-->

Notification

×

Iklan

Partai Golkar dalam Lingkaran Kesultanan Bima

Tuesday, August 18, 2020 | Tuesday, August 18, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-08-18T09:33:30Z
Oleh; Siti Saodah


Semenjak berdiri Kesultanan Bima tanggal 5 Juli 1640, sudah ada 10 Bupati yang silih berganti memimpin tanah ‘mbari’ Kabupaten Bima. Sejak orde lama, orde baru sampai era reformasi, dominasi kepemimpinan Kabupaten Bima masih dipimpin oleh kader-kader berlambang pohon beringin yang dulu bernama golongan karya. Kepemimpinan kader-kader Partai golkar dilembaga eksekutif maupun yudikatif tidak terlepas dari sejarah partai golkar merupakan partai yang direstui oleh kesultanan bima kala itu.

Sehingga keterikatan sejarah membawa banyak dari keturunan Kesultanan Bima memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut. Sejak menyatakan bergabung resmi dalam bingkai Negara kesatuan NKRI tanggal 22 November 1945, partai golkar seolah sudah menjadi kendaraan politik kesultanan dalam merepresentasikan pandangan politik dikancah perpolitikan daerah maupun nasional.

Sejak Bupati pertama Kabupaten Bima sultan Abdul Kahir II periode 1950-1967 partai Golkar seperti mendapat tempat tersendiri dilingkaran kesultanan bima serta masyarakat bima pada umumnya. Terbukti dalam tiap kontestasi pilkada calon-calon yang diusung partai golkar selalu menjadi kampiun dalam pertarungan tersebut.

Pada perhelatan pemilihan langsung pertama kali di gelar pada pilkada bima tahan 2005 pada saat itu melawan petahana H. Zainul Arifin, pasangan yang diusung golkar justru mampu memenangkan pertarungan dengan mengalahkan incamben.

Kemenganagan  Ferry Zulkarnain, ST ketika itu sesuatu yang sulit mengingat kuatnya incamben, namun sejarah mencatat calon yang merupakan Jena Teke (Sultan) Bima yang diusung oleh Golkar tersebut mampu mencatatkan namanya sebagai bupati pertama yang dipilih secara langsung oleh masyarakat bima.

Kini sudah empat kali pemilihan langsung telah digelar, namun keberpihakan selalu mengitari calon yang diusung oleh partai golkar untuk menduduki jabatan nomor  satu di Kabupaten Bima.

Bila pada perhelatan pemilihan kepala daerah periode 2015-2020 Hj. Indah Damayanti Putri yang di usung Golkar kala itu bersama partai  Gerinda dan Hanura mampu menumbangkan pasangan incamben yakni H. Syafrudin-Masykur yang diusung Partai PND, PDIP, Partai Demokrat. Sementara itu, pasangan Ady Mahyudi-Zubair yang diusung Partai PAN, PKB dan PBB  juga harus mengakui ketangguhan calon yang diusung partai golkar tersebut.

Kini pada Pilkada Bima 2020-2025 dua pasangan yang pernah dikalahkan tersebut yakni H Syafrudin- Ady Mahyudi (Syafaad), mencoba peruntungan baru untuk mengejar kursi orang nomor satu di Kabupaten Bima.

Berbekal rekomendasi partai PAN dan menunggu kepastian SK Nasdem, pasangan tersebut mencoba melawan kembali calon yang diusung partai golkar bersama PPP, PBB, PKB dan gerindra. Pasangan lain yang kemungkinan akan bertarung melawan petahana adalah pasangan Dr. Irfan- Edison (IMAN) serta pasangan H. Arifin-Eka Indra Kumala Djuwita. Akankah keberuntungan pada pilkada 2020-2025 berpaling dari calon yang disusung Partai Golkar?

Fenomena ini tentu dapat dijawab dari indicator awal saat ini. Bila  memperhatikan komposisi partai yang berada di belakang HJ Indah Damayanti Putri-Dahlan (Dilan) dan komposisi perolehan partai-partai tersebut pada saat pemilihan diparlemen, diatas kertas ini semakin berat bagi pasangan lain menumbangkannya.

Asumsi tersebut diperkuat oleh fakta bahwa hasil survey yang beredar luas dimasyarakat oleh lembaga survey Indikator menunjukkan elektabilitas 53,6% petahana masih cukup tinggi.

Akar sejarah partai Golkar dan Kesultanan Bima dengan berbagai cerita yang mengiringi perjalanan tiap calon yang diusungnya di Pilkada Kabupaten Bima tentu ketangguhannya tidak akan luntur dalam waktu sekejap. Apalagi saat sekarang baik legislatif maupun eksekutif masih dikendalikan oleh partai golkar.

Patut menjadi catatan, Hj. Indah Damayanti putri yang merupakan permaisuri dari almarhum sultan bima sekaligus bupati Bima Fery Zulkarnain, ST periode 2005-2013 merupakan representasi dari silsilah kesultanan bima. Meski generasi telah berubah, bahkan ditengah modernisasi jaman, masih banyak generasi bima masih rindu dengan symbol-simbol kesultanan bima.

Tentu dengan berbagai catatan mentereng dari kandidat kesultanan bima yang disusung partai golkar, mampukah kedigdayaannya  tergoyahankan pada pilkada kali ini? Patut kita terus ikuti  fase demi fase perkembangan pilkada Kabupaten Bima tahun 2020-2025 untuk dapat mengetahui jawaban kelanjutan sejarah dari kandidat calon kesultanan bima yang diusung oleh kendaraan partai Golkar.*Pemerhati Politik Bima-Dompu

×
Berita Terbaru Update