Header Ads

Duet LUTFI-FERI Dijuluki 'NoliQu' Jilid-2

Lutfi-Feri mengacungkan dua jari usai pengundian nomor urut beberapa waktu lalu.

Kota Bima, Garda Asakota.-

            Banyak orang mengatakan bahwa duet Calon Walikota dan Wakil  Walikota Bima,  HM. Lutfi, SE-Feri Sofiyan, SH,  merupakan duet yang secara komposisi bisa saling mengisi satu sama lain baik dari aspek pengalaman hingga dari aspek basis massa yang bisa mendulang suara besar dalam meraih kemenangan di Pilkada Kota Bima periode 2028-2023. Bahkan ada yang menyebut paslon yang diusung sembilan Parpol Pengusung (PAN, GERINDRA, GOLKAR, PKPI, PBB, PPP, HANURA, NASDEM dan PKB) ini mirip paslon NoliQu di Pilkada silam, baik dari sisi silsilah maupun dari sisi kelahiran calon.
            ‎
            ‎Hal inipun diakui langsung oleh calon Walikota Bima 2018, HM. Lutfi, SE, saat bersilaturahim dengan ratusan elemen masyarakat lingkungan Niu Kelurahan Dara Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima, Selasa sore (19/2). Untuk diketahui, kata dia, bahwa Bapak Feri Sofiyan ini adalah putra kelahiran Penatoi sekaligus representative dari wilayah bagian Barat, sedangkan HM. Lutfi, putra asli Rontu yang merupakan representative dari wilayah bagian Timur Kota Bima. Keduanyapun diakuinya ada hubungan kedekatan dengan dua putra terbaik Kota Bima tersebut.

       ‎"Jadi, kombinasi pasangan Calon Lutfi-Feri ini persis sama dengan NoliQu di Pilkada silam, almarhum Nur Latief putra asli Rontu, sedangkan HM. Qurais asli Penatoi. Nomor urutnyapun nomor 2, sama dengan Lutfi-Feri," ucapnya disambut riuh yel-yel Salam Perubahan,  Salam Dua Jari dari warga masyarakat Niu. "InsyaAllah komposisi Lutfi-Feri ini akan saling mengisi, katakanlah saya mengisi di bagian Timur dan pak Feri mengisi di bagian Barat," sambung Lutfi yang memiliki isteri di wilayah Asakota sama seperti wakilnya Feri Sofiyan yang juga memiliki isteri di Asakota.

            Menurut Lutfi, dalam memimpin Kota Bima tentunya akan banyak belajar dari para pendahulu Kota Bima termasuk dari pamannya sendiri almarhum Nur Latief. "Salah satu yang diajarkan kepada saya bahwa menjadi Pemimpin itu butuh keikhlasan, harus rela menyiapkan waktu 1 x 24 jam dan juga mengutamakan kepentingan orang lain dibanding keluarga sendiri. Makanya almarhum sampai dengan hari ini masih dicintai oleh masyarakatnya karena 1 kali 24 jam selalu mengingat siapa saja," ucapnya. Masih mengutip pesan almarhum Nur Latief, sudah tidak model lagi pemimpin yang rumahnya dijaga ketat aparat dan jarang didatangi warganya.  "Boleh dilihat bagaimana modelnya almarhum Nur Latief, rumah almarhum selalu terbuka dan bahkan lebih banyak turun ke masyarakat. Almarhum mengajarkan bahwa kesuksesan itu tidak berarti karakter, perilaku dan watak berubah,  pangkat dan jabatan ini tidak harus membuat kita jauh dari masyarakat. Sesungguhnya menjadi pemimpin di daerah harusnya menjadi teladan, bukan untuk dikultuskan," imbuhnya.
   
       ‎ Lutfi mengaku banyak mengambil contoh perilaku dan watak pemimpin yang dicintai oleh masyarakatnya. "Seperti contoh, selama di DPR RI gaji tidak pernah disentuh isteri saya. Boleh ditanya sama isteri saya karena setiap siapapun yang datang saya tidak bisa menolak. Itu petunjuk Allah yang datang, itupun juga yang dilakukan almarhum Nur Latief. Cuman gaya almarhum  berbeda, di tinggalkan HP jika tak punya uang. Itulah cara beliau untuk tidak menyakiti orang. Beliau pantang mengatakan tidak punya uang. Sementara saya orangnya jujur,  kalau nggak punya uang katakan tidak. Tapi mada janjikan jika ada rijeki,  asal dia datang pasti dikasih," pungkasnya. (GA. 212*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.