Header Ads

PT Pertamina Bima: Penarikan Minyak Tanah Bersubsidi Bertahap Hingga Desember 2019

Kepala PT. Pertamina Bima,Yudho Tri  Permana.


Kota Bima, Garda Asakota.-

Kebijakan konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kg berdampak pada pengurangan bahkan bisa dibilang langkanya pasokan BBM jenis Minyak Tanah (Mitan) di tengah masyarakat kita.

Meski belum sepenuhnya, pemerintah saat ini memang tengah melaksanakan proses penarikan BBM Mitan bersubsidi dari peredaran menyusul telah distribusikannya tabung gas elpiji 3 kg bersubsidi ke lebih dari 25 Ribu KK se-Kota Bima.

Pihak Pertamina Bima selaku Suplayer BBM melalui SR (Sales Representatif) Pertamina, Sigit, yang dikonfirmasi wartawan nengakui bahwa sampai sekarang ini Mitan bersubsidi itu masih ada dan tetap akan disalurkan ke pangkalan-pangkalan karena penarikannya dilakukan secara bertahap.

"Kita sesuaikan dengan kondisi di lapangan, kalau serapan elpijinya makin meningkat dan terus meningkat, maka sesuai itulah Mitan ditarik," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (21/11).

Diakuinya, bila ada peningkatan pengguna elpiji maka akan ditarik mitannya sesuai dengan elpiji yang di serap masyarakat. Untuk saat ini kata Sigit, minyak tanah yang sudah ditarik itu antara 50 hingga 60 persen begitu juga dengan serapan elpijinya  sesuai dari total estimasi yang dihitung pihaknya.
 
Ketika disinggung masih banyaknya warga masyarakat yang enggan menggunakan gas elpiji ini dan adanya kecenderungan minat masyarakat yang masih menyukai penggunaan Mitan?, Sigit menjelaskan bahwa patokan atau rujukan pihak Pertamina dalam penyaluran Mitan adalah time line atau programnya pemerintah, tidak menyentuh ke ranah itu.

"Yang punya anggarankan pemerintah, tentu saja kami ikuti. Kalau pemerintah bilang Mitan subsidinya hanya sampai akhir Desember, yah Pertamina harus tuntaskan itu karena di Januari 2020 nanti sudah tidak ada lagi kuota dari pemerintah. Nah tugasnya pertamina adalah menjamin ketersediaan elpijinya dulu," jawabnya.

Meski demikian pihaknya memaklumi kendala yang dihadapi masyarakat saat ini. Jangankan di Kota Bima, kata dia, di Jakarta saja yang bisa dibilang kotanya jauh lebih maju, juga mengalami hal seperti yang terjadi di Kota Bima.

"Tapi yakin saja, semua hanyalah masalah waktu yang pada akhirnya mereka akan mencoba bahkan menyukai elpiji subsidi 3 kg ini karen bahan bakarnya jauh lebih bersih dan hemat," sebut Sigit.

Ia menegaskan bahwa konversi elpiji 3 kg yang di berikan Pemerintah saat ini sudah melalui beberapa tahapan mulai dari tes kelayakan. Pihaknya bisa berikan guaranted atau jaminan bahwa barang yang telah dibagikan itu sudah memenuhi standart safety (keamanan) karena telah melalui beberapa serangkaian ujian tes kualiti dan kuantity sehingga nggak perlu ada lagi keraguan lebih lebih ke khawatiran

Sementara itu, Kepala PT. Pertamina Bima, Yudho Tri  Permana, kepada wartawan menegaskan bahwa kalau untuk urusan tarik menarik BBM dari peredaran itu bukan kewenangan pihaknya. Pihak Pertamina, kata dia, hanya sebatas penerimaan, penimbunan dan penyaluran saja, kalau yang berwenang menangani hal penarikan atau konsumen itu urusan Pihak pertamina Bagian SR (Sales Representatif).

"Jadi silahkan teman teman media konfirmasi langsung ke SR saja, kami tidak tahu persis tentang hal seperti itu karena memang bukan kewenangan kami. Itu kebijakan pihak SR, kami hanya memeriksa ketersediaan stok saja. Ada stok, siap disalurkan itu saja tugas kami," tegasnya.


Meski demikian diakuinya bahwa kebijakan konversi dari Mitan ke Gas Elpiji 3 kg bersubsidi itu merupakan sebuah program Pemerintah yang sangat baik sekali.

Adapun mengenai masih banyaknya warga masyarakat yang belum mau beralih dari Mitan ke Gas itu diakuinya adalah hal yang wajar. "Itu sudah biasa untuk tahap awal seperti sekarang, tapi nanti lama-lama masyarakat pasti akan nyaman menggunakan elpiji ini. Biasalah, semua butuh proses," pungkas Yudho. (GA. 003*)





     .

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.