Header Ads

Nestapa Ujung Tombak Pemilu di Kobi, dari Rasa Lelah Hingga Harus Bolak Balik RS




Kota Bima, Garda Asakota.-

Cerita Nestapa mewarnai proses pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 yang baru saja dilaksanakan untuk memberikan Hak Politik Warga dalam bilik suara baik untuk Pilpres, DPD RI, DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Pasalnya, dari proses tersebut beberapa orang petugas KPPS Jatiwangi dan Petugas PPK Asakota Kota Bima mengalami kelelahan yang luar biasa bahkan ada yang dilarikan ke RS.

Kejadian tersebut di alami oleh tiga orang petugas penyelenggara Pemilu. Dua diantaranya adalah petugas KPPS Jatiwangi yaitu A. Bakar dan Iwan Setiawan. Selain itu, seorang Komisioner PPK Asakota bahkan dikabarkan sempat dilarikan ke RS untuk mendapatkan perawatan setelah sebelumnya pingsan pasca proses Pemilu serentak di gelar Rabu 17 April lalu. "Suami saya pingsan setelah lebih kurang puluhan jam berjibaku dengan segala proses pemilu, mulai dari persiapan penerimaan peti surat suara yang di antarkan oleh PPS pada ba'da Subuh pukul. 05.00 Wita pagi tanggal 17 April lalu hingga proses penghitungan surat suara dan lainnya yang berakhir pukul. 07.00  Wita pagi ke esokkan harinya tanpa istirahat sedikitipun," aku Eva.

Dengan kejadian ini Eva mengaku tidak akan pernah mengijinkan suaminya lagi untuk menjadi petugas KPPS jika prosesnya masih serentak seperti tahun 2019 ini. "Lagi pula honornyapun tak sebanding dengan volume pekerjaan," keluhnya kepada Garda Asakota, Jumat (26/4).

Rasa keprihatinan juga disampaikan oleh orangtua dari Iwan Setiawan yang merupakan seorang Ketua KPPS 5 Kelurahan Jatiwangi. "Melihat kondisi anak saya ketika pulang ke rumah pada waktu itu sekitar pukul 07.45 Wita Kamis (18/4), sudah dalam kondisi pucat tak bertenaga, mata sayu dan lemas. Saya menyarankan untuk istirahat tetapi tiba-tiba dia pingsan tak sadarkan diri akhirnya saya membawanya ke RSUD Kota Bima," akunya.

Ia benar benar merasa khawatir melihat kondisi anaknya saat itu karena memang anaknya nggak terbiasa begadang sepanjang malam. "Bayangkan saja pak, saat hari H itu anak saya sudah bangun pukul. 04. 00 Wita dini hari 17 April baru pulang ke rumah pukul 07.45 Wita ke esokkan harinya. Berapa puluh jam dia harus berkutat dengan  segala urusan Pemilu hingga selesai dari pagi kembali pagi," cetus Arifin.

Sementara itu, seorang PPK Asakota, Sucipto menceritakan bahwa sejak proses Rekap tingkat kecamatan berlangsung hingga hari ini dirinya harus mondar-mandir ke RS untuk Check up gangguan kesehatan. "Saya harus rutin lakukan check up ke RS lantaran kondisi saya benar-benar drop hingga sekarang," akunya.

Pihaknya hanya berharap semoga ada perhatian dari penyelenggara Pemilu tingkat Daerah terhadap kondisi para petugas Pemilu di lapangan. "Dan harus diakui bahwa honor yang diberikan oleh Pemerintah itu masih belum sepadan dengan tugas dan tanggungjawab petugas KPPS di lapangan. Sepertinya arus di tinjau kembali, kami berharap ada perhatian lebih untuk para pejuang Demokrasi ini," harapnya singkat. (GA. 003*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.