Header Ads

Di Penghujung Tahun, Warga Kota Bima Keluhkan Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg


Kota Bima, Garda Asakota.-

Program konversi Minyak Tanah (Mitan) ke Gas Elpiji 3 kg yang saat ini tengah diterapkan pemerintah secara Nasional termasuk di Kota Bima nampaknya masihlah belum membuat warga masyarakat yang masuk dalam daftar penerima manfaat dari Gas Elpiji hidup dalam sebuah ketenangan dan kenyamanan.

Pasalnya belum beberapa minggu unjuk gigi di tengah masyarakat, alat yang katanya jauh lebih hemat dari Mitan ini justru penyalurannya sekarang mulai tersendat ke Pangkalan Gas terdaftar. Akibatnya, warga pengguna Gas kebingungan untuk mencari keberadaannya dimana.

"Tabung Gas Elpiji 3 kg sudah beberapa hari ini susah di dapat meski sudah saya cari kemana-mana. Karena sempat langka beberapa hari, yah mau nggak mau saya kembali ke cara lama dulu memasak dengan kayu bakar," keluh seorang warga Lingkungan Sapaga Kelurahan Jatibaru Barat, Ahmad kepada Garda Asakota, Selasa (31/12).

Diakuinya, selama empat hari dicari-cari stoknya baru hari ini, Selasa (31/12) ia bisa mendapatkannya lagi. Itupun, kata dia, Gas Elpiji bukan didapat di pangkalan sekitar wilayahnya. Tapi justru didapatkannya di pangkalan sekitaran lingkungan Tambana kelurahan Jatiwangi. "Itupun dengan harga Rp20 ribu per unit, tapi meski harganya naik terpaksa saya beli," katanya.

Hal yang sama juga dialami oleh warga lingkungan Jatiwangi, Erfina. Kepada wartawan ia mengeluhkan kelangkaan Gas Elpiji 3 kg yang sudah terjadi beberapa hari ini. Ia mempertanyakan, kok secepat ini Gas Elpijinya langka padahal baru aja diprogramkan oleh pemerintah. "Apa program konversinya yang salah atau memang permintaan masyarakat akan elpiji ini yang makin meningkat?," herannya.

Erfina mengaku, selama terjadi kelangkaan Gas Elpiji 3 kg, pihaknya terpaksa mengkonsumsi makanan instan dulu karena tidak bisa memasak. "Daripada pakai minyak tanah kan mahal, mending sabar aja dulu sembari nunggu elpijinya di drop," imbuhnya.

Sementara itu, Kabag Ekonomi Setda Kota Bima, Ruslan, mengaku pihaknya di Bagian Ekonomi telah berkoordinasi dengan  PT Pertamina Ampenan bahwa terjadinya kelangkaan Gas Elpiji 3 kg disebabkan oleh adanya aksi mogok kerja Pegawai SPPBE di Maronge Sumbawa. "Sehingga berimbas pada  pasokan di Bima yang sebelumnya wilayah Bima Elpiji subsidi tabung 3 kg di suplay dari Lombok," akunya.

Kata Ruslan, hari ini 31 Desember 2019 adalah hari terakhir minyak tanah bersubsidi hilang di pasaran. Sebagai penggantinya, kata dia  akan ada Mitan non subsidi dengan jumlah yang terbatas dan berlaku harga pasar. (GA. 003*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.