Header Ads

Apakah Bisnis Nama Lain Dari Drakula?".

Oleh: Diana Dahlan 


            “Bisnis dan Drakula adalah dua hal yang berbeda. Diambil dari id.m.wikipedia.org, Bisnis adalah "suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya untuk mendapatkan laba.” So, bisnis tidak terbatas hanya pada menjual produk kecantikan, kostum, makanan, barang elektronik, dll. Penyelenggara les atau kursus, biro penerjemahan, kontributor tulisan dan produk dalam bentuk jasa lainnya adalah bisnis. Masih dari sumber yang sama, yaitu id.m.wikipedia.org, Drakula adalah “vampir penghisap darah yang merupakan tokoh utama fiksi ciptaan Bram Stoker dalam novelnya Dracula yang diterbitkan pada tahun 1897.” Ooh, ternyata Drakula tuh makhluk imajinasi saja tho! “Lalu, apa kaitannya dengan bisnis?”

        Sebelum tahu keterkaitan antara Bisnis dan Drakula, mari melihat fakta survey dari Tempo.Co yang mengutip BBC bahwa pengangguran adalah makhluk paling menakutkan bagi penduduk dunia. Survey tersebut bekerjasama dengan lembaga Globescan yang melibatkan 11.000 responden di 23 negara. Survey tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran penduduk di tiap negara berbeda. Tapi, trennya masih pada masalah korupsi (Nigeria, Turki, Peru, Indonesia), kecukupan makanan dan energi (Cina, Rusia, Kenya, Filipina), kemiskinan dan kriminalitas (Amerika Latin). Dan, yuph! Hal yang paling mengerikan bagi penduduk global berdadarkan survey tersebut adalah PENGANGGURAN. “Rejection is an opportunity for your selection” Bernard Branson.

        Kembali ke tujuan awal penulisan yaitu menulis sebatas pada hal yang saya ketahui. Pula, mengikut-sertakan contoh kisah yang terjadi disekitar kehidupan nyata saya saja. Dan, memang beberapa tulisan terkesan “self centered” and that’s okay mengingat skop-nya yang memang kecil. Dalam perjalanan dari tulisan pertama sampai tulisan yang sedang anda baca ini, saya menyadari bahwa kehidupan seseorang dengan individu lainnya adalah keterkaitan yang kemudian mengarahkannya kepada skop kisah yang lebih luas. Kemarin, saya bersilaturrahmi dengan seorang teman. Lalu, hidup saya melebar pada koneksi ke organisasi pelestarian budaya, organisasi volunteer asing bahkan bercengkrama dengan seorang pengusaha muda yang berkepribadian positif dan cerdas. Satu hal yang tidak terlupakan adalah perbincangan dengan seorang GM (General Manager) wanita yang tidak ingin terkenal walau hanya dengan lima like di Facebook. Satu hal yang saya pelajari dari beliau adalah, “hidup tanpa kontribusi pada orang lain adalah kegagalan.” And sure, untuk memberi sesuatu berarti tangan “saya” perlu berada diatas. Untuk mendapatkan posisi tangan diatas, “saya” perlu berada. Ber-ada tidak hanya mentok di uang, tetapi juga materi lain seperti kebahagiaan, kepedulian, kasih sayang, motivasi, perlindungan, tumpangan kendaraan, dll. Gee! Kelihatan mudah bukan untuk berkontribusi kepada sesama?😀
Pernah mendengar Makayla? Yuph, itu cafe baru buka yang bertema outdoor-vintage. Didirikan pada 1 September 2017 di Palibelo Bima. Sure, area cafe yang sedang berkembang ini pada awalnya hanyalah sebidang tanah yang tidak terurus, kusam. Btw, ditangan pengusaha pintar, apa siy barang sebelah mata yang tidak menjadi menarik dan bernilai jual tinggi?

         Menu-menu di Makayla unik dan tidak 100% “murni”. Misalnya, anda pesan es teh dan minuman itu diracik dengan tambahan perasan jeruk. Sambal tradisional yang kalau dipandang hanyalah sebatas bahan-bahan biasa yang dapat dibeli di pasar ketika dimakan menghasilkan rasa yang lebih cantik dan enak dari plating-nya. Pernah mencoba Coffee Ice Blend, Milk Based Smothie, Mocktail? Semua serba below Rp. 10.000. Tentu harga itu adalah selain dari harga menu makanan berat dan ringan-nya. Harga pasar Makayla tidak punya patokan tertentu karena segmen pasar adalah umum. Sebelum ada panggung dan live accoustic, harga berada di titik serendah mungkin karena fasilitas masih kurang. Wi-fi tidak berbayar bisa diakses oleh pelanggan dan informasi dari majalah yang tersedia bisa dijadikan sumber inspirasi misalnya padu padan fashion semi casual untuk dikenakan di hari berikutnya.

