Header Ads

Meramal Pemenang Pilkada Kota Bima 2018

Oleh: Oleh : Zulchijjah M.Si


Dalam politik behavioral, ada beberapa kecenderungan tindakan politik yang bisa dijadikan variabel untuk menyimpulkan suatu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi. Metode ini digunakan seperti menyimpulkan air yang akan mendidih dalam waktu tertentu bila dipanaskan dengan api dalam volume tertentu. Air dapat disimpulkan mendidih tanpa perlu menunggu peristiwa air yang akan mendidih. Dalam konteks politik (pilkada), kesimpulan siapa pemenang dalam pilkada pun bisa disimpulkan tanpa menunggu peristiwa pencoblosan itu terjadi.

Namun, menentukan variabel siapa pemenang pada pilkada jelas jauh lebih rumit dari sekedar memanaskan air. Salah satu upaya penulis adalah dengan hati-hati menentukan determinan variabel yang banyak mempengaruhi peristiwa politik. Bila kita sepakat, variabel yang mempengaruhi peristiwa politik di kota Bima adalah elit ditingkat parpol, pebisnis, issue politik, birokrat, dan rupiah, maka analisa penulis dapat lebih jauh diselami pada paragraf berikutnya.

Mengapa tim sukses tidak dijadikan determinan variabel? Saya jawab karena tim sukses adalah instrumen yang berjalan, yang artinya bukan pikiran dari politik. Tim hanya penyalur pesan politik, dan tidak berpengaruh pada keterpilihan siapapun tanpa "nalar" yang menggerakkannya. Siapa itu nalar? Nalar adalah orang-orang dalam jumlah sedikit yang dipercaya mendiskusikan strategi kemenangan secara terus menerus dalam ruang sunyi.


Elit parpol

Apakah ada kaitan antara banyaknya partai pendukung dengan kemenangan? Jawabannya tergantung. Saat pertama kali TGB bertarung di pilgub NTB, TGB menang jauh melampaui lawannya hanya dengan dukungan dari beberapa partai islam. Di DKI, jokowi dan Ahok pun menang kala melawan petahana yang memborong mayoritas parpol. Lalu apa sebenarnya faktor utama dari kalahnya para kandidat pemborong parpol?

Salah satu efektifnya gerak mesin partai adalah soal kefiguran. TGB dan Jokowi menang, salah satunya karena kefiguran. Sebab tanpa kefiguran, mesin partai tidak akan memberi efek apapun bagi kemenangan. Kalau figur bagus, mesin partai banyak, maka peluang menang jauh lebih besar. Bayangkan saja, dengan tingkat kefiguran yang tinggi, parpol minoritas mampu menerobos garis dominasi dan hegemoni parpol mayoritas, bagaimana dengan pemborong parpol, tentu lebih leluasa menerobos.

Kita sepakati bahwa antara Lutfi, Man dan Subhan  sama memiliki aura kefiguran dalam skala tertentu. Ini bisa diukur dari kegembiraan publik bertemu ketiga figur tersebut dalam ruangnya masing-masing. Subhan yang pencalonannya independen tidak akan dibahas pada variabel ini.

Man yang didukung oleh segelintir partai akan berhadapan dengan Lutfi sang pemborong parpol. Kalkulasi figuritas nya sama, namun jumlah parpol pendukung membedakannya. Apakah ini menandakan Lutfi lebih unggul dari Man dari segi parpol pengusung? Dari segi jumlah, iya. Tapi jangan lupa, demokrat adalah partai penguasa yang kokoh bertahan sampai hari ini. Komando kemudinya adalah kakak kandungnya, yang juga kini masih menjabat walikota. Artinya, Man punya mesin potensial yang tidak bisa hanya dianalisis dengan sisi jumlah. Dari segi ini kita anggaplah, kekuatan Lutfi dan Man sama.

Tapi sebelum kesimpulan tersebut dimatangkan, saya pikir perlu kita mengajukan satu pertanyaan lagi, bagaimana hubungan Man dan Qurais saat ini? Sebab potensi mesin demokrat akan ditentukan oleh jawaban dari pertanyaan tersebut. Posisi Ferra juga demikian, IDP tidak bisa berbuat apa-apa dengan partai golkarnya.

Karena analisa ini hanya dibatasi pada hal yang faktual dan bisa diamati, dengan menyampingkan keterlibatan fenomena tersembunyi, maka kesimpulannya,  Lutfi jauh lebih unggul pada variabel ini.

Issue politik

Satu-satunya yang bisa menyatukan individu menjadi massa dalam ruang publik adalah issue, atau peristiwa nyata yang melibatkan banyak orang, yang berhasil dijadikan diskursus secara terus menerus. Kemenangan Anies atas Ahok contohnya, atau pemilu di malaysia yang melibatkan isu TKA cina baru-baru ini.

