Sejumlah Warga Relokasi Banjir Kadole Menjerit Kesulitan Air, Terancam Balik Rumah

 

Sejumlah Warga Relokasi Banjir Kadole Menjerit Kesulitan Air, Terancam Balik Rumah

 

Kota Bima, Garda Asakota.-

 

Sejak pertengahan bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriyah kemarin hampir semua warga relokasi banjir Kadole Kelurahan Oi Fo'o Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima mengeluhkan tidak tersedianya air bersih sebagai kebutuhan utama sehari-hari.  Air Bor yang disediakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bima hingga saat ini justru tak berfungsi sama sekali. 


Karena kebutuhan vital tidak terpenuhi dengan baik, jadilah pembangunan rumah relokasi banjir yang menghabiskan anggaran ratusan Milyar tersebut sungguh berkesan menyengsarakan warga yang menghuni sejumlah rumah relokasi banjir tersebut. 


"Bukannya bahagia, justeru kondisi kami di sini makin parah saja pak. Kami benar-benar kesulitan air bersih, masa kita disuruh tinggal di lokasi yang gersang kaya begini?. 


Kalau kami mau mandi, mencuci serta memasak, kita harus ambil air di luar sana menggunakan jirigen," keluh salah satu warga penghuni rumah relokasi tersebut, Rosida warga asli Kelurahan Dara lingkungan Dara Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima. 


Ditanya apakah tak ada fasilitas air yang disediakan khusus oleh pemerintah kota? Rosida mengaku di kawasan itu ada air bor yang memang disediakan pemerintah, namun semua itu tak berfungsi sama sekali.


"Lucu saja pak, dimana sih caranya mereka kok bor air di atas bebatuan alias tebing. Dari mana dasar pemikirannya bor air di atas tebing, logika dari mana mereka pakai?, tentu ini suatu hal yang aneh bin ajaib dilakukan pemerintah di sini," kesalnya. 


Akibat perencanaan pemerintah yang dinilainya tidak matang, kata dia, justru berdampak pada kesulitan hidup yang dihadapi masyarakat.  Tujuan utama mereka dipindahkan ke sana untuk menghindari banjir, tapi malah perumahan dihantam banjir lagi.


"Jika saja warga yang tinggal di lokasi Kadole saat ini dibekali fasilitas yang baik seperti ketersediaan air dan drainase yang layak, tentu warga sangat senang dan bersyukur. Akan tetapi justeru kami di sini mendapatkan kesulitan," sebutnya.

 

Penghuni lainnya, Akna, warga lingkungan Dara yang tinggal di rumah relokasi Kadole meminta pemerintah agar dapat memperhatikan kondisi kehidupan warga di kawasan relokasi. Karena mereka di sana benar-benar merasa kesulitan air bersih. "Kami tak bisa hidup tanpa air," keluhnya. 


Ditanya apakah ada niat untuk pindah kembali ke rumah tinggal sebelumnya jika kondisinya terus menerus seperti ini?. Akna mengakui bahwa tidak menutup kemungkinan dirinya bersama warga lain akan pindah dan meninggalkan rumah relokasi. Dengan alasan benar-benar merasa kesulitan air. 


"Makanya, jika pemerintah punya niat baik untuk kami yang tinggal di sini. Tolong untuk diperhatikan, karena kami juga butuh hidup sehat layaknya seperti bapak-bapak di bawah kota sana. Wajar jika orang pindah kembali ditempat tinggal yang sebelumnya," timpal warga lainnya, Fahrudin warga asli Kelurahan Rontu.



Berdasarkan pantauan langsung wartawan, bukan hanya warga relokasi dua saja (Kadole=red) yang mengeluhkan kondisi fasilitas air bersih. Justeru kondisi lebih parah dialami warga yang menghuni rumah relokasi satu. 


Pasalnya air bersih di sana lumpuh sama sekali. "Jika ingin hidup lama tinggal di rumah relokasi yang disediakan pemerintah maka harus pintar-pintar sendiri untuk berinisiatif, artinya mencari sumber air untuk kebutuhan setiap harinya," ujar Herman. 


Dia juga mengaku, sudah dua tahun lamanya menikmati rumah relokasi ini, namun merasa tidak nyaman sekali. "Saya mau tinggalin rumah ini, tapi kasihan kalau rumah ini rapuh," keluhnya. 


Ditanya adakah niat untuk pindah ke rumah asal? Jika persediaan pemerintah terus seperti ini tidak menutup kemungkinan ia akan meninggalkan rumah relokasi tersebut. "Apa gunanya membangun bak penampungan air yang besar jika tak ada fungsinya untuk warga yang tinggal di sini." kesalnya (GA. 355*)

Post a Comment

Previous Post Next Post