Header Ads

DKP Kabupaten Bima Gelar Evaluasi Pelaksanaan PUGAR


Kabupaten Bima, Garda Asakota.-

Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) dinilai dapat meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Bima yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bima, Ir. Syaifuddin, pada saat membuka kegiatan sosialisasi kegiatan Pengembangan Usaha Garam Rakyat pada kegiatan penataan dan pemanfatan Jasa Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima tahun 2019 yang dilangsungkan di aula pertemuan Kalaki desa Panda kecamatan Palibelo, Selasa (19/3).

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dirut PT. Gudang Garam Persero Surabaya, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bima, unsur Bappeda Kabupaten Bima, Kasi Pemanfaatan Biofarma kologi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Camat Bolo, Camat Woha, Camat Lambu Calon Lokasi Integrasi Lahan Garam, Kepala Desa Darussalam, Kepala Desa Sonco, Kepala Desa Sanolo, Kepala Desa Pandai, Kepala Desa Talabiu, Kepala Desa Lambu Lokasi PUGAR, Kelompok PUGAR dan Ketua Koperasi PUGAR serta Para Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat.

Staf Ahli Bupati Bima  Ir. Syaifuddin dalam arahan mengatakan bahwa salah satu upaya dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah melalui kegiatan pengembangan perekonomian berbasis kerakyatan yang dilakukan melalui upaya pemberdayaan masyarakat berbasis sumberdaya lokal. Konsep “pemberdayaan” telah mengubah konsep “pembangunan” dan sekaligus memberikan strategi pengentasan kemiskinan.

Diakuinya, keberadaan Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)  pada kegiatan penataan dan pemanfatan Jasa Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima tahun 2019 ini merupakan  program nasional yang menjadi kerangka kebijakan dan acuan pelaksanaan program penanggulanangan kemiskinan pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat petani garam yang difokuskan pada peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan pengentasan kemiskinan bagi petambak garam.

Upaya pemberdayaan masyarakat pesisir, tidak terlepas dari adanya kerjasama, koordinasi dan partisipasi dari berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah, Instansi Terkait, Perguruan Tinggi, LSM maupun masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, kata dia, dengan adanya Sosialisasi Kegiatan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) merupakan salah satu cara mempercepat transformasi informasi ke lapisan masyarakat sehingga dengan adanya kegiatan ini mari kita sama-sama membantu untuk mensukseskan programnya demi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan petani garam serta dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran bagi rakyat petambak garam pada khususnya dan masyarakat nelayan Bima pada umumnya. "Saya berharap kegiatan seperti ini kepada kelompok petani tambak yang tergabung dalam PUGAR ini  dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh agar kedepannya para petani dapat mengelola garam yang dimiliki dengan baik dan makin bermutu," harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima Ir. Hj. Nurma, M.Si, menjelaska bahwa kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melakukan dan mengevaluasi kembali berbagai kegiatan yang telah dilkukan baik yang berupa fisik maupun non fisik sehingga dapat mengetahui permaslahan yang ada sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan kegiatan pada tahun 2019 ini.

Untuk itu program pengembangan usaha garam rakyat tahun 2019 ini lebih diarahkan untuk integasi lahan dengan luas lahan minimal 15 Ha yang berada dalam satu hamparan dengan menerapkan teknologi geoisolator sehingga dapat diterapkan system resi gudang dalam rangka menekan harga dan stok garam. Integrasi lahan di satu kawasan memerlukan bebeapa upaya seperti; perbaikan saluran air kesetiap tambak, lahan integrasi harus mempunyai tandon air bakuyang cukup termasuk penataan lahan di kawasan itu.

Dalam rangkameningkatkan produksi dan kualitas garam, maka sala hsatu inovasi yang dilakukan dengan teknologi geoisolator yaitu sebuah system produksi garam dengan cara air laut diarahkan kedalam kolam penampungan terlebih dahulu, kemudian air laut tersebut disaring kedalam kolam penampungan yang sudah terlapisasi plastic hitam, sehingga perbandingan produktivitas garam dengan menggunakan geoislotor 100 porsen jauh lebih besar dari pada mengunakan cara tradisional.

Selanjutnya perbandingan produksi garam per hektar dengan mengunakan cara tradisional hanya bisa menghasilkan 60-80 ton sekali panen, namun dengan tekhnik geoisolator panen garan per hektar bisa  mencapai 120-140 ton per hektar. Keuntungan yang diperoleh oleh petani tambak dengan menggunakan plastic geoislotator sangat sigenifikan, sehingga produksi garam bisa meningkat. "Semoga dengan adanya sosialisasi ini para petani tambak garam bisa meningkatkan kesejahteraan mutu dari garam yang diproduksinya tersebut dan dapat dimanfaatkan oleh kebutuhan masyarakat," harapnya. Pada kesempatan tersebut dilanjutkan dengan sosialisasi PUGAR yang disampaikan oleh Dirut PT. Gudang Garam Persero Surabaya bapak Hatib serta Kasi Pemanfaatan Biofarma kologi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI Titik Budi Rahayu. (GA. 212*)


No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.