         Saya sedang berpikir untuk Makayla mempunyai satu jenis minuman istimewa yang es tehnya diracik dengan tambahan bahan dan aroma khas yang khusus untuk “pemuda/i bermasalah” 😀 yang tengah puas, mandiri, bahagia dengan eksistensinya tapi baru sedikit menghasilkan uang. Ya! Bisa saja khan diberi nama, “Hellie Sissie.” Come on! Saya tidak sedang berpikir negatif ketika menulis ini. Hellie Sissie hanyalah nama yang mungkin terdengar seperti “keributan,” tapi memberi warning bahwa hidup adalah kejadian yang singkat. Menjadi Sissie adalah pilihan personal. Dan, orang lain tidak punya palu untuk diketukkan guna memutuskan apakah orang lain akan menuju Neraka atau terdampar disuatu antah berantah antara Neraka dan Surga. Seseorang tidak berhenti menjadi baik atau buruk karena petuah orang lain. Ia menjadi baik atau buruk hanya karena keinginannya sendiri. Saya yakin, Makayla akan damai jika orang dari latar belakang yang berbeda duduk bersama dalam toleransi, kasih sayang dan fun. Dan, akan menjadi akward jika dengan pulasan lipstik merah saja sudah dicemooh atau dengan fashion yang ditambah dengan hanya scarf sudah di-judge sebagai korban sinetron.
             Makayla akan menjadi tempat hang-out yang memberi warna baru di wilayah Bima karena letak yang strategis dan customer datang dari background yang berwarna-warni. So, siapa pun atau apa pun “saya,” mari merilekskan pikiran dengan Hellie Sissie. Tapi, si Sissie ini belum ada lho di daftar menu. Semoga kedepannya diadakan, sehingga “saya” yang haus akan perdamaian,persahabatan dan toleransi bisa santai. By the way, Hellie Sissie adalah nama racikan yang berarti “banci neraka,” bisa juga diartikan, “Sissie yang mempesona.”
Saya tertarik untuk mengetahui behind the scene dari berdirinya Makayla. Biasanya, cerita dibalik layar lebih seru, kadang ajaib daripada bangunan yang terlihat didepan mata. Iya khan? Yuph! Tentu saja starting point-nya adalah Nol. Salah satu sumber inspirasinya adalah seorang patner yang sebelas tahun lalu hanyalah penjual krupuk, kini telah menjadi owner salah satu hotel terbesar di Senggigi, Lombok. Sepanjang perjalanannya, Makayla diberikan pelajaran bahwa hidup tidak boleh gengsi. Bahwa mindset menghasilkan uang tidak selalu dengan pikiran money oriented. Dan, seseorang tidak akan sukses dalam hal apa pun jika masih repot dengan komentar orang lain. Sudah! Begitu saja ternyata dorongan yang “tidak terlihat"nya.

       Bisnis ya bisnis. Drakula ya drakula. Tidak ada keterkaitan. Bisnis ternyata tidak menakutkan seperti Drakula. Ketakutan dalam bentuk keengganan ada karena mental "saya” adalah mental pegawai. Sugesti ruang kerja “saya” adalah ruang ber-AC dengan papan nama silau yang diletakkan diatas meja kerja tanpa debu. Mungkin, pemerintah tetap perlu memboomingkan BISNIS dengan menertibkan penerimaan tenaga honorer di semua instansi-nya. Juga, mensugesti mindset orang-orang muda dengan inspirasi semisal dari Bernard Branson diatas bahwa rejection (penolakan terhadap pegawai honorer) adalah seleksi yang mengantarkan “saya” pada pencapaian hidup yang mengaktualisasikan kemampuan dan energi pada stage hidup yang adalah “saya” yang sesungguhnya. Orang-orang termasuk “saya” percaya bahwa bisnis adalah modal. Kemungkinan terbesar penghalang langkah pertama dari bisnis yang diamini bersama adalah modal. Lalu, mengutip Modal Dengkul a la Bob Sadino bahwa, “bisnis itu hanya modal dengkul, bahkan jika anda tidak punya dengkul, pinjam dengkul orang lain.”

              Ketika saya bertanya tentang hal modal, Makayla menunjuk ke kepalanya. Seorang pengusaha lain menjawab dengan senyuman. Lainnya berkata bahwa itu bukan uang tapi seni. Sehingga kesimpulan yang saya dapat adalah, “bisnis itu modalnya dua. Otak dan kebahagiaan.”
Bisnis tidak mempunyai nama alias semisal Drakula. Tips untuk sukses berbisnis pun terpampang dimana-mana: buku, majalah, koran, televisi, internet, seminar, dll. Mungkin kendalanya berupa pikiran “saya” yang sudah dicecoki bahwa bisnis itu susah, kalo bangkrut bisa membuat seseorang bunuh diri. Hal itu bisa benar. Atau sebagai contoh saja bahwa seseorang mengatakannya dengan tujuan negatif pun tidak perlu menjadi penyetop. Mungkin, si pemadam semangat berkata demikian untuk melindungi bisnisnya dari persaingan dengan pebisnis muda yang segar bin cerdas. Sekali lagi, tidak masalah dengan itu. Perbuatan demikian mungkin satu-satunya skill yang beliau punya untuk tidak berbagi rezeki dengan orang lain. Dan, karena “saya” adalah orang muda yang kreatif dan pekerja keras, “saya” dengan senang hati sedang membuktikan bahwa beliau salah. Makayla berkata, “biar berjejer sepuluh warung didekat sini, rezeki tidak akan tertukar.”

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.