-->

Notification

×

Iklan

Komisi II Pertanyakan Strategi Atasi Ancaman Kirisis Pangan, DKP: Patut Disyukuri, NTB Sentra Pangan Indonesia

Thursday, November 10, 2022 | Thursday, November 10, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-10T00:22:44Z

 

 

Anggota Komisi II DPRD NTB, Akhdiansyah, (Kanan), Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Abdul Azis. (Kiri/Ist*).



Mataram, Garda Asakota.-


Komisi II DPRD NTB mempertanyakan strategi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam mengantisipasi ancaman krisis pangan di tahun 2023.

 

Pasalnya, dunia saat ini makin dihantui krisis pangan akibat perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

 

Lebih dari itu dunia juga khawatir krisis pangan dapat memicu gerak inflasi, termasuk bagi Indonesia lantaran distribusi komoditas terhambat.

 

Krisis pangan diperkirakan akan menghampiri dunia dalam 8-12 bulan ke depan. Selain gangguan rantai pasok, krisis ini diperparah dengan persediaan pupuk dunia.

 

Komisi II DPRD NTB mengingatkan pemprov NTB mesti segera menyusun road map program ketahanan pangan. Pihaknya menilai, memperkuat ketahanan pangan harus menjadi prioritas utama.

 

Keresahan itu disampaikan anggota Komisi II DPRD Provinsi NTB yang salah satunya membidangi urusan pertanian, Akhdiansyah.

 

Menurutnya Pemprov NTB harus menjadikan isu ancaman krisis pangan ini sebagai perhatian serius.

 

"Sampai sejauh ini saya tidak melihat ada langkah-langkah yang dilakukan pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi kerawanan pangan ini. Kerawanan Pangan ini ancaman serius, kalau tidak kita antisipasi dengan baik, kita bisa kolaps," ujar Akhdiansyah pada Jumat, (4/11/2022), lalu.

 

Lemahnya skema ketahanan pangan diungkap politisi PKB itu, pada saat Komisi II melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan OPD mitra mereka dalam beberapa hari ini terkait dengan pembahasan program kegiatan dan anggaran untuk APBD tahun 2023.

 

Akhdiansyah melihat tidak ada satupun program di OPD yang mengarah pada penguatan ketahanan pangan secara serius.

 

"Pemaparan yang disampaikan OPD masih normatif-normatif saja. Mereka hanya bicara normatif pada program kegiatan reguler, tapi tidak ada satupun inovasi langkah dan terobosan yang direncanakan untuk mengantisipasi kerawanan ketahanan pangan kita," ungkapnya.

 

Diakuinya memang sampai sejauh ini, NTB masih dalam level aman untuk sektor ketahanan pangan.

 

Akan tetapi dia berharap NTB tidak nyaman dengan kondisi saat ini, karena isu ancaman krisis pangan tersebut merupakan ancaman nyata dunia yang juga pastinya dampaknya akan ikut dirasakan sampai NTB.

 

"Kita harapkan ancaman kerawanan pangan ini tidak dianggap main-main, tapi harus menjadi pembahasan serius. Seandainya kerawanan pangan ini sampai terjadi ke daerah kita, lalu planning kita apa, dari penjelasan OPD kita belum ada langkah antisipasi sama sekali," ujarnya.

 

Ditegaskannya bahwa isu kerawanan pangan ini merupakan ancaman serius dan sangat berpotensi dihadapi NTB.

 

Lebih-lebih dengan kebijakan pengurangan alokasi pupuk subsidi pada daerah-daerah lumbung pangan, turut menjadi penyebab penurunan produksi hasil pertanian.

 

"Program-program lain mesti dieliminasi dulu. Atau minimal dikurangi porsinya. Misal industrialisasi yang dulu volumenya 10, dikurangi jadi 5 lah," ungkapnya.

 

Menanggapi kekhawatiran Komisi II ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Abdul Azis, menjelaskan, Provinsi NTB merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang merupakan daerah sentra pangan.

 

“Kita patut  bersyukur karena NTB masuk daerah sentra pangan dan bisa menjadi daerah yang mengirim atau menyuplai kedaerah lain seperti ke NTT 21.000 Ton, Sumatera Selatan 3.000 Ton, Sumatera Utara 3.000 Ton, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Bali,” jelasnya.

 

Menurutnya, khusus gabah atau beras dan jagung, berdasar prognosa terhadap ketersediaan beras, NTB masih surplus dan cukup untuk kebutuhan 10 s/d 11 bulan ke depan.

 

“Untuk itu tidak ada masalah dengan kebutuhan bahan pokok terutama beras di NTB,” ujarnya.

 

Namun demikian, lanjutnya, Pemda Provinsi tetap berstrategi untuk  menjaga ketahanan pangan selain peningkatan produksi melalui yang terkait juga melalui Penganekaragaman Pangan.

 

“Karena bukan hanya nasi satu satunya sumber pangan lokal tetapi dapat dilakukan penganekaragaman melalui program B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman ) yaitu Pekarangan B2SA dan Dapur B2SA. Namun demikian tentu disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah saat ini,” pungkasnya. (**)

×
Berita Terbaru Update