-->

Notification

×

Iklan

Alokasi Belanja Mitra Komisi II Berkurang TA 2023, Satriawandi: Penurunannya Sampai 30%

Wednesday, November 9, 2022 | Wednesday, November 09, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-11-09T02:13:03Z

 

Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Satriawandi.




Mataram, Garda Asakota.-


Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Satriawandi, mengungkapkan hampir semua mitra Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Komisi II, rata-rata diproyeksikan akan mengalami penurunan belanja di Tahun Anggaran (TA) 2023.


“Ini diakibatkan oleh karena celah fiskal kita di TA 2023 mengalami penurunan akibat target pendapatan yang tidak tercapai,” ungkap politisi dari Partai Golkar ini kepada wartawan, Senin 07 November 2022.


OPD yang menjadi mitra Komisi II itu ada 13 OPD diantaranya  seperti Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pariwisata, Pertanian dan Perkebunan, Peternakan, Ketahanan Pangan, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kelautan dan Perikanan dan Dinas Koperasi.


“Rata-rata mengalami penurunan belanja dengan rata-rata persentasi penurunannya yang bervariasi kisaran 30%,” terangnya.


Padahal menurutnya tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah di tahun 2023 cukup besar mulai dari adanya isu soal akan terjadinya krisis global, resesi ekonomi, inflasi, dan devisit pangan.


“Menghadapi isu itu semestinya Pemerintah harus sigap menyiapkan langkah dan strategi antisipasi untuk menghadapi kemungkinan isu-isu yang bisa saja terjadi di tahun 2023,” ungkapnya.


Akan tetapi, pihaknya mengaku pesimis langkah dan strategi itu bisa disiapkan oleh Pemerintah ketika melihat adanya penurunan anggaran belanja di rata-rata OPD Mitra Komisi II.


“Kami pesimis Pemerintah bisa sigap menghadapi kemungkinan terjadinya kondisi demikian di tahun 2023 karena dari sisi program dan kegiatannya menurun akibat adanya pengurangan belanja ini,” cetusnya.


Dengan adanya kondisi demikian, pihaknya berharap dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) TA 2023, hal-hal yang demikian harusnya menjadi prioritas yang harus diperhatikan ketimbang menganggarkan program-program lain yang tidak memiliki daya ungkit untuk mengatasi dan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang dikhawatirkan terjadi di tahun 2023.


“Oleh karenanya kalau kita semua ingin melihat kondisi ekonomi kita cepat pulih kembali, maka harusnya pemerintah harus dapat lebih fokus lagi terhadap seluruh OPD yang bermitra dengan Komisi II ini dengan mengalokasikan anggaran yang memadai,” harapnya.


Anggota Komisi II, Akhdiansyah, mengaku pesimis capaian target industrialisasi dapat tercapai ketika budget anggaran yang disiapkan tidak memadai.


“Saya sih jelas pesimis apalagi ketika krisis pangan itu betul-betul terjadi di tahun 2023. Tidak ada gambaran anggaran yang jelas untuk memaksimalkan industri seperti keinginan Dinas Perindustrian ingin memaksimalkan industri gula. Kita minta hal itu diprioritaskan dan dikonsultasikan kembali di Komisi II dan Badan Anggaran,” jelasnya.


Pihaknya juga berharap agar Pemerintah dapat mengurangi prioritas anggaran yang tidak terlalu urgen dan kembali memprioritaskan anggaran untuk hal-hal yang lebih prioritas.


“Kurangi anggaran belanja tidak produktif seperti zero waste dan beasiswa, kemudian arahkan ke yang lebih prioritas seperti industrialisasi dan penanganan pangan,” sarannya.


Anggota Komisi II lainnya, Jalaludin, berharap agar dalam pembahasan KUA PPAS tahun 2023, Pemerintah dapat lebih memprioritaskan untuk membenahi mulai dari hulu sehingga ekonomi NTB kedepannya itu berada dalam kondisi yang baik.


“Sebab dari asumsi yang dilihat tahun 2022, alokasi anggarannya cukup signifikan. Tapi di tahun 2023, alokasi anggaran yang diberikan itu terjun bebas sampai berkurang 30 persen,” pungkasnya. (GA. Im*)

×
Berita Terbaru Update