Jumlah Santri Diragukan?, Lurah Ule Pending Sementara Insentif untuk Salah Satu TPQ


Lurah Ule saat pembagian insentif Imam, Marbot, Bilal dan Guru Ngaji, Kamis kemarin (28/5). 

Kota Bima, Garda Asakota.-

Insentif Imam, Marbot, Bilal dan Guru Ngaji di hampir semua Kelurahan se-Kota Bima kemungkinan besar telah di bagikan. Hanya saja, ditengarai keberadaan sebagian dari Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) di Kota Bima dipertanyakan baik dari sisi kelembagaan maupun dari sisi jumlah santrinya?.

Bahkan menurut informasi yang diperoleh wartawan, diantara penerima ada beberapa nama calon penerima yang masih di pending untuk sementara sembari memastikan data dan fakta lapangan untuk mengetahui kebenarannya. Karena ada diantara sebagian nama penerima telah meninggal dan ada pula TPQ yang jumlah santrinya sangat tidak rasional melebihi jumlah santri sebuah pondok pesantren.

Kondisi ini misalnya terjadi di Kelurahan Ule Kecamatan Asakota Kota Bima seperti yang disampaikan oleh Lurah Ule, Nursin, S. Sos, kepada Garda Asakota Kamis (28/5). Diakuinya, Kamis kemarin insentif Imam Marbot, Bilal dan Guru Ngaji telah dibagikan kepada para penerima yang namanya tercantum dalam data bagian Kesrasos Kota Bima.

Namun dari sekian banyak nama tersebut, kata dia, rupanya ada penerima yang telah meninggal dunia sejak 2 tahun lalu tapi namanya masih tercover. Selain itu, adapula TPQ yang jumlah santrinya menurut pihaknya tidak rasional di tengah kondisi pandemi Covid19 yang ditengarainya melebihi jumlah santri pondok pesantren yaitu sebanyak 372 orang.

"Karenanya meskipun nama TPQ tersebut ada, namun kami masih menyimpan insentif nama yang di maksud sembari menunggu data riil dari Kesrasos yang melakukan verifikasi faktual dan pemuktahiran data tahun 2019 lalu," terang Lurah.

Kata Lurah, kalau memang masih merujuk pada data Kesra kenapa masih keluar nama orang yang telah meninggal atau jangan jangan Kesrasos tidak turun lapangan untuk mengecek data faktual melainkan hanya terima data di belakang meja.

Belum lagi ada jumlah santri salah satu TPQ di kelurahan Ule yang jumlahnya mengalahkan jumlah siswa sekolahan sehingga insentif yang di terima pun mencapai angka belasan juta rupiah. "Ini bukan masalah berapa banyaknya jumlah santri, tetapi benarkah semua itu?," cetusnya.

Terpisah Kabagkesrasos Setda Kota Bima, H. Ahmad, S.Ag, MM., via ponselnya juga merasa kaget dengan jumlah santri sebanyak itu. Ia berjanji akan melakukan konfirmasi ke bagian pendataan. "Nanti kita tanyakan bagian Kesra yang melakukan tugas pemuktahiran data oktober 2019 lalu untuk mengecek mengenai kebenaran data itu," katanya.

Meski demikian, sepengetahuannya bahwa mengenai jumlah santri itu benar adanya. "Tapi sekali lagi untuk lebih jelasnnya, silahkan hubungi langsung Tim Pendataan Kesra yang menangani urusan tersebut," pungkasnya.

Sementara itu Tim Pendataan Kesrasos Kota Bima, Fitri Juniati, secara tegas membenarkan adanya jumlah santri di salah satu TPQ tersebut sejumlah 372 orang. Itupun saat ini, kata dia, pihaknya sedang melakukan rekapan karena angkanya kini bahkan sudah mencapai 400 lebih orang santri.

"TPQ tersebut rupanya tidak hanya menerima santri dari Kota Bima saja bahkan dari wilayah Kabupaten Bima pun justru yang paling banyak. Bukan saja dari kalangan anak anak yang di terima akan tetapi dari semua usia hingga lansia. Saya sendiripun belajar di situ dan ada juga jamaah lainnya," jelasnya.

Saat ini, sambungnya, sepanjang pendataan yang mereka lakukan telah memiliki bangunan dua lantai dengan empat ruang kelas belajar. Makanya, dia memastikan bahwa lembaga tersebut benar-benar memiliki santri yang banyak. "In Syaa Allah data yang kami berikan benar adanya," tegas Fitri. (GA. 003*)

Post a Comment

Previous Post Next Post