Header Ads

A Rauf Wahab: Hijaukan Gunung dengan Menanam Kelor, Nilai Ekonomisnya Tinggi

A Rauf Wahab, ST

Mataram, Garda Asakota.-

Mengembalikan kondisi pegunungan yang telah gundul agar menjadi hijau dan asri kembali merupakan salah satu mimpi dari anggota DPRD NTB Daerah Pemilihan (Dapil) VI Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, A Rauf Wahab, ST.

Politisi Partai Demokrat yang merupakan mantan aktivis HMI Cabang Malang ini sangat prihatin dengan kondisi pegunungan yang ada didaerah Dapilnya yang kini banyak yang telah menjadi gundul dan gersang.

Kepada wartawan media ini, Selasa 19 November 2019, Rauf mengaku punya keinginan untuk mengembalikan kondisi hutan didapilnya menjadi asri kembali dengan melakukan gerakan penanaman tumbuhan 'parongge' atau tumbuhan kelor dibeberapa titik pegunungan yang ada Dapilnya.

"Sebagai langkah awal saya ingin fokus dulu pada beberapa titik pegunungan yang ada di Wawo, Donggo, Ambalawi, Monta, Parado dan Ncai Kapenta. Kebetulan sudah ada beberapa kelompok tani yang menyatakan kesiapannya dengan penyediaan ratusan hektar lahannya untuk ditanami 'parongge' ini dan untuk saat ini mereka menyatakan kesiapannya untuk menyediakan bibit seraya gratis disamping bibit yang memang kami sudah siapkan sebanyak 100 ribu pohon sembari nanti ini akan kita perjuangkan pada APBD Perubahan 2020 untuk pengadaan bibit secara gratis" ungkap Rauf kepada wartawan media ini di Kantor DPRD NTB.

Menurutnya, tumbuhan 'parongge' ini disamping menghijaukan kembali pegunungan yang telah gundul, juga bisa memberikan dampak ekonomis yang tinggi kepada masyarakat.

"Bayangkan dalam satu hektar lahan nanti akan dibutuhkan sekitar 10 ribu bibit 'parongge' yang mana satu pohon saja kita asumsikan bisa menghasilkan 7kg daun kelor maka dari 10 ribu pohon itu bisa menghasilkan 70 ribu kg dan dikalikan Rp2 ribu per kg maka petani bisa mendapatkan hasil sekitar Rp140 juta per tahun," terangnya.

Menanam 'parongge' atau kelor ini, kata Rauf, tidak terlalu sulit dan tidak membutuhkan cost besar seperti menanam tumbuhan lainnya.

"Tumbuhan ini juga tidak boleh diberikan pemupukan berbahan kimia karena dihajatkan sebagai tanaman obat herbal dan pangsa pasarnya sangat menjanjikan baik didalam maupun diluar negeri," pungkasnya. (GA. Im*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.