Header Ads

Humas RSUD Bima Bantah Insenerator Gagal Konstruksi

Ilustrasi

Kota Bima, Garda Asakota.-

Pihak RSUD Bima melalui, dr. H. Adi Winarko, Wakil kepala Bidang Hubungan Masyarakat membantah jika Insenerator yang ada di RSUD gagal Konstruksi. Sebelumnya mencuat dugaan bahwa insenerator untuk mengolah limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) atau limbah Medis, gagal konstruksi sebelum difungsikan. "Tidak ada alat Insenerator kami yang gagal konstruksi, itu semata-mata alatnya tidak di aktifkan atau di stop untuk di operasikan fungsinya sesuai dengan Saran dari KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) beberapa tahun lalu," bantah dr. Adi kepada Garda Asakota, Selasa (15/1).

Saat kunjungan kerjanya di RSUD Bima beberapa tahun lalu, KARS menyebutkan bahwa RS tidak lagi di perbolehkan untuk mengolah limbah Medis atau Limbah B3 sendiri melainkan harus melalui kerjasama dengan pihak ketiga. "Nah pihak ketiga yang bekerja sama dengan RSUD ada di Mojokerto. Kerjasama itupun tidak serta merta di setujui begitu saja tanpa melalui proses panjang," sebutnya.

Pihak RS untuk memastikan hal tersebut intens melakukan studi banding ke berbagai RS yang ada di Nusantara ini khususnya RS yang ada di wilayah NTB yang lebih awal telah bekerjasma dengan pihak ketiga. "Yang kemudian kamipun melakukan survey secara langsung ke pihak perusahaan pengolah limbah B3 di Mojokerto. Alhasil setelah kami melihat bukti bahwa Perusahaan tersebut benar-benar khusus mengolah limbah B3 maka RS Bima melakukan MoU (Memorandum Of Understanding) dengan Perusahaan tersebut," tegasnya.

Ketika disinggung bagaimana dengan pola kerjasama pengolahan limbah medisnya? dr Adi menjelaskan lagi bahwa setelah kerjasama tersebut di sepakati maka sejak saat itu pihak RS setiap harinya memilah-milah limbah yang ada, mulai dari limbah medisnya kemudian limbah non medis dan limbah rumah tangga semuanya di pisahkan, kemudian di tampung di gudang penyimpanan khusus yang terisolir. "Setiap hari ada petugas yang memilah-milah limbah Rumah Sakit juga ada petugas yang packing kemudian di tampung di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang ada di bagian belakang RSUD," jelasnya.

Kemudian lanjut dr. Adi, kerjasama tersebut tidak berbentuk pengiriman limbahnya melainkan pihak ketigalah yang datang mengambil limbah medisnya setiap bulan ke RSUD dengan menggunakan mobil khusus Limbah B3 dan Limbah tersebut tidak hanya di ambil RSUD Bima saja tetapi juga Limbah Medis di RS lain di NTB. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi Limbah Medis di RSUD karena setiap hari akan tetap ditampung di gudang tersebut kendati penyimpanannya lama di TPS sebelum diambil oleh pihak ketiga. Tidak akan berbahaya karena terisolir dari jangkauan masyarakat karena sudah di packing dengan baik dan aman menggunakan wadah khusus limbah medis," paparnya.

Sementara itu, Jainuddin, SKM, S.Sos, MM, Kepala Seksi Pendidikan dan Pelatihan RSUD Bima yang turut mendampingi juga membantah jika alat Kesehatan Insenerator RSUD gagal konstruksi. "Bukan gagal melainkan tidak di operasikan atau di stop berdasarkan surat rekomendasi dari KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) yang memiliki Kewenangan Independen langsung dari Kementrian Kesehatan RI. Mereka menyarankan bahwa RS tidak di perbolehkan lagi mengolah limbah medis sendiri mesti melalui kerjasama dengan pihak ketiga," tandasnya singkat. (GA. 212*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.