Pendidikan yang Cacat

Terdidik tetapi tidak mendidik, dididik tetapi tidak mendidik , pendidikan tetapi tidak mendidik, mendidik tetapi tidak berpendidikan, berpendidikan tetapi tidak terdidik, dan berpendidikan yang paling terdidik. Kita masuk dalam kalimat kategori yang mana ? Karena ketika kita perhatikan kasus atau dilema yang terjadi di masyarakat kita, banyak pelaku yang atributnya “bergengsi” tetapi “ambruk” dalam itikad. Alias OK dalam “Prestise” tetapi sangat KO dalam “prestasi”.
Oknum-oknum yang terlibat kasus banyak yang memiliki latar pendidikan yang spektakuler; Howard Gadner. Pendidikannya belum dikatakan berhasil ketika personalnya bermasalah; Alfred Adler. Dan memang tujuan pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya. Adalah sesuatu yang ajaib ketika kita disodorkan kasus manipulasi yang melibatkan orang-orang minoritas !
Jarang sekali terjadi atau tidak pernah sama sekali dimuat di deadline atau tajuk rencana seorang “gelandangan “ yang terlibat kasus korup atau mafia hukum. Paling-paling yang dipusingkan adalah tempat evakuasinya sementara pasca dilema. Pernahkah kita dipusingkan oleh kaum minoritas yang divonis sebagai tukang Korup yang saling berebut popularitas ? Tetapi mereka bukan ahli-ahli “jabatan”. Pikiran dan imajinasinya hanya berkutat ke masalah-masalah sederhana dan sepele seputar “kebutuhan pokok” dan pekerjaan.
Pernahkah mereka merebut “kursi” kehormatan untuk mencapai kedigdayaan dan kejayaaan ? Dan Jadilah penyakit “depresi” dan “struk” sebagai momok yang menakutkan bagi pelaku-pelaku “tertuduh”. Sangat beda dengan penyakit “busung lapar”, DBD dan Malaria ! karena memang beda objek “penularannya” . Dengan menu sederhana dan obat generik saja langsung “tok cer”, dan ironisnya tidak perlu payah-payah cek medis ke luar negeri.
Atau memang tingkat penyakit dan virus suka “pilih kasus dan kasih” dalam kinerjanya ? Beda tingkatan dan prestasi jangkauan jalarannya ? Dan beda pula “service” , kelas, dan jurusannya ? Akankah Sama halnya dengan nilai pajangan di kelas butik, mall, dan pasar tradisional ?
Proses Pendidikan bukan hanya mencerdaskan anak yang cerdas intelektualnya, namun pendidikan harus membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang identik dengan sebuah pohon, yaitu harus kuat akarnya, ranting dan daunnya lebat, dan berbuah lezat plus bermanfaat bagi kemaslahatan yang lain. Pendidikan itu bertujuan ! Yaitu membentuk siswa yang cerdas, berbudi pekerti luhur dan yang rahmatan lil-alamin. Tetapi kalau tidak demikian bagaimana ? Cacatkah pendidikan yang kita jalankan ? Sukseskan pendidikan yang kita programkan ? Dan ketika pendidikan merugikan dan meresahkan orang lain, masyarakat, negara termasuk pendidikan dalam spesies yang mana ? Apakah Pendidikannya yang salah ataukah pelaku pendidikannya ? Ketika pelaku pendidikannya telah “cacat” apakah gelar akademiknya juga dituding ? Apakah semua pihak yang telah memberikan mandat juga divonis ? Apakah lembaga yang memberikan atribut juga didudukan ke kursi “pesakitan” ? Semuanya menjadi dilema dan perlu dipikirkan bersama. Sepertinya kita dililit dan terjerat oleh lingkaran pertanyaan yang tiada ujungnya, Ya …seperti Jalan Tak Ada Ujung-nya Muhtar Lubis(Sastrawan)
SDM yang berkualitas mempunyai ciri; kuat akidahnya, gemar beribadah, dan menunjukkan akhlak yang beriman. Atau memiliki akidah profesional, ibadah yang profesional, akhlaknya profesional, dan memiliki “profesi yang profesional”. Sederhananya Kalau mendapat nilai yang bagus pada akademiknya, berarti prakteknya juga mendapat nilai yang sama kualitasnya. Jangan sampai OK dalam akademik tetapi KO dalam ahklak . Atau Akademik yang sangat senior tetapi akidahnya masih sangat yunior !
