-->

Notification

×

Iklan

Hidup Penuh Keterbatasan, Gadis Tuna Netra Ini Butuh Uluran Tangan Pemerintah Dan Para Dermawan

Thursday, April 11, 2019 | Thursday, April 11, 2019 WIB | 0 Views Last Updated 2019-04-11T00:58:27Z
Harni (15 tahun) berpose bersama pegiat Yayasan Tangan Berbagi Indonesia, Fahrurrozi.

Lobar, Garda Asakota.-

Seorang gadis berusia 15 tahun, bernama Harni, yang terlahir sebagai seorang tuna netra, dan hidup bersama neneknya bernama Papuq Marisah yang sudah berumur 95 tahun, nampaknya harus menjalani hidup yang serba keterbatasan dan serba kekurangan akibat kemiskinan yang menderanya selama ini.

Hidup tanpa ayah karena ayahnya sudah meninggal dunia saat bekerja di Negeri Jiran Malaysia, dan seorang ibu yang sudah lama tidak terdengar kabarnya karena sejak ia berumur dua bulan, Harni langsung ditinggal ibunya dan ditinggal bersama papuqnya, Harni yang tinggal bersama neneknya di sebuah  gubuk.yang tidak layak huni di Dusun Cendi Manik, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, tiap harinya harus bersandarkan kehidupannya pada uluran para tetangganya.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan secara formal, namun menariknya, Harni punya daya hafal yang sangat kuat. Ia pandai melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Harni belajar dari apa yang ia dengarkan. Mungkin karena alasan inilah, Harni akhirnya dipertemukan Alloh dengan salah satu komunitas sosial bernama Yayasan Tangan Berbagi Indonesia, sebuah yayasan penyalur bantuan sosial, saat yayasan ini melakukan kegiatan sosialnya untuk penyaluran bantuan gempa lombok tahun 2018 lalu.

“Kondisinya sangat menyedihkan. Harni, hamba Alloh tuna netra yatim, hidup bersama neneknya diatas berugak ukuran 2 x 3 m dan belum sama sekali tersentuh bantuan Desa. Kami ketemu anak ini pada saat kami bagikan terpal paska gempa bulan Agustus 2018. Sekarang anak ini butuh bantuan kita semua,” kata salah seorang pengurus Tangan Berbagi Indonesia, Fahrurrozi atau yang akrab disapa Ojik ini, Rabu 10 April 2018.

Kondisi pembangunan Rumah Harni Yang diperoleh dari bantuan Tangan Berbagi Indonesia.

Sejak pertemuan dengan Harni itu, kata Ojik, Yayasan Tangan Berbagi Indonesia, mulai menggalang pengumpulan bantuan dana untuk memperbaiki tempat tinggal Harni. Sedikit demi sedikit bantuan itu berhasil dikumpulkan yayasan ini untuk membantu memperbaiki rumah Harni agar terlihat layak huni. 

“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit bantuan dari para dermawan mulai ada dan setahap demi setahap dana bantuan itu dialokasikan untuk membantu membangun rumah sederhana dua kamar,” jelas Ojik.

Penggalangan dana bantuan untuk rumah Harni ini masih terus dilakukan oleh Yayasan Tangan Berbagi Indonesia, karena rumah Harni belum selesai dibangun. 


“Disaat pembangunan rumah Harni sedang berjalan, kesulitan kembali dihadapi Harni dan Papuq nya, dengan tingginya biaya atau ongkos tukang. Kami berharap, Pemda maupun para dermawan yang punya kepedulian dapat membantu kesulitan yang dihadapi oleh Harni dan keluarganya ini,” harap Ojik. (GA. 211*).
×
Berita Terbaru Update