Header Ads

Bram dan Bupati

Diana Dahlan


          Hidup ini seperti sekolah in-formal yang nyata, tanpa mark-up image, apa adanya. Sekolah formal mungkin adalah permainan wibawa dan catur otoritas. Tidakkah begitu? Terdengar terlalu dini untuk bertanya. Bahkan, ayah Michael Jordan yang pernah miskin melatih kemampuan otak anaknya dengan proses waktu, ujian