Header Ads

Ketidaksetiaan Persepsi dan Potensi Terbelahnya Ummat Islam


Oleh : Muhammad Aris Firdaus.*

Pro dan kontra seakan tidak mau menjauh dari bumi Indonesia. Seakan semua hal dihadapkan pada dua pilihan yaitu mendukung dan tidak mendukung. Setelah mencuatnya kasus kebohongan Ratna Sarumpaet, kini kasus  pembakaran lafadz Tauhid oleh oknum Banser adalah isu terdepan yang mengisi ruang-ruang hidup masyarakat.

Apa yang terjadi di Garut hari itu memicu kembali amarah ummat Islam, yang nampaknya sama ketika terakhir muncul pada Kasus Ahok. Umat Islam beramai-ramai menghakimi apa yang dilakukan Banser tersebut. Bahkan beberapa hari terakhir, muncul isu untuk membubarkan Banser karna dinilai banyak melakukan hal-hal yang kontroversial. Hal ini sangat menghawatirkan akan munculnya konflik di tubuh Islam sendiri.

Ada dua poin penting yang harus dilihat dalam kasus ini. Yang pertama adalah adanya kesalahan pandangan atau persepsi dari pihak Banser itu sendiri. HTI yang sempat di bubarkan oleh negara karna berideologi bertentangan dengan Pancasila tetapi kemudian mengajukan banding terhadap keputusan tersebut adalah fakta hukum yang digunakan oleh Banser sebagai alibi pembenaran terhadap apa yang dilakukan tersebut.

Banser memunculkan stigma-stigma negatif kepada HTI lewat pembakaran lafadz Tauhid. Tetapi di lain realitas  juga adalah ketidakadaan simbol khusus dari HTI itu sendiri. Pernyataan yang jelas sekali di utarakan Jubir HTI Ismail Susanto yang mengatakan bahwa HTI tidak memiliki Bendera. Hal ini merupakan hal yang sangat beralasan kemudian ketika HTI sering menggunakan lafadz Tauhid sebagai simbol atau bendera ketika berkegiatan, maka untuk membenci HTI kemudian Banser membakar lafadz Tauhid sebagai representasi kebencian terhadap HTI itu sendiri.  Tetapi hal tersebut tidak bisa dibenarkan, dalam sejarahnya lafadz Tauhid adalah lambang kebesaran dan keagungan dari Islam itu sendiri.  Lafadz Tauhid adalah kebanggaan milik semua muslimin dan muslimat di seluruh dunia.

Yang kedua, runtuhnya persatuan dalam Islam karena politik. "Islam terpecah" bahasa konotasinya. Hawa politik yang memanas ikut juga merambah ke dalam terkoyaknya kedamaian Islam adalah bumerang yang sangat berbahaya bagi keutuhan Islam dan bangsa. Terbaginya organisasi Islam ke dua sumbu politik hari ini menjadikan Islam terkotak-kotak dan lebih berorientasi pada saling menyalahkan dan saling membenarkan. Persatuan atau ukhwah islamiyah yang harus dikedepankan mulai disingkirkan. 

Selebihnya kasus ini menandakan ada ketidaksetiaan persepsi dan pandangan dalam tubuh Islam hari ini. Sudah saatnya para pemuka dan ulama menunjukkan kebijaksanaan dan ketokohannya dalam menyelesaikan masalah disorientasi persatuan ini. Perbedaan politik bukanlah satu alasan pembenaran untuk membenci dan memusuhi kelompok lain. Islam itu satu, jangan kemudian mempertontonkan keruntuhan Islam di Indonesia dengan ego dan kepentingan masing-masing. Wallahu'alam Bissawab. 

*Penulis adalah Mahasiswa FKIP Unram

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.