Header Ads

Mengurai Mimpi yang Terlupakan; Kota Bima Kota Tepian

*Faisal M. Jasin


Dari beberapa media penulis mendapatkan bahwa, Jumat sepuluh april 2015, pada hari ulang tahun Kota Bima ke-13 yang bertepatan dengan event dunia, “Tambora Menyapa Dunia”, Walikota Bima saat itu H.M. Qurais H. Abidin menyampaikan kepada publik tentang visi ataupun apa yang beliau maknai, dimana Kota Bima sebagai Kota Tepian Air atau  bahasa kerennya waterfront city. Visi dan mimpi Walikota saat itu oleh karena melihat Kotanya yang berbatasan langsung dengan laut yang menjadi sumberdaya utama. Akan tetapi setelah setahun kemudian banjir bandang melumpuhkan Kota Bima dan sekitarnya, akhir cerita Walikota Bima melupakan mimpinya dan hanya berkeinginan mengembalikan gairah kotanya yang luluh lanta akibat banjir.

Pemilu Kota Bima 2018 berhasil mengantarkan H. Muhammad Lutfi sebagai Walikota  yang mengusung visi besar  yaitu kota berkualitas dan setara yang diterjemahkannya terbentuknya suatu komunitas yang mampu berfikir secara komperhensif dan selalu mengantisipasi tuntutan di masa depan, memiliki sikap positif, berperilaku terpuji, dan berwawasan, serta memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan di berbagai bidang serta sektor pembangunan. Dan selanjutnya setara yang merupakan akronim dari sejahtera, transparan, akuntabel, ramah dan agamais. 

Membaca dan membedah visi baru Kota Bima saat ini, kesan penulis normatif dan paripurna sehingga setia orang bima diharapkan dapat menjangkau bumi dan langit dengan kapasitas yang dimilikinya dengan tujuan menjadi manusia yang sempurna lahir dan bathin. Pertanyaannya, seberapa besar sumberdayanya? Akan tetapi, penulis pada kesempata ini membatasi untuk mengurai mimpi mantan Walikota Bima yang belum tercapai, dan selanjutnya pada kesempatan berikutnya akan membantu masyarakat untuk mengukur visi besar Walikota terpilih dengan sumberdaya yang ada.

Kota Bima merupakan kota kecil yang secara  geografisnya berada dekat dengan pantai dan di kelilingi oleh laut serta berada tepat dibibir teluk, sehingga sumber mata pencahariannya di dominasi dengan nelayan, bertani dan industri jasa. Dengan potensi wisata pantai dan budaya oleh karena secara historis adalah pusat kesultanan Bima yang dikenal tangguh pada jamannya.

Julukan dari mantan Walikota tersebut, mendapat sorotan dari banyak pihak tentunya ada pro dan kontra, akan tetap penulis menyampaikan pendapat sebagai justifikasi visi sang Mantan, sehingga publik dapat menyimpulkan bahwa ini sesuai kebutuhan masyarakat dan  ditunjang oleh sumberdaya yang ada.

Waterfront city merupakan konsep yang lahir dari pemikiran seorang urban visioner Amerika yaitu James Rouse di tahun 1970-an, dimana melihat beberapa kota bandar di Amerika yang mengalami proses pengkumuhan yang mengkhawatirkan. Kota Baltimore  salah satunya.  Visi James Rouse yang didukung oleh pemerintah setempat akhirnya mampu memulihkan Kota Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya dan telah menjadi cotoh bagi pembangunan Kota tepian dunia seperti Amsterdam, Miami, Sidney, Kota Kanal Venice dan di Indonesia bisa kita lihat Batam, Balipapan, Palembang, Makassar dan Jayapura walaupun semuanya masih ada kurangnya.

Kota Tepian dapat diartikan sebagai suatu proses pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air sehingga bentuk pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi ke arah perairan baik secara visual maupun fisik.

