Header Ads

Gempa, TGB, dan Relawan



Oleh: Hazairin AR
Musibah gempa adalah peristiwa yang menguji apakah akal sehat dan nurani kita masih menyimpan cahaya...? Yang tertimpa musibah kita ucapakan duka cita, kita berempati, kita berpihak. Di situ menandakan adanya kewarasan berpikir.

TGB seorang Ulama menurut pandangan dan pengakuan banyak orang, Gubernur, bahkan sempat melanglang buana mencari dukungan untuk misi Pilpres. Walau berhenti pasca mengambil sikap mendukung Jokowi dua periode.

Saya coba loncat ke soal sikap TGB mengurus rakyat yang dirundung duka akibat gempa..., sudah sejawarnya TGB sibuk dan wajib capek, sebab yang kena musibah rakyatnya, jangan lagi dilihat sikap TGB seolah-olah lebih dari yang lain. Kapasitasnya memang harus seperti itu bahkan saya anggap tidak ada yang istimewa sama sekali.

Kenapa?

Apapun yang TGB lakukan dalam konteks penanganan gempa secara otomatis mengikat kewajiban negara membayar honor TGB sebagai Gubernur. Suka atau tidak, itu faktanya.

Justeru keistimewaan TGB dalam kapasitas sebagai Gubernur ketika memerintahkan Newmont Nusa Tenggara/Perusahaan tambang emas yang beroperasi dlm wilayah kekuasaan TGB untuk menanggung biaya materil masyarakat yang kena gempa yang ditaksir satu triliun.

Justeru keistimewaan TGB dlm kapasitas sebagai Gubernur ketika mampu meyakinkan semua eselon 2 di tingkat Propinsi untuk merelakan gaji dan atau total honornya setahun diberikan secara suka rela kepada masyarakat yang tertimpa musibah gempa.

Justeru keistimewaan TGB ketika sejenak introspeksi lalu menemukan ruang hening dari dalam jiwanya, seraya berkata " saya of segala urusan yang berbau politik kekuasaan dan memilih sisa usia menjadi Imam di Islamic Centre.

Justeru keistimewaan TGB ketika separuh harta warisannya dijual untuk secara suka rela diberikan kepada korban yang tertimpa musibah.

Hati-hati menyebut TGB luar biasa jika yang dia jalankan melekat kapasitas jabatannya. Itu sudah kewajiban yang wajib beliau tunaikan.

Bayangkan relawan...

Mereka tidak digaji, mereka tdk digerakan. Mereka terpanggil di atas kekayaan moral dan ketinggian rasa cinta dan empati pada kemanusiaan. Organisasi sosial bahu membahu menggalang bantuan, membagi bantuan...., anak isteri mereka tinggalkan, mandipun mungkin jarang, sudah barang tentu mereka makan seperti menu makan korban.

Bayangkan...

Anak-anak Mahasiswa rela berpanasan di jalan, menenteng kotak amal, menyatu dengan debu dan asap kendaraan..., mereka tidak digaji, mereka lakukan atas panggilan jiwa, panggilan idealisme.

Seburuk-buruknya relawan dan mahasiswa, mereka rela untuk tidak mendapatkan apa-apa...

Semulia-mulianya kekuasaan, belum tentu  merelakan memberi pendapatannya....

Bukankah  kualitas beragama manusia dinilai dari kerelaan berkorban melampaui kebesaran dirinya?*.

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.