Header Ads

Hadir di Bima, KPI Pusat Gelar Literasi Media Bertajuk "Dari Masyarakat untuk Bangsa"

Walikota Bima, HM. Lutfi, SE, menerima plakat KPI dari Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis, Ph,D.

Kota Bima, Garda, Asakota.-

KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat menggelar Literasi Media bertajuk "Dari Masyarakat untuk Bangsa" di Mutmainnah Home Stay, Kamis Pagi (7/3). Selain menghadirkan tiga orang Narasumber yaitu Anggota DPR RI Komisi I Fraksi PAN HM. Syafrudin, ST, MM, kemudian Komisioner KPI Pusat, Ubaidillah, S.Sos, M.PD. dan Praktisi, Hadi Santoso, ST, MM, penyelenggaraan tersebut juga dihadiri Walikota Bima, HM. Lutfi, SE, Pemerhati Media, LSM, Mahasiswa, kalangan Jurnalis, dan KPID Pronpinsi NTB.

Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis, Ph,D., mengawali pengantarnya secara khusus membacakan sepenggal pantun untuk seluruh peserta yang hadir, khususnya untuk dua orang sosok yakni, HM. Syafruddin, ST dan HM. Lutfi, SE. "Ke pantai Kalaki bersama-sama, menatap indah alam semesta, literasi Media KPI Bima bersama Pak Syafrudin yang kita cinta. Terlihat langit berselimut awan berwarna abu mendung rupanya Kota Bima sungguh menawan karena Pak Lutfi Walikotanya." puitisnya disambut aplaus segenap tamu undangan.


KPI Pusat, kata dia, tentu harus mengapresiasi kepada Walikota Bima karena telah memberikan ruang bagi pihaknya di wilayahnya. Apresiasi khusus juga disampaikannya kepada anggota DPR RI Komisi I, HMS yang membidangi Pertahanan Keamanan, Badan Intelejen Negara, Hubungan Luar Negeri, Komunikasi dan Penyiaran yang telah mampu menginisiasi hadirnya KPI Pusat di Kota Bima. "Terimakasih pak Aji HMS telah memberikan Literatur Baru, wabil khusus kepada Walikota Bima," ucapnya.

Diakuinya, sejarah baru bagi KPI Pusat yang usianya kini telah menginjak lima belas tahun karena baru dalam periodesasi ini KPI terjun langsung ke masyarakat dengan konteks yang berlabel "Dari Masyarakat untuk Bangsa". "Selama ini biasanya yang dipilih itu adalah kota besar ibukota propinsinya. Namun kali ini agak spesial, entah apa sebabnya pada hari ini sampai di Kota Bima. Yah, mungkin di usianya yang ke-15 ini, KPI perlu turun langsung ke masyarakat agar masyarakat lebih tahu dan paham apa sih sebenarnya tugas KPI. Agar isu Hoax di Internet selama ini juga dianggap seolah-olah KPI juga yang menanganinya, nah ntuk hal-hal semacam itulah kami hadir di sini," ungkapnya panjang lebar.

Saat ini diakuinya, KPI Pusat mengawasi sedikitnya 1500 siaran Radio se Indonesia dan ada sedikitnya 1100 Televisi Lokal berlangganan. "Terhadap lembaga penyiaran ini, kata dia, pihaknya tetap melakukan monitoring dan evaluasi," tegasnya.

Sementara itu, Walikota Bima, HM. Lutfi, SE, mengakui bahwa bicara literasi media itu sangat menarik karena tidak saja konteks kekinian, akan tetapi sejarah Media itu sangatlah penting untuk ditelisik. Diamatinya, ada tiga fase perkembangan media yaitu fase perjuangan di mana media adalah satu propaganda yang menyemangati masyarakat Indonesia untuk menjemput Kemerdekaan. "Jadi pada fase ini, jurnalistik benar-benar di jadikan ajang Propaganda," katanya.

Kemudian fase selanjutnya adalah bagaimana Media ini menjadi perpanjangan tangan dari Kekuasaan seperti di jaman Orde Baru yang begitu kuat mengontrol Civil Sociaty sehingga literasi media yang terkomunikasikan cenderung Monolog. "Yang disajikan betul-betul kebenaran mutlak, tidak ada dialektika dalam dunia media," jelasnya.

Pihaknya berharap kedepan agar KPI tidak hanya mengontrol Stasiun Penyiaran Radio dan Televisi saja akan tetapi juga dapat masuk ke dunia Medsos karena ruang inilah yang jauh lebih berbahaya. "Sebab generasi milenial lebih percaya kepada Medsos ketimbang Radio atau TV. Siaran Radio dianggap usang dan Siaran Televisi di nilai menjemukan. Memang harus ada langkah baru untuk mendefiliasi dunia medsos ini agar tanggung jawab tersebut tidak hanya dikontrol oleh MenKominfo supaya Legal standing nya bisa terkontrol," imbuh Walikota Bima.

Ia berharap melalui diskusi lIterasi media ini dapat memberikan pencerahan bagi jurnalis dan media yang ada. "Karena begitu pentingnya media sebagai sarana pencerahan bagi masyarakat kita, karena saat ini Civil Sociaty sudah jenuh kepada media dan kalau itu terjadi maka kebenaran itu tak akan pernah lahir," pungkasnya. (GA. 003*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.