Header Ads

Minyak Tanah Bersubsidi Tidak Ada Lagi, Emak-Emak Kebingungan

Firman Hidayat


Kota Bima, Garda Asakota.-

Hampir seminggu terakhir warga masyarakat Kota Bima terutama kalangan emak-emak dibuat blingsatan mencari keberadaan minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha mereka di sejumlah agen maupun pengecer.

Jikalaupun ada stoknya, itupun harganya berkali-kali lipat dari harga HET-nya sehingga warga yang masih menggantungkan diri dengan menggunakan salah satu jenis BBM ini terpaksa merogoh kocek lebih besar lagi.

Seperti yang di sampaikan oleh salah seorang warga Jatiwangi Kecamatan Asakota, Erfina. Ia mengaku hampir seminggu ini sudah tidak memasak lagi lantaran kelangkaan minyak tanah tersebut.

"Padahal bagi kami minyak tanah itu kebutuhan yang mendasar ketimbang elpiji. Di cari susah nemunya pak, ketemupun harganya selangit. Lalu bagaimana usaha mau maju kalau kondisinya begini," keluhnya kepada wartawan, Selasa (19/11).

Menjawab hal tersebut Kabag Ekonomi Pemkot Bima melalui Kasubag SDA, Firman Hidayat, menjelaskan bahwa seiring dengan mulai diberlakukannya konversi minyak tanah ke gas elpiji, maka pasokan minyak tanah bersubsidi tidak ada lagi karena memang nggak boleh ada dua subsidi dan hanya berlaku satu subsidi saja yakni untuk gas elpiji.

"Kemarin-kemarin kan kita dapat subsidi minyak tanah sekarang karena elpijinya sudah masuk maka minyak tanah bersubsidi ditarik," ungkapnya kepada wartawan.

Menurutnya, rangkaian proses konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg ini sudah terjadi sejak tahun 2016 silam dengan pendataan Calon Penerima Paket Perdana (CP3) oleh PT. Laras Respati Utama selalu pihak yang ditunjuk oleh Ditjen Migas Kementrian ESDM sebanyak 22. 666 KK, yang kemudian pada awal tahun 2018 Pemerintah Kota Bima mendapat tambahan alokasi sebanyak 3.064 KK calon penerima paket perdana elpiji 3 kg.

Kemudian pada akhir tahun tepatnya November 2018 pihak PT. Pertamina melalui pihak ketiga melakukan pendistribusian paket tabung elpiji 3 kg kepada 25.730 KK penerima yang terdaftar. Pendistribusianwaktu itu, kata dia, ditandai dengan penyerahan secara simbolis oleh Walikota Bima kepada warga penerima paket perdana.

Kemudian di bulan Mei 2019 itu sudah terbit Harga Eceran Tertinggi (HET) berdasar Surat Keputusan Gubernur No. 750-365 tahun 2019 yang mengatur tentang HET tabung elpiji 3 kg di Provinsi  NTB.

Dalam keputusan tersebut, jelasnya, HET nya di sesuaikan dengan radius/jarak yang mana untuk Kota Bima radiusnya di bawah 60 km HET elpiji 3 kg ini berkisar Rp15 ribuan.

Luncuran HET ini kemudian di tindaklanjuti dengan launching atau peluncuran refiilnya, yang mana pada pembagian paket perdananya itu tidak di lengkapi dengan refiilnya maka di September 2019 mulai dibagikan. "Dan Alhamdulillah informasinya sekarang bahwa refiil tersebut sudah dibagikan Rp14 ribu tabung elpiji oleh agen," katanya.

 Dan untuk minyak tanah ini berdasarkan informasi yang dihimpun pihaknya bahwa hingga akhir November penarikan minyak tanah sudah lebih dari 50 persen yang diharapkan hingga akhir Desember nantinya sudah 100 persen penarikan minyak tanah bersubsidi.

Lalu apakah dengan kondisi ini ketersediaan minyak tanah dikemudian hari sudah tidak ada lagi?. "Tentu tidak, stok minyak tanah di pasaran tetap ada. Tetapi dengan harga non subsidi alias tidak ada harga HET-nya lagi. Artinya terserah yang menjualnya berapa bahkan mungkin harganya bisa melambung berkali-kali lipat karena tidak ada yang mengaturnya," jawabnya. (GA. 003*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.