikasi Kehumasan Poltekpar Lombok di Desa Wisata Hijau Bilebante Lombok Tengah, Sabtu 18 Maret 2023.





Mataram, Garda Asakota.-

 


Forum Komunikasi Kehumasan Politeknik Pariwisata Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menggelar diskusi tentang pengembangan kepariwisataan di Desa Wisata Hijau Bilebante Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu 18 Maret 2023.

 


Dibuka secara resmi oleh Direktur Poltekpar Lombok, Herry Rachmat Widjaja. Acara diskusi juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, H Lendak Jayadi, sekaligus bertindak sebagai pembicara, Direktur Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Pancingan atau Desa Wisata Hijau Bilebante, Fahrul Izam, perwakilan Wartawan dari Forum Kehumasan Poltekpar, Baiq Yana Rosita, dan moderator acara diskusi, Suparman.

 


“Kegiatan kehumasan Poltekpar Lombok ini dirancang khusus oleh kami dan dilakukan dua (2) kali dalam setahun yakni diawal tahun dan diakhir tahun. Diakhir tahun lalu, kami sempat berkumpul bersama rekan-rekan media disebuah hotel di Mataram dan tercetus sebuah gagasan agar acara diskusi bisa dilaksanakan di destinasi wisata,” ungkap Herry Rachmat Widjaja dihadapan puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kehumasan Poltekpar Lombok.

 


“Pemilihan Desa Wisata Bilebante sebagai lokasi diskusi salah satu pertimbangannya karena tempat ini sangat sejuk,” sambungnya

 


Dalam mengembangkan pariwisata, Poltekpar Lombok mengacu kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni penyelenggaraan pendidikan kepariwisiataan dengan empat program studi yakni Perhotelan terdiri dari Divisi Kamar, Tata Hidang dan Seni Kuliner.

 


“Penyiapan sumberdaya manusia untuk dapat berkiprah di Industri Perhotelan. Selain itu ada juga Program Studi Pengaturan Perjalanan atau yang sudah berubah nomenklaturnya menjadi Usaha Perjalanan Wisata,” terangnya.

 


Program Studi baru yang tengah dipersiapkan adalah Destinasi Pariwisata, yaitu program studi yang berkaitan dengan penyiapan sumberdaya manusia untuk pengembangan destinasi pariwisata, desa wisata, pengembangan homestay dan pengembangan lainnya.

 


Selain itu, Poltekpar Lombok juga tengah menyiapkan program studi Special Event atau event khusus yakni penyiapan sumberdaya manusia yang handal dalam menghadapi event-event khusus seperti MXGP, MotoGP, Peresean, Meeting, Konferensi, dan lain sebagainya.

 


“Serta program studi S2 Terapan Pariwisata bagi para sarjana S1 yang ingin mendalami lagi ilmu kepariwisataannya,” kata Herry.

 


Selain penyelenggaraan pendidikan, Poltekpar Lombok juga menyelenggarakan penelitian-penelitian terkait kepariwisataan dan terakhir adalah pengabdian kepada masyarakat.

 


“Salah satunya adalah memberikan pendampingan kepada Desa Wisata dan pemberian Bimbingan Teknis kepada masyarakat yang membutuhkan,” timpalnya.

 


Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, H Lendak Jayadi, mengungkapkan dari 139 Desa/Kelurahan sebelum pemekaran. Ada 61 Desa Wisata yang telah dicanangkan oleh Bupati melalui SK Nomor 63B Tahun 2020.

 


“Dalam rangka peningkatan kelembagaan atau Institusi Desa Wisata, kami melakukan assessment di tahun 2022 ini sehingga ada 38 Desa Wisata yang terassessment. Dari 38 Desa Wisata ada 4 Desa Wisata yang mandiri, ada 5 yang maju, ada 9 yang berkembang, ada 11 yang rintisan dan ada 9 yang berada dibawah rintisan dan memiliki potensi untuk menjadi rintisan. Sementara sisanya yang 23 dari 61 tersebut nilainya rintihan,” ungkapnya.

 


Berdasarkan assessment tersebut menunjukan potret atau dinamika Desa Wisata itu yakni ada yang sensitif menangkap peluang dan ada juga yang lemah.

