Header Ads

Tak Ingin Ada Fitnah, Ketua Kelompok Tani La Cici Jatiwangi Undur Diri

H. Syahbuddin HM. Said.


Kota Bima, Garda Asakota.-

Terhitung sejak Desember 2016 sampai Februari 2018 berbagai prestasi pernah diraih oleh Kelompok Tani La Cici Jatiwangi Kecamatan Asakota Kota Bima sejak berada di bawah kendali H. Sahbudin HM. Said. Diantara prestasi itu adalah pernah menyabet Juara 1 tingkat Kota Bima bidang pertanian tentang Tanaman Padi dan Kerapian Pagar serta Administrasi Kelompok Tani dan juara 3 untuk tingkat Propinsi NTB di Bidang yang sama pun berhasil disematkan.

Akan tetapi, kata Aji Syahbuddin, semua prestasi tersebut seakan tak ada maknanya manakala ada oknum tertentu yang merasa tidak senang dengan cara kepemimpinanya  yang dianggap tegas dan tanpa kompromi, apalagi menyangkut persoalan bantuan sehingga tidaklah mengherankan jika sekarang di depak dari tampuk pimpinan ketua kelompok tani La Cacici walaupun dengan cara sebuah pengunduran dirinya.

"Sikap tegas harus saya ambil terkait dengan keberadaan saya sebagai seorang ketua kelompok tani La Cici karena saya merasa ada konspirasi yang terjadi di dalam tubuh anggota Kelompok Tani yang saya pimpin. Saya tidak ingin ada fitnah," tegasnya kepada wartawan, Selasa (6/3).

H. Syahbuddin menjelaskan alasan pengunduran dirinya itu. Ia menyebutkan bahwa sikap tegasnya itu berawal dari adanya program pemerintah yang mengagendakan agar saluran drainase primer yang ada di sekitar lingkungan Jatiwangi ditutup atau di cor. 

"Saya di suruh tanda tangan untuk menyetujui program tersebut jelas saya menolak karena saluran drainase tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi kelompok tani Lacici saja tapi juga untuk kelompok Tani Mada Oi Pali, tentunya saya harus menunggu persetujuan semua anggota kelompok tani yang ada baru saya akan tanda tangani dan itu tidak bisa terlaksana. Kemudian, persoalan lain yang saya rasa menjadi sumber masalah adalah "Benih" ada isu miring  yang menganggap bahwa saya tidak memberikan benih kepada sebagian anggota kelompok tani dan itu semua adalah sebuah fitnah besar karena semua proses kegiatan yang terjadi di kepengurusan kelompok tani tetap saya inventarisir dalam pembukuan termasuk nama-nama anggota kelompok tani yang mengambil benih, yang belum mengambil benih bahkan yang menolak mengambil benih karena ada benih sendiri pun semua tercatat. Yah, tidak mungkin lah sesama anggota kelompok tani tidak saling menyampaikan informasi bila ada kegiatan kelompok tani. Saya merasa didzholimi oleh oknum anggota kelompok tani saya sendiri," tuturnya.

Disinggung tentang sikap yang akan dilakukan terhadap kejadian tersebut. H. Syahbuddin mengaku akan tetap legowo saja. "Mungkin ini adalah takdir atau garis hidup terbaik yang harus saya jalani," tegasnya. Mengenai alat alat pertanian yang selama ini telah diterima dan ada di sekretariat Poktan, maka dirinya siap menyerahkan semuanya karena itu bukan miliknya pribadi atau milik ketua kelompok tani. "Tetapi itu adalah milik Kelompok Tani jadi sudah kewajiban saya mengembalikan sesuatu yang bukan hak saya," pungkasnya. (GA. 212*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.