Dewan Dicap Gagal, Ini Reaksi Santun Anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota

Dewan Dicap Gagal, Ini Reaksi Santun Anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota
Syamsuddin Majid dan Qurbasari Zoel Samudra 



Kota Bima, Garda Asakota.-


Kegiatan reses anggota DPRD Kota Bima Dapil 3 Asakota yang berlangsung pada Sabtu pagi (14/12) di kelurahan Jatibaru Timur, menuai sorotan dan kritikan dari beberapa orang warga, karena dianggap tidak mampu menjalankan amanah sebagai representasi rakyat.


Tokoh Pemuda Jatibaru Timur, Qurbasari Zoel Samudra alias Zoel, secara terbuka menyampaikan keluhan dan mengkritisi terhadap hasil kinerja anggota dewan Asakota selama ini. Menurutnya, kalau mencermati historis sejarah realisasi perwujudan kinerja anggota dewan sebelumnya merupakan hal yang paling konyol.


"Kenapa saya katakan demikian, karena menurut saya tidak ada implementasi nyata dari tupoksi teman-teman dewan sebagai representasi warga Asakota yang telah dilakukan khususnya untuk Jatibaru Timur dan apa yang kami sampaikan ini bisa dijadikan referensi peninjauan kembali terhadap tupoksinya sebagai wakil rakyat," katanya.


Jangan sampai, Kata Zoel bahwa reses yang dilakukan setiap tahun hanya bersifat seremonial semata karena reses itu sejatinya merupakan waktu luang para wakil rakyat untuk berbaur dengan konstituennya menjaring aspirasi. 


"Akan tetapi lagi-lagi saya katakan bahwa belum nampak secara konkret dan nyata perwujudan daripada penyampaian aspirasi masyarakat tersebut yang diimplementasikan secara nyata oleh anggota dewan terutama masalah demokrasi ekonomi kerakyatan. Sekali lagi secara perwujudan dan manifestasi belum ada yang dilakukan oleh dewan Asakota di wilayah kelurahan Jatibaru ini, karena itu saya nyatakan bahwa anngota dewan Asakota periode sebelumnya telah gagal mengemban amanah masyarakat Asakota," cetusnya.


Menyinggung tentang masalah ekonomi kerakyatan, sejauh ini mana sih sebenarnya riset dan penelitian anggota dewan terkait dengan kondisi sosial masyarakat kita. Apakah anggota dewan mengetahui bahwa didalam masyarakat kita ada lembaga masyarakat yang harus di berdayakan dan dikembangkan.


"Harapan saya adalah bagaimana anggota dewan ini dapat mencetus sebuah peradaban baik aspek pembangunan ekonomi kerakyatan, pendidikan dan pertanian.


Karena itu seharusnya ada legal standing atau keterikatan hukum perjanjian antara dewan dan masyarakat agar ketika dewan sebagai wakil rakyat tidak mampu mengakomodir apa yang menjadi kebutuhan masyarakat melalui penyampaian aspirasi semacam ini bisa dituntut. 

"Sebab kalau seperti ini terus maka ketimpangan itu akan terus terjadi," tegasnya.


Sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Zoel, Arif Ramadhan juga menganggap bahwa agenda reses dewan selama ini hanya bersifat seremonial semata sebagai sarana menampung aspirasi saja, tanpa ada realisasi apapun.


"Karena memang kita tidak bisa menafikkan bahwa yang menjadi prioritas penanganan adalah sumber kantong suara terbanyak yang di perhatikan sehingga wilayah yang tidak punya perwakilan ini terkesan di anak tirikan. Tolong keluhan ini di perhatikan pak dewan," pintanya.


Menjawab hal tersebut seorang anggota dewan, Syamsudin Majid, justru mengapresiasi apa yang disampaikan oleh dua warga Jatibaru Timur tersebut. Justru dengan santun ia mengatakan, bahwa apa yang disampaikan kedua generasi muda itu merupakan wujud dari kecintaan antara konstituen dan wakilnya di legislatif.


"Kami tidak berharap lagi, tapi kami bermohon agar kami dikritik. Karena tanpa adanya kritikan, kami pastikan tak akan pernah tahu kesalahan dan kekeliruan serta kelemahan kami. Untuk itu dengan adanya kritikan semacam ini, moga saja kami bisa memperbaikinya di masa depan," jawab duta Partai Amanat Nasional (PAN) ini. (GA. 003*)

Post a Comment

Previous Post Next Post