 


“Karena itu potret dua tahun Desa Wisata patut menjadi instrumen kurikulum belajar kita untuk meningkatkan Desa Wisata menjadi salah satu nomenklatur pembangunan desa dan dalam rangka membangun kemandirian masyarakat berbasis desa,” kata Lendak Jayadi.

 


Ditahun 2020, dari 61 Desa Wisata itu ada 1 Desa Wisata yang masuk kedalam kategori maju. Dan dalam perjalanan 2 tahun, ada 4 Desa Wisata yang bisa menjadi mandiri yakni mandiri secara institusi kelembagaan dalam bentuk membangun Pokdarwis, Bumdes, melakukan pergerakan, membuat branding, membuat paket digitalisasi, membangun homestay, membangun kerjasama dengan travel agent dan membangun sumberdaya manusianya.

 


“Sehingga secara kelembagaannya bisa menjadi mandiri,” ujarnya.

 


Sementara itu, Direktur Pokdarwis Desa Wisata Hijau Bilebante, Fahrul Izam, menuturkan bahwa sebelum Desa Bilebante terkenal dengan Desa Wisatanya, Desa Bilebante terkenal dengan aktivitas tambang pasir.

 


“Lokasi wisata pancingan ini dulunya adalah areal tambang pasir dengan tingkat kedalaman galian sekitar 10 meter. Kemudian dari bahu jalan kondisinya cukup tinggi dulu. Dengan aktivitas tambang itu areal jalan menjadi rusak dan banyak debu beterbangan sehingga Desa Bilebante itu juga dikenal dengan sebutan Desa Debu,” kata Fahrul.

 


Tahun 2006, melalui kebijakan Kepala Desa Bilebante saat itu menerbitkan ‘Awiq-awiq’ atau peraturan tentang tambang dan tahun 2014 lahir Undang-undang tentang Desa yang menekankan empat prioritas dana desa yaitu pertama untuk pemuda, kedua untuk Bumdes, ketiga bantuan untuk produk ekonomi Desa dan keempat untuk membangun desa wisata.

 


Awalnya pihaknya mengaku tidak percaya Desa Bilebante menjadi Desa Wisata. Karena selama ini desa wisata itu identik dengan wilayah pantai, bukit, air terjun, dan hutan yang indah.

 


Namun ternyata, Desa Wisata itu adalah menjual aktivitas keseharian masyarakat atau keaslian desa tersebut yang terbingkai dalam keramahtamahan dan ketenangan masyarakat, makanas khas serta keaslian budaya masyarakat.

 


“Nah Desa Wisata dalam pemahaman kami adalah bagaimana kita bisa menjaga keaslian masyarakat tersebut dan bagaimana ketika orang hadir berkunjung ke Desa Wisata ini yang dihadirkan itu adalah paket bukan tiket,” kata Fahrul.

 


Pihaknya mengaku dalam mengembangkan Desa Wisata Bilebante tidak mengejar kuantitas kunjungan wisatawan tetapi kualitas layanan.

 


Sehingga menurutnya pihaknya lebih banyak menawarkan paket wisata kepada para wisatawan yang didalamnya sudah terhitung semua rincian biayanya mulai dari saat penyambutan, welcome drink, ada layanan tour dengan menggunakan ATV Motor ke persawahan warga, ada gazebo dan berugak, ada kolam penangkapan ikan, dan pengajaran menari, permainan gansing, dan homestaym

 


“Semakin banyak aktivitas yang dilakukan di Desa Wisata itu.maka nilainya semakin tinggi,” ujarnya.

 


Wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Desa Wisata Bilebante ada yang berasal dari Jerman, Perancis, Spanyol, Kanada.

 


“Dan rata-rata mereka menginap seminggu sampai dengan satu bulan,” sebutnya.

 


Perwakilan wartawan, Baiq Yana Rosita, berharap agar pelibatan media dalam membangun destination image kedepannya harus lebih ditingkatkan oleh para pemangku kepariwisataan.

 


“Selain membangun destination image. Tugas media dalam mengkritisi dan mendorong pemenuhan infrastruktur kepariwisataan oleh para pemangku kebijakan juga sangat diperlukan. Sehingga langkah antisipasi dan penanganannya dapat segera dilakukan,” singkatnya. (GA. Im/Ese*)

×
Berita Terbaru Update