Jika dilihat pada beberapa literatur bahwa Kota tepian memiliki beberapa jenis, yaitu konservasi, pembangunan kembali dan pengembangan, akan tetapi jika dilihat dari Kota Bima merupakan salah satu Kota yang rawan terhadap bencana Tzunami dengan kategori tinggi berdasarkan data BNPB, dipertimbangkan untuk memilih jenis Kota Tepian konservasi agar memiliki zona aman terhadap ancaman bencana. Seperti jika salah satunya kita ingin mendorong zona hutan mangrove yang mempunyai kemampuan sebagai penahan abrasi, amukan angin taufan, dan tsunami, penyerap limbah, dan pencegah intrusi air laut serta mampu menghadapi perubahan cuaca dan kenaikan muka laut tentunya juga dapat menjadi objek wisata edukasi, wisata alam maupun bernilai secara ekonomis bagi masyarakat nelayan oleh akan tumbuh ekosistem produkstif. 

Budaya masyarakat kita yang cenderung memunggungi sungai,pantai maupun,laut, alhasil  ekosistem  tercemari oleh limbah domestik,seperti hajat besar yang tinggal dilempar kebelakang, begitu juga dengan sampah-sampah akan tetapi jika itu berada didepan kita tentunya akan memiliki jasa keindahan dan merasa bersalah untuk tidak melindunginya.

Menurut Charles (2008), pengembangan konsep kota tepian air merupakan cara pemecahan masalah perkotaan yang terfokus pada masalah kultur dan budaya. Hal tersebut dilakukan dengan membuat keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan perlindungan di daerah pesisir menjadi kawasan terpadu  dengan cara mendorong revitalisasi tepian air dan pemanfaatan kebergantungan pada air sambil melindungi ikan dan margasatwa, ruang terbuka hijau dan daerah pantai, dan akses publik ke garis pantai dan lahan pertanian, serta meminimalisasi perubahan sistem ekologi yang merugikan seperti erosi dan bahaya banjir.

Faktor geografis menjadi dasar perancangan waterfront city, yang berkaitan dengan geografis kawasan serta untuk memastikan jenis serta pola penggunaannya. Faktor inimeliputi keadaan perairan (jenis laut, sungai), pasang-surut, konfigurasi dan dimensinya dan faktor lainnya adalah konteks perkotaan dimana ada beberapa faktor yang memunculkan ciri khas bagi kota pesisir serta keterkaitannya dengan bagian kota lain.

Sementara jika dilihat dari kriteria waterfront city, setidaknya Kota Bima memenuhi unsur untuk itu seperti berada di daerah tepian perairan besar seperti laut, memiliki pemandangan utama dan dominan ke arah perairan, merupakan wilayah yang berwujud pelabuhan, perdagangan, dan permukiman serta berada di tepian perairan yang memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi, industri, pelabuhan dan permukiman.

Di samping itu waterfront city bermanfaat sebagai pencegah banjir oleh karena sistem kanalnya bisa ditata dari hulu sungai-sungai di Kota sementara hilirnya dapat bermuara di laut. Dalam konteks pariwisata, pantai merupakan pemandangan yang menarik bagi semua orang ketika kondisi alam lingkungan hutan di Bima sudah tidak berfungsi lagi, begitu juga  dalam pembangunan ekonomi dimana sektor jasa akan tumbuh dengan giat oleh karena ada pusat-pusat ekonomi seperti pelabuhan dan lainnya.

Banyak waterfront city di Indonesia yang menjual icon kotanya dan telah berhasil menjadi maskot atau daya tarik kota, seperti Makassar dengan perahu pinisinya, Balipapan dengan hutan pantainya, Palembang dengan pasar terapung floating market, Jayapura dengan keindahan lautnya begitu juga dengan Batam sebagai kota pelabuhan, lantas bagaimana dengan Kota Bima, hemat penulis bima memiliki semuanya. Dan jika dilihat dari sumberdaya yang ada Waterfront city konservasi bisa menjadi pilihan, tentunya perlu kajian yang mendalam agar tepat dan sesuai dengan kehendak alam dan untuk lebih lengkap penulis akan mencoba menyajikannya secara bersambung.

*Ketua Bidang Informasi dan Teknologi Badan Musyawarah Masyarakat Bima dan Pengurus Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.