Di kota Bima issue banjir memang sudah tidak sepopuler sebelumnya, yang sempat membuat Man harus meradang. Walaupun diwilayah tertentu masih cukup jitu untuk dipakai. Issue korupsi al quran juga sempat membuat Lutfi sakit panas. Namun seiring berjalannya waktu, issue seperti itu tergerus dengan sendirinya.

Sepertinya, issue politik di kota bima kurang mendapat tempat. Sebaliknya, memobilisir massa dengan simbol tertentu mendapat tempat bagi kegembiraan publik secara masif untuk terlibat mendukung salah satu kandidat. Senam lutfer yang sempat populer dan gerakan ribuan obor yang bertahan sampai saat ini menandakan dua hal, pertama dari tiga kandidat yang bertarung, hanya satu kandidat yang memiliki keterampilan menarik massa dalam sebuah simbol tertentu. Melalui simbol, massa mendapatkan ruang untuk meluapkan kegembiraaan politiknya. Artinya ada ikatan rasional yang menyatukan emosi individu dalam sebuah massa begitu kuat, ini jelas menguntungkan kandidat tersebut. Lutfi kembali dianggap unggul pada variabel ini.

Birokrat

Birokrasi bukanlah ruang yang sunyi dari tindakan politik,  birokrasi adalah organisme hidup yang juga punya instring, naluri,  dan motivasi untuk mendapatkan sesuatu dari keterlibatannya dalam politik. Birokrasi juga diselimuti keinginan untuk mendapatkan kekuasaan, kongkritnya demikian.

Apa saja tindakan alami birokrasi untuk mendapatkan atau mengamankan kedudukan yang telah diperolehnya dalam frame politik? Jawabannya, Kalkulasi peluang. Apa yang diperhitungkan? Karena birokrasi sudah terbiasa dengan kepemimpinan yang lama, yang memungkinkan mereka tetap bertahan atau mendapatkan yang lebih, Man dalam konteks ini diuntungkan. Mereka yang lama tersisih, tentu akan beralih dukungan, cuman kelemahannya, mereka yang tersisih tidak cukup kuat dari aspek sumber daya dan pengaruh. Lutfi kurang lebih kalah jauh pada variabel ini.


Pebisnis

Pebisnis dan politik adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang tak terpisah. Antara pebisnis dan politik saling mempengaruhi. Untuk mengamankan sumber daya, pebisnis menjalin hubungan dengan politik, dan untuk tetap survival, politik juga membutuhkan sumber daya yang dimiliki pebisnis. Karenanya, melalui jalur politik, keputusan dapat mempengaruhi tingkat kecil dan besarnya keuntungan yang akan diperoleh pebisnis. Serta melalui sumbangan sumber daya pebisnis juga menentukan "kekuatan" setiap mesin dalam keterpilihan politisi pada kompetisi politik.

Siapa pebisnis di kota Bima yang paling membutuhkan perlindungan politik? Hampir disetiap sektor pasar dikuasai oleh orang cina dan arab. Tentu pebisnis cina jauh lebih banyak, sisanya campuran. Apakah pada pilkada kota bima cina bermain dua kaki? Atau mendukung salah satu? Atau netral? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini, sebab jam terbang cina sudah jauh lebih tinggi soal politik.

Yang paling penting untuk dijawab adalah pertanyaan, siapa kandidat paling berpeluang menang pada pilkada kota bima? Siapapun dia, dari manapun asalnya, pebisnis akan terlebih dahulu membaca soal peluang. Kalau itu hipotesis nya, maka Lutfi akan dibanjiri sumber daya untuk meningkatkan daya pukulnya pada pilkada kota bima nanti. Sebab, pada dua variabel yang dianalisis diatas, menyimpulkan besar nya peluang Lutfi. Ini juga yang akan digunakan pebisnis sebagai basic menghitung peluang.


Rupiah

Tenaga utama dari mesin pemenangan adalah rupiah. Siapapun kandidat yang berhasil mengamankan dukungannya dengan sumber daya, kandidat itulah yang nantinya akan menang. Sudah pasti juga berdasarkan keterlibatan variabel-variabel lainnya. Dana yang mengalir dari pebisnis dan ditopang dengan sumber daya yang dimilikinya sendiri, Lutfi saya kira punya peluang besar untuk menang.

Dihitung dari siklus variabel seperti parpol, pebisnis, rupiah dan issue politik, Lutfi unggul. Sedangkan pada variabel birokrat, Man yang unggul. Jika landasan analisis ini yang kita pakai, dengan memperhitungkan variabel mayoritas, maka Lutfi Ferry akan menahkodai Kota Bima periode 2018-2023.

Sebagai penutup, Seperti yang dikatakan oleh Wasby, salah satu pakar ternama, "Politik adalah seni mengelola yang tidak mungkin menjadi mungkin". Artinya, semua bisa menjadi mungkin dalam politik. Semua tergantung soal bagaimana mengelolanya.*Wallahu A'lam Bissawab

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.