Header Ads

Ika Suciwati Tampil di ASEAN International Summit 2017

Ika Suciwati usai tampil di ASEAN International Summit 2017 yang diadakan oleh Indonesian Youth Opportunities in International Networking (IYOIN) bekerjasama dengan Studec International pada 29 september-01 Oktober 2017 di Malaysia.

Kota Bima, Garda Asakota.-

       Masih ingat Ika Suciwati delegasi Bima NTB di Asean Youth Cultural Exposure 2017 di Thailand pada agustus lalu?. Baru baru ini gadis itu kembali meraih prestasi gemilang. Kali ini pada kegiatan ASEAN International Summit 2017 yang diadakan oleh Indonesian Youth Opportunities in International Networking (IYOIN) bekerjasama dengan Studec International pada 29 september-01 Oktober 2017 di Malaysia.



        Ika menjadi 1 dari 25 peserta yang berhasil lolos di jalur scholarship/fully funded pada kegiatan tersebut. Selama di Malaysia, Ika mengikuti berbagai kegiatan seperti Training ke Malaysian Global Innovation & Creativity Centre (MaGIC), Training di Malaysian Digital Economic Consultant, Dinner at KLCC serta seminar Internasional dengan tema "Preparing Future Leaders to Face ASEAN Economic Community Era" di Asia Pacific University Malaysia.

            Setelah mengikuti seminar dengan berbagai pembicara Internasional, peserta mengikuti Focus Group Discussion serta presentasi membahas permasalahan yang ada di negara-negara Asean yang ditentukan oleh Pihak Penyelenggara. Pada Kesempatan tersebut, Ika berkesempatan membahas permasalahan  ketenagakerjaan di negara Philipines dimana 20% Masyarakat di sana memilih untuk bekerja keluar negeri untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak serta upah yang lebih tinggi.. "Saya rasa permasalahan ini hampir sama dengan yang ada di Indonesia. Banyak masyarakat kita yang lebih memilih bekerja keluar negeri karena minimnya lapangan pekerjaan serta minimnya upah yang didapatkan" ujarnya.

        Ika mengajukan sebuah ide yang disebutnya dengan MOL atau Multilateral of Labors, sebuah agency untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. MOL akan fokus tidak hanya pada imigran yang keluar, seperti kelengkapan dokumen, kontrak kerja, dan lainnya, namun juga pada pemberdayaan masyarakat di negara tersebut dengan pelatihan-pelatihan dalam mengembangkan teknologi serta pangan, yang sesuai dengan potensi besar yang dimiliki Philipines. Selain itu, karena solusi ini bersifat win win solutions, menurutnya pemerintah negara tsb harus mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan untuk masyarakatnya.  Sehingga, bekerja keluar negeri bukanlah menjadi pilihan utama bagi masyarakat setempat.

           Ide yang ia serta rekan setimnya cetuskan  mendapatkan penghargaan sebagai BEST IDEA pada FGD serta presentasi pada kegiatan tersebut. Selain BEST IDEA, timnya yang diberi nama Tim Kecak / Tim Ambisius meraih penghargaan sebagai BEST TEAM pada Asean International Summit 2017. Pada hari terakhir kegiatan, Ika serta peserta lain menjadi relawan di sebuah sekolah TKI di Klang, Malaysia. Ini adalah pengalaman yang sangat menyentuh baginya. "Ini bukan kali pertama saya melihat sekolah tertinggal, karena di Bima pun banyak sekolah-sekolah dengan infrastruktur seperti ini. Yang membuat saya bersedih adalah ketika melihat anak-anak Indonesia yang tidak merasakan Indonesia ada bersama mereka. Mereka anak" Indonesia tetapi tidak mengenal Indonesia. Bahkan ada diantara mereka yang kemungkinan tidak dapat kembali ke Indonesia karena lahir dan tumbuh disana tanpa kejelasan status kewarganegaraan."

            Di sana, Ika melakukan misi kemanusiaan, berbagi kebahagiaan serta mengenalkan Indonesia kepada anak-anak di sekolah Klang.  "Kami hadir sebagai Indonesia. Bukan sebagai delegasi Universitas kami. Kami merepresentasikan kehangatan Indonesia untuk mereka,". Ada rasa haru bercampur bahagia, mendengar cita-cita mereka menjadi Polisi Indonesia, Angkasawan, Dokter Indonesia, Bomba (Pemadam Kebakaran), Pelakon, dll. Pun ada yang cita-citanya ingin mengunjungi candi Borobudur setelah ditunjukkan gambar-gambar pulau serta keindahan alam Indonesia. Pengabdian singkat di Klang mengajarkannya banyak hal, tentang rasa syukur serta berbagi kepada sesama walau hanya sekedar senyuman.

        Berat rasanya ketika harus meninggalkan mereka, karena kehadiran singkat kami dapat setidaknya membuat mereka lupa terhadap penderitaan yang mereka rasakan sebagai anak-anak TKI yang terkadang harus bersembunyi ke hutan ketika adanya patroli dari pihak negara setempat. Tapi kami harus pulang, kami harus kembali untuk membangun Indonesia. "Semoga kelak mereka dapat kembali ke Indonesia, untuk membangun Indonesia bersama kami.  Terimakasih IYOIN, Terimakasih Studec, Terimakasih Klang," ucap Ika. (GA. Jack*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.