-->

Notification

×

Iklan

Mestinya Harus Ada Skema Pengurangan Resiko Bencana

Friday, January 18, 2013 | Friday, January 18, 2013 WIB | 0 Views Last Updated 2021-03-13T13:08:48Z
Salam Redaksi


Alam sepertinya
memperlihatkan ‘amarah’ dengan bahasanya sendiri yang cenderung sangat sulit dipahami manusia.Muntahan ‘amarah’ itu kadang terjadi secara tiba-tiba dikala manusia sedang terlelap tidur. Atau bahkan terjadi ketika manusia sedang terjaga. 

Fenomenanya pun bermacam-macam, terkadang dengan rupa angin puting beliung yang menerjang pepohonan dan rumah warga. Terkadang datang dengan fenomena air pasang yang menenggelamkan perahu-perahu dan kapal-kapal besar. Bahkan dengan gerakan kerak-kerak bumi yang mampu mengubur nilai kesejarahan manusia.     

Dalam konteks ‘murka’ alam yang sangat dahsyat, harus diakui memang belum ada satu formula atau satu rumusan pun yang mampu dilahirkan oleh akal pikiran manusia untuk menghindari ‘murka’ alam ini.
Meski itu sekelas Negara-negara yang mengklaim telah mengalami tingkat keadaban yang paling tinggi sekalipun sekelas Negara Adidaya seperti Amerika Serikat yang belum lama ini dihantam dan diporak-porandakan oleh Badai Virginia. 

Demikian pula dengan Negara Jepang yang mengaku memiliki tingkat teknologi yang canggih dalam mendeteksi terjadinya Tsunami juga tidak bisa menghindarkan diri dari ‘murka’nya alam ini. Aspek Teknologi sepertinya belum mampu menguasai akan ‘murka’nya jagat semesta model ini. 

Namun dalam konteks ‘murka’ alam yang tidak terlalu besar dan dapat terukur seperti yang terjadi di Indonesia yang Negerinya sangat rawan dengan aspek kebencanaan ini, meskipun memiliki suatu otoritas lembaga tersendiri yang disebut-sebut mampu ‘menanggulangi’ atau ‘mengatasi’ terjadinya bencana dengan mengedepankan paradigma kebencanaan yang dahulu berfokus kepada penanganan kedaruratan dan sekarang telah bergeser paradigmanya menjadi pengurangan resiko bencana yang diwujudkan dalam bentuk kesiapsiagaan aparat dan masyarakat. 

Namun perspektif pengurangan dampak atau resiko bencana ini harus dipahami sebagai sebuah bentuk upaya yang sigap dari pemerintah dan masyarakat dalam menghindari terjadinya resiko bencana yang dapat terukur oleh akal dan pikiran manusia dan harus dijadikan sebagai sebuah ikhtiar yang dilakukan secara komprehensif dan sistematis yang menjadi bagian dari kebijakan dan perencanaan pembangunan di daerah.     

Sehingga pada giliran terjadinya bencana yang sifatnya dapat diprediksi kehadirannya seperti fenomena banjir, gelombang pasang, dan bencana lainnya yang skala bencananya tidak terlalu besar sudah ada kesiapan dan kesigapan dari Pemerintah dan masyarakat itu sendiri dalam mengurangi resiko atau dampak yang terjadi. 

Perspektif inilah yang semestinya harus dibangun di daerah dalam menghadapi ‘amukan’ alam yang biasa terjadi secara tahunan ini. Tanpa adanya skema yang pasti menyangkut kebijakan dan rencana pembangunan dalam kerangkan mengurangi resiko bencana ini, maka kita semua tentu tidak akan bisa lepas dari kecemasan dan kepanikan menghadapi bencana ini. Disamping ikhtiar yang dilakukan bersama untuk senantiasa meminta dan menghiba kepada Allah SWT Sang Pemilik dan Pencipta Jagat Semesta Raya agar menghindarkan kita semua dari segala bentuk bencana dan malapetaka. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu’alam Bissawab*). 
×
Berita Terbaru Update