Header Ads

HML Versus AJI MAN Dalam Pilkada Kota

Penulis   : Arif Kurniadi SH (Presidium SATGAS Bima-Jakarta)

    Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bima yang akan digelar pada Tahun 2018 adalah momentum  re-konsolidasi, re-evaluasi, restrospeksi membangun tatanan pemerintahan yang beradab dan taat asas, untuk membangun tatananan masyarakat sosial madani yang selaras dengan visi pembangunan yang berkeadilam dan berkemanusiaan berbasis desentralisasi yang memberi kewenangan otonomi pada setiap keputusan yang tidak bertentangan dengan aspirasi mayoritas warga Kota Bima. Membangun tata kelolah pemerintahan yang berwibawa dan membangun masyarakat yang berkeadilan dan berkemanusiaan adalah pesan inti dasar Negara untuk diinternalisasi dan dieksternalisasi melalui keputusan politik. Pilkada Kota hanyalah titik star konsolidasi demokrasi yang membenarkan evaluasi menyeluruh tentang makna kepemimpinan sebuah pemerintahan, partai politik juga memiliki otoritas pengaruh untuk memastikan konsolidasi demokrasi berlangsung damai, aman, serta amanah.

 Siapa HA. Rahman HA?

     Beliau Wakil Walikota Bima yang berlatar belakang kontraktor, menjadi politisi dengan menumpangi Partai Gurem-Partai PDK, alumni Fakultas Ekonomi Unram, berhasil menjadi Anggota DPRD Kota Bima di Masa kepemimpinan H. M. Nur A Latif sebagai Walikota Bima & H. Qurais Abidin sebagai Wakil Walikota Bima. Ketika H. Qurais Abidin menggantikan posisi Walikota mendiang Nur Latif, pria yang akrab disapa Aji Man diusulkan oleh Fraksi-Fraksi DPRD Kota sebagai Wakil Walikota kemudian mendapat mandat pengesahan dari Kementerian dalam negeri, maka jadilah beliau Wakil Walikota keberuntungan. Selanjutnya, kembali menjabat posisi Wakil Walikota satu paket pasangan dengan HM. Qurais H Abidin yang memenangkan Pilkot Kota Bima Tahun 2013-2017.  Bersama HM. Qurais H Abidin, Aji Man  mengusung tema perjuangan yang dipertegas dalam visi misi tentang; Kota Bima Beriman, Kota Bima Kota perdagangan, Kota Bima Kota yang maju dan Kota Bima Kota yang sejahterah.

 Benarkah visi-misi itu berjalan?

       Kota Bima Beriman tidak sebanding dengan fakta sosial yang nampak, peredaran gelap miras, tidak ada regulasi yang melarang praktek prostitusi, tidak ada sikap yang kuat di soal pemberantasan Narkoba, tidak ada sikap yang tegas tentang antisipasi terorisme yang terjadi berulang-ulang di Kota Bima, padahal otoritas politik pengawasan dan koordinasi melekat dalam jabatan Wakil Walikota Bima.

     Kota Bima sebagai Kota perdagangan dengan fasilitas infrastruktur yang tersedia dimasa kepemimpinan HM. Qurais H Abidin dan  Aji Man memang dirasakan keberadaannya, tapi berjarak dengan nurani dan moral sosial sehingga penggusuran pun dilakukan atas nama otoritas politik. Padahal otoritas politik yang gagal menumpas problem sosial adalah refleksi kefakuman etik otoritas politik itu sendiri. Keberhasilan membangunan infra struktur Kota Bima pada satu sisi tanpa diimbangi dengan pembangunan moral sosial pada sisi lain, adalah cukup alasan bahwa kekuasaan yang sedang dijalankan tidak sungguh-sungguh dirasakan dalam suasana kebathinan masyarakat.

      Kota Bima yang maju dalam pengertian pembangunan citra sepihak kekuasaan tanpa adanya ketersediaan sumber-sumber produksi yang mengangkat hajat hidup orang banyak, tentu saja menjadi anomali pembangunan. Kota Bima yang makmur tanpa menumbuhkan partisipasi publik yang memadai, tanpa kenyataan menggerakan sektor lain sebagai sumber potensi Kota Bima di luar sektor jasa dan perdagangan, maka akan berdampak pada kesejahteraan yang timpang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin tak tertolong nasibmu, padahal itulah tugas pembangunan berdasarkan otoritas politik yang tersedia.

 Siapa HM Lutfi Iskandar?

