Header Ads

AYAM KUB MENJAWAB KEBUTUHAN “KULINER AYAM TALIWANG” DI NTB


                 Penulis : Syamsul Bahraen dan M. Faesal Matenggomena (Penyuluh BPTP NTB)



        Pemeliharaan ayam kampung merupakan budaya masyarakat yang dapat dijadikan menu istimewa  sehingga menjadi kuliner berbasis ayam kampung spesifik lokasi.  Ayam taliwang merupakan jenis kuliner berbasis ayam kampung yang sangat terkenal di NTB sehingga permintaannya cukup tinggi. Populasi ayam  kampung di NTB sampai tahun 2014 sebanyak 6.420.731  ekor untuk ayam pedaging sebanyak 9.440.867 ekor dan ayam petelur 297.441 ekor (BPS NTB, 2015). Adapun kebutuhan daging ayam di NTB untuk tahun 2014 mencapai 4.000 ton pertahun (Anonimus. 2015).  

        Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani dan permintaan pasar untuk daging dan telur ayam kampung yang cukup tinggi, terutama permintaan untuk ayam taliwang dan kebutuhan telur ayam kampung untuk kesehatan, peternak sangat kesulitan mengembangkan ayam kampung karena waktu pemeliharaan yang tergolong lama jika dibandingkan ayam ras pedaging.

    Untuk merespon kebutuhan peternak, Badan Litbang Kementerian Pertanian telah mengembangkan Ayam Kampung Unggul Balibangtan atau dikenal dengan Ayam KUB, dengan pertumbuhan lebih cepat dari ayam kampung biasa. Pengembangan Ayam KUB terus menerus dilakukan oleh BPTP NTB melalui kegiatan desiminasi dan pendampingan kepada masyarakat NTB, sehingga pada saat ini pemeliharaan Ayam KUB telah tersebar di 10 kabupaten / kota di NTB dalam rangka pemenuhan permintaan pasar.

       Sementara itu, sebagai ayam pedaging, ayam KUB memiliki pertumbuhan yang cepat, kebutuhan protein dan energi hanya 17,5% dan 2.800 Kkal/kg ransum, mencapai berat 0,8-1,1 Kg dalam waktu 10 minggu dengan ratio konversi pakan terhadap pertambahan berat badan 3,3 (g/g). Sebagai pembanding  disajikan hasil penelitian Iskandar dkk., 1977 yang mendapatkan pertambahan berat badan ayam kampung sampai umur 12 minggu sebesar 704 gram/ekor dengan ransum kadar protein 17%,  atau dengan kata lain kalau rata-rata berat awal ayam kampung 35 gram/ekor, maka berat ayam kampung hasil penelitian tersebut pada umur 12 minggu hanya mencapai 739 gram/ekor dengan konversi pakan 4,79 (g/g). Namun jika dibandingkan dengan ayam kampung biasa maka ayam KUB jauh menguntungkan. Umur 45 hari sudah bisa dipasarkan sebagai ayam “Taliwang” dengan harga Rp.20.000-22.500/ekor dengan berat bersih 0,4 kg, sedangkan ayam kampung berat yang sama dicapai pada umur > 60 hari. (Muzani A. 2017 Infotek Vol I BPTP NTB)

    Ayam KUB sangatlah mudah untuk dikembangkan di pekarangan rumah sebagai alternative peningkatan pendapatan rumah tangga atau bisa juga sebagai pilihan bisnis, dengan cara pemeliharaan sebagai berikut :

Pemeliharaan ayam KUB di pekarangan

     Pemeliharaan ayam KUB disarankan pada lahan pekarangan katagori sedang (≥120 m2),  berdampingan dengan tanaman sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, obat-obatan dan pemeliharaan ikan. Berikut teknis pemeliharaan ayam KUB di lahan pekarangan yang dimulai dari pemeliharaan induk umur 5,5 - 6 bulan:


1. Bibit 

       Menggunakan induk ayam KUB sebanyak 28 ekor induk dan 4 ekor pejantan atau   dengan rasio pejantan : betina = 1 : 7. Dengan rasio ini akan mendapatkan tingkat fertilitas > 90% (pengalaman petani di Desa Jago).

2. Kandang 

     Memerlukan luasan kandang 24 m2, tinggi 2,5 m, dibagi menjadi empat kandang masing-masing berukuran 2 x 3 m. Tiap kandang berisi 7 induk betina dan 1 pejantan. Lantai kandang menggunakan bahan litter, merupakan campuran dari pasir, kapur dan sekam dengan ketebalan 10 cm.
3. Pakan 

     Pakan merupakan komponen yang paling banyak memakan biaya dalam usaha ayam (sekitar 70%). Oleh karena itu harus ada upaya untuk memberikan pakan  seimbang  dengan harga yang semurah mungkin. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun ransum sendiri dari bahan yang banyak tersedia di sekitar. Pengalaman sebagian petani ayam buras menggunakan campuran 5 bagian dedak, 2 bagian jagung dan 1 bagian konsentrat. Namun masih banyak lagi formula yang bisa dipakai sesuai dengan ketersediaan bahan setempat.  Berikut disajikan beberapa formula ransum ayam Buras yang digunakan oleh peternak di berbagai daerah.
.
4. Air minum

     Harus selalu tersedia

5. Pemeliharaan Kesehatan

       a. Isolasi: tempatkan kandang pada lokasi terisolir, tidak ada orang lalu lalang, tidak ada ternak lainnya.

        b. Sanitasi: bersihkan tempat pakan, tempat minum atau peralatan lainnya secara teratur, hindari adanya genangan air di sekitar kandang, bila saatnya pergantian bibit/induk, maka kandang terlebih dahulu disemprot/desinfektan sebelum ayam yang baru dimasukkan.

       c.  Vaksinasi: lakukan vaksinasi terutama Vaksin ND pada ayam dewasa setiap tiga bulan sekali.
Keberadaan  AYAM KUB yang dikembangkan oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian dan disebarkan oleh BPTP Balitbangtan NTB dapat menjawab kebutuhan akan ayam kampung sebagai kuliner ayam taliwang yang permintaanya selalu meningkat di Nusa Tenggara Barat

Sumber : Dari Berbagai Literatur BPTP NTB

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.