Header Ads

"Benih" Itu, Tumbuh Subur di Kota Warsawa

Oleh Win Ariga Mansur Malonga (Mahasiswa Warsaw University of Life Science/ Awardee Beasiswa NTB)

"Kenapa anak-anak NTB perlu dikuliahkan ke luar negeri?" entah kenapa, beberapa waktu ini, pertanyaan demikian menjadi sangat sering saya dengar dari media masa NTB. Saya berusaha untuk positif, bahwa perhatian media masa terhadap program bapak gubernur Dr. Zulkieflimansyah menguliahkan masyarakat NTB ke luar negeri adalah dalam rangka membantu gubernur dan tim pengelola beasiswa untuk terus meningkatkan kualitas layanannya, bukan karena skeptis bahkan pesimis terhadap program ini, seperti seakan program ini tidak memiliki manfaat yang berarti

Saya percaya, semakin jauh kita merantau, semakin kuatlah rasa rindu terhadap segala hal yang kita tinggalkan. Kita mulai mengingat-ingat hal yang sebenarnya "biasa" dan sering kita rasakan/lakukan dulu saat di tanah air, ternyata hal-hal tersebut dirasa sangat luar biasa ketika diluar negeri. kita seperti kembali jatuh cinta dengan segala hal yang "biasa" itu. Membuat segalanya terlihat sangat berarti dan harus dilindungi, memunculkan motivasi untuk merawat Indonesia.

Saya jadi teringat pengalaman mendapatkan perkuliahan tentang manajemen lingkungan berbasis alam dari Prof. Maire dari University of Antwerp (beliau dosen tamu di Warsaw University of Life Science). Beliau berbicara banyak hal terkait proteksi zona pesisir eropa dari potensi tingginya permukaan air laut karena efek dari pemanasan global. Beliau bercerita jika eropa sangat serius untuk hal ini. Modal yang mereka keluarkan mencapai triliunan untuk membangun infrastruktur berupa ekosistem artifisial untuk menyelamatkan zona pantai mereka dimasa depan.

Kenapa eropa membangun hal-hal demikian? karena zona pesisir mereka tidak se-kaya pesisir kita di zona tropis. Tuhan memberi kita pesisir yang kaya raya akan biota penyangga pesisir, negeri kita, khususnya NTB sangat kaya akan mangrove dan terumbu karang. sesuatu hal "biasa" yang sering kita remehkan yang sebenarnya memiliki nilai setara dengan mega proyek proteksi pesisir eropa. Mendapatkan kuliah dari Prof Meire membuat mata saya terbuka dengan lebar akan hebatnya potensi negeri kita, membuat saya kembali jatuh cinta, dan rasa cinta itu berbenih menjadi rasa ingin melindungi. begitulah kehidupan kami di eropa. Semakin banyak kami berjalan, belajar dan mencoba segala hal baru, semakin tinggi pula kecintaan kami terhadap tanah air, Indonesia. membuat hal-hal yang dulu terlihat "biasa" menjadi sangat berharga.

Satu bulan ini, saya kembali ke Indonesia, bukan karena kangen keluarga atau kangen makanan NTB. tetapi karena ingin langsung terjun mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di eropa. saya memberanikan diri mengambil tema mengenai mikroplastik di kawasan mangrove di pesisir kota bima. Tema ini saya ambil, karena saya mendapatkan informasi mengenai buruknya perlakukan kita terhadap zona yang selama ini menjadi pelindung kawasan pesisir kita. Kawasan mangrove yg akan saya teliti, saat ini lebih mirip tempat pembuangan akhir dari pada kawasan yang harusnya dilindungi. tema ini tidak mudah, membuat saya harus berjudi dengan waktu dan keterbatasan biaya. tapi apalah itu semua, ketika benih kepedulian terhadap masa depan bangsa kita, NTB kita, telah tumbuh dengan baik di hati. dan saya yakin, benih-benih kepedulian lain juga telah tumbuh subur di Kota Warsawa.

"Apakah program menguliahkan putra-putri NTB ke luar negeri tidak bermanfaat?" jujur, pertanyaan tersebut terdengar sangat lucu.

Kapal Legundi menuju NTB tercinta, 10 September 2019.

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.