Lalu bagaimana “prefentif plus kuratifnya” ? ketika kita dilapangan dihadapkan dengan keadaan yang sangat memprihatinkan bagaimana ? Cemas yang estafet dan selalu bersarang di pikiran kita masing-masing ! Apakah kita tetap membisu dan diam seribu bahasa ? Tetapi tidak selamanya diam itu berarti emas; Willian Shakespeare.
Sampel yang sederhana di lapangan adalah, ketika siswa mendapat nilai 9 pada bidang studi bahasa Indonesia, berarti dalam apresiasinya minimal bisa membuat puisi sederhana atau menulis satu esai konsumsi majalah dinding di sekolah . Atau pada pelajaran bahasa Inggris mendapat nilai 8 dalam buku rapor, berarti siswa minimal mampu Yes or No dengan rekannya. Apalagi pada pelajaran Agama Islam, ketika nilai 9 tercetak di rapor, minimal siswa tidak berani membolos dan bisa baca tulis alquran.
Tetapi ketika nilai yang tertera tidak ada korelasi dengan buku rapor, bagaimana ? siapa yang disalahkan ? Dan apa perlu dipersalahkan kualitas nilainya ? Tetapi kita tidak perlu untuk saling menyudutkan. Antara pencetak nilai dengan yang menerima cetakan ada sisi dan tingkatan kualitasnya. Bagi yang mendapat nilai bagus, kompetensinya juga harus “terukur” dan dipertanggungjawaban secara proporsional. Jangan sampai memiliki nilai 9 tetapi hanya nilai 1 dan Nol Besar dari sisi kualitasnya ! Kecurangan dalam pemberian nilai pada siswa adalah awal dari malapetaka; Umar H. M. Saleh, S.Pd (Kasek SMA Negeri I Bolo ketika rapat dinas 11 Maret 2011)
Mulai kelas “O” atau pendidikan taman kanak-kanak sampai SMA dan perguruan tinggi sudah ada kurikulum pengajaran dan Kompetensi Dasar (KD) yang harus dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Andaikan setiap siswa dalam setiap KD mencapai Standar Kelulusan Minimum (SKM) memperoleh nilai 7 (tujuh), berarti nilai sosialisasinya juga minimal 7 . Yang imbasnya di masyakat memperoleh nilai 7 juga. Berarti pendidikan yang “sekian” tahun itu, bisakah dikategorikan sukses ketika pelakunya minus di mata publik ? Sepertinya sebuah adagium yang dagel ketika keduanya tidak korelatif. Seperti sentilannya Taufik Ismail “ Malu Aku Jadi Orang Indonesia” dan jadilah Kumpulan Orang-Orang Terbuang; Iwan Simatupang (Sastrawan) Setiap Upacara bendera di sekolah dalam susunan acara pada poin “doa” selalu dikumandangkan agar kita selalu terhindar dari cobaan dari masalah dan senantiasa dilindungiNya. Yang jelas rutinitas tersebut bukanlah seremonial yang hanya wajib dilaksanakan tetapi senantiasa menjadi tuntunan bagi kita semua. Durasi lima menit tersebut harus menjadi momentum yang sakral dalam menjalankan aktivitas kita pada bangsa dan Negara. Dalam proses pendidikan tidak boleh ada miskomunikasi, gap, dan jarak. Jangan sampai antara guru dengan siswa tidak saling mengenal dan tidak ada “kedekatan” alias tidak “nyambung” . Karena pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang harmonis, memiliki dan menjiwa; Ir. Indra Djati Sidi, P.hD. Dosen yang kurang mengenal mahasiswa adalah biasa, tetapi ketika mahasiswa tidak mengenal dosen adalah “luar biasa” begitu sentilnya; Dr. kamaluddin Yusra dosen bahasa Inggris Universitas Mataram. Harus ada kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua dan masyarakat dalam membentuk siswa yang berahklak dan berintelektual. Karena masa depan bangsa ada ditangan kita semua, Amin.

Rofika, S. Pd
Pemerhati Pendidikan dan budaya
Aktif di SMA Negeri I Bolo Bima NTB

Post a Comment

Previous Post Next Post