Header Ads

Sikapi Terjadinya Kekeringan di Bima, Aktivis LSM Jenewa Kunjungi BMKG


Kota Bima, Garda Asakota.-

Guna memastikan beberapa peta wilayah daerah Kabupaten dan Kota Bima yang mengalami kekeringan sumber mata air, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jenewa mengunjungi kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berkantor di wilayah Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, Kamis (24/10).

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari permasalahan yang begitu urgen yang disikapi oleh LSM Jenewa sebagai lembaga pemerhati lingkungan terhadap terjadinya kekeringan yang melanda beberapa wilayah Kota maupun Kabupaten Bima. Selain itu juga dampak dari pada pembakaran hutan secara besar-besaran akan berdampak negatif bagi kehidupan di masa yang akan datang.

Albertus Samudera selaku Kepala Bidang Lingkungan Hidup LSM Jenewa kepada awak media menyampaikan rasa prihatinnya terhadap masalah yang yang begitu kompleks yang terjadi di Kabupaten dan Kota Bima. Masalah yang kompleks tersebut, kata dia, mulai dari masalah kekeringan, pembakaran hutan dan pembukaan lahan tani baru di wilayah kawasan hutan.

"Berdasarkan data yang kami himpun dari BMKG bahwa Analisis Kekeringan dan Kebasahan pada bulan JuIi-September 2019 dengan menggunakan indeks SPI untuk akumulasi curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat pada umumnya berada pada kondisi normal hingga agak kering," katanya.

Sedangkan prakiraan kekeringan dan kebasahan bulan Agustus -Oktober  pada umumnya normal hingga kering baik di pulau Lombok maupun pulau Sumbawa.

Tingkat Ketersediaan Air Tanah (KAT) bulan Juli 2019 di Kota dan Kabupaten Bima berada dalam kondisi kurang. Diwilayah Kota  Bima sendiri tingkat ketersediaan air tanah yang mengalami kekurangan ada di Raba, Rasana'e Barat, Rasana'e Timur, Asakota dan Mpunda. Sedangkan Kabupaten Bima tingkat ketersediaan air tanah yang mengalami kekurangan ada di Bolo, Sape, Woha, Wawo, Wera, Donggo, Ambalawi, Langgudu, Lambu dan Madapangga.

Untuk data curah hujan sendiri pada bulan November 2019 wilayah Bima dan Dompu akan memiliki curah hujan dengan kategori rendah berkisar 51-100 mm/bulan. Sedangkan di bulan Desember curah hujan mengalami peningkatan berkisar 101-300 mm/bulan dengan kategori curah hujan menengah dan kemungkinan besar akan semakin meningkat di bulan-bulan berikutnya.

LSM Jenewa menyarankan agar pemerintah harus sesegera mungkin mengatasi masalah yang begitu kompleks ini. Buatlah gebrakan untuk mengatasi masalah kekeringan di masyarakat, pemerintah juga harus hentikan untuk distribusi bibit jagung subsidi kepada para petani, jangan biarkan para petani mengalami ketergantungan untuk menanam jagung, dengan iming-iming hasil yang banyak, tapi tidak memikirkan dampak kedepannya seperti apa.

Apabila tidak ditangani secara serius kemungkinan besarnya nanti bencana pada tahun 2016 lalu akan terulang kembali memporak-porandakan Kota dan Kabupaten Bima serta akan berdampak buruk bagi kehidupan di masa yang akan datang. (GA. Yan*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.