Header Ads

Dewan Menuai Cibiran, LUTFER Ditagih Janjinya Terkait Pembebasan Lahan Pelindo

Reses dewan Dapil Asakota di Kelurahan Melayu.

Kota Bima, Garda Asakota.-

Sorotan dan kritikan mewarnai jalannya agenda reses anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota hari terakhir di Kelurahan Melayu, Rabu sore kemarin (9/9), yang dipusatkan di lapangan eks kantor Polsek Asakota lingkungan Tolobali.

Bukan hanya mengarah pada duta rakyat, bahkan kritikan tersebut juga dialamatkan kepada Pemkot Bima maupun Lurah setempat yang turut hadir mendampingi para anggota dewan.

Pantauan langsung wartawan, sekitar 1 jam setengah berlangsungnya reses, secara beruntun para Wakil Rakyat dan Lurah dicecar kritikan warga seperti yang disampaikan oleh seorang warga Melayu, Abdul Gani.

Mengawali penyampaian aspirasinya, ia merasa malu dengan kondisi kelurahannya saat ini yang dilanda penyakit sosial seperti maraknya peredaran Narkoba dan Tramadol.

"Sekarang Narkoba telah merajalela, dulu yang kami tahu Melayu punya nama baik dan membanggakan. Sekarang justru tercoreng karena urusan narkoba

Pemerintah kelurahan juga jangan diam saja, dipanggil itu pemilik kos-kosan agar tidak sembarang masukin orang, karena ditakutkan akan membawa dan menjual narkoba,” katanya.

Bahkan diakuinya, nama Melayu sekarang lebih di kenal sebagai kampung Tramadol. Bahkan dikatakannya, sematan ini sudah terdengar sampai ke Jogyakarta.

Karenanya pihak kelurahan dimintanya untuk merazia orang-orang yang keluar masuk kos-kosan agar image kampung Melayu sebagai kampung Tramadol dapat dihilangkan. "Karena image itu sudah sampai ke Jogya, ini yang harus kita kembalikan marwah kampung Melayu," timpal warga lainnya H. Idris.

Selain itu mantan Sekcam Asakota tersebut juga menyoroti berbagai hal lainnya terkait janji-janji politik diantaranya menagih janji pemerintahan sekarang, LUTFER yang akan menuntaskannya persoalan pembebasan lahan Pelindo yang dikatakannya sampai hari ini tidak ada realisasinya.

"Utamanya urusan dengan Pelindo karena sampai hari ini warga yang tinggal hanya mengantongi hak pakai bukan hak milik. Lalu sampai kapan kondisi tersebut berlangsung?," tanyanya.

Bukan hanya itu, H. Idris juga mengusulkan beberapa keluhan pembangunan lainnya seperti renovasi drainase dari bengkel Ahass sampai TPU Belanda di Rt. 03 yang diminta harus segera di laksanakan karena kondisinya kumuh.

Kemudian usulan hotmiks jalan lingkungan di Rt. 03, dan pesoalan KBM agar anak-anak tidak makin bodoh. "Kami minta supaya sekolah-sekolah dibuka kembali, pendidikan anak-anak harus terus di laksanakan," pintanya.

Sorotan berikutnya datang dari warga Rt. 02, Rahman alias Garong. Ia menilai drainase rumah tangga itu jauh lebih tinggi daripada drainase primer, kemudian menyorot keberadaan proyek relokasi drainase yang tidak bermanfaat sama sekali karena airnya masih saja tersumbat.

"Saya juga meminta agar fungsi kontrol dewan dimaksimalkan lagi karena selama ini fungsi itu sama sekali tidak jalan. Dewan sama sekali tidak memiliki fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah eksekutif, seperti keberadaan proyek drainase dan pembangunan portal dan pos jaga, sekarang justru tidak berguna. Lantas, apa fungsinya dewan ini?,” cibirnya.

Rahman juga menyorot pembangunan drainase di lingkungannya. Karena kerja yang tidak becus, membuat warga sekitar merasakan dampaknya. “Drainase di RT 2 itu dipenuhi nyamuk, karena air tidak bisa keluar,” ungkapnya.

Seorang anak muda, Saihan warga RT 11 juga tampil garang di hadapan warga yang hadir Ia tidak henti-hentinya mengkritik perilaku wakilnya di Kelurahan Melayu. Bahkan ia menyentil, salah seorang wakilnya di legislatif lebih banyak mengurus kuda dari pada mengurus rakyat.

Merespon segala cibiran dan usulan warga, salah seorang anggota DPRD Kota Bima, Syamsuddin, memberikan apresiasinya. Menurutnya, semua usula, saran dan kritik tersebut, tentu akan menjadi cambuk bagi pihaknya untuk semakin menunjukan performa dan keperpihakan pada kepentingan rakyat.

Mengenai urusan narkoba, Duta PAN itu meminta agar memberantasnya harus melibatkan semua elemen masyarakat. Memberikan perhatian serius, dan melakukan pencegahan secara bersama-sama. “Jadi pada intinya, In Shaa Allah semua aspirasi tersebut menjadi atensi serius kami di dewan,” tegas putra asli Melayu ini. (GA. 003*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.