     HM Lutfi Iskandar the real movement, menyandang heroisme sebagai orang pergerakan di pusat kekuasaan yang menjembatani aspirasi sosial mayoritas perlawanan terhadap Orde Baru hingga Orde Baru tumbang. Sebagai orang pergerakan, Lutfi Iskandar adalah simbol akumulasi perlawanan yang menanamkan kebencian pada kepemimpinan Soeharto direntang dua puluh Tahun perjuangan jauh sebelum gerakan reformasi memuncak pada Tahun 1998. Lutfi Iskandar juga berdarah Nahdiyyin  tapi bukan simbol kebesaran dinasti dagang maupun dinasti politik. Lutfi Iskandar berjuang seperti aktivis kebanyakan, merangkak dari bawah hingga sukses merebut panggung sejarah yang tersave dalam memori pergerakan Mahasiswa dari masa ke masa.

      Sebagai Politisi, Lutfi Iskandar berhasil menduduki DPR RI dua periode, suatu langkah besar dan cita-cita yang tidak diraih oleh semua orang. Apapun itu, Lutfi Isknadar adalah Putra Bima yang mengukir sejarah tanpa menonjolkan populisme wacana politik di ruang publik, suatu pilihan yang tidak perlu diperdebatkan sepanjang Lutfi Iskandar sungguh-sungguh menyerap aspirasi konstituen, sepanjang bisa menjembatani aspirasi kepentingan DANA MBOJO untuk tujuan kelangsungan pembangunan daerah. Lutfi Iskandar, kini melamar perasaan publik Kota Bima sekaligus permisi dalam kontestasi Pilkada Kota Bima. Lutfi Isknadar mengajarkan kemahiran tindakan merangkul Partai Politik sebagai kendaraan, pun itu berhasil dengan sangat baik, di dukung dengan kerendah- hatian Feri Sofiyan sebagai Ketua PAN Kota Bima yang legowo pada posisi nomor dua sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota Bima.

Membedah HML vs AJI MAN.

     AJI MAN yang bermaksud mengandalkan popularitas incumben sebagai Wakil Walikota dalam Pilkada Kota akan sangat membahayakan popularitas dan elektoral ketika ruang publik hadir sebagai bantahan. Peristiwa banjir adalah akumulasi penataan Kota yang buntu saluran dan resapan air, fakta praktek Narkoba, terorisme dan penyakit sosial lainnya adalah adalah bertumpu pada lemahnya leadersip.

     Sumber daya politik Aji Man yang sangat kecil merangkul partai pengusung dan gonta ganti calon Wakil adalah jawaban ketidakmatangan komunikasi politik dan rendahnya energi ekonomi sebagai pisau tarung. Aji Man sudah pasti menunggu kekuatan konsolidasi H. Qurais yang memiliki sumber daya ekonomi dan sumber daya politik yang lumayan bagus. Tapi harus siap menerima konsekwensi tuduhan sebagai praktek memperkuat dinasti yang bakal diramaikan dengan protes kelompok civil society.

     Saat yang sama, rilis berita keberpihakan Ketua Nasdem Kota Bima sebagai Ponakan Qurais Abidin kepada pasangan HML-Feri Sofiyan adalah perwujudan pecahnya kamar politik dinternal keluarga besar H. Abidin pada satu sisi dan di sisi lain adalah alamat mewaspadai tuduhan dinasti itu sendiri. Suatu kenyataan yang mensugesti kecakapan kerja politik dan konsolidasi politik HML-Feri Sofiyan dalam Pilkada Kota Bima.

     Aji  Man akan mengalami kesulitan menjernihkan kritikan publik dan bisa menggerus popularitas dan elektabilitas ketika soal-soal yang mencuat sebagai fakta di ruang publik turut menyandera rasionalisasi Aji Man sebagai subjek yang bertarung dengan misi politik kekuasaan.

     Posisi HML sangat diuntungkan, oleh karena bukan eksekutif yang mengesekusi kebijakan publik, diperkuat dengan kesolidan dukungan PAN serta sejumlah Partai Politik pengusung. Sebagai orang pergerakan dan politisi, HML adalah tesis sosial yang bisa dipercaya sebagai strong leader sepanjang memiliki kemampuan kerja politik menggarap perasaan arus bawah yang tidak terjamah oleh pembangunan pada periode kepemimpinan Incumben. Saya berharap, HML tetap pada sosok yang pandai berterimah kasih pada kritik bahkan caci maki, sebab "tidak ada pemimpin besar tanpa kontroversial".

     HML dituntut kepekaan merespon isu aktual dan perasaan publik untuk dieksekusi dalam konsolidasi yang rinci dan akurat agar praktek politik meraih kekuasaan sepadan dengan tuntutan moral publik. Artinya, MHL harus sungguh-sungguh membuktikan keberpihak pada golongan yang lemah jauh sebelum dinyatakan resmi sebagai kekuasaan eksekutif. Wallahu'alam Bissawab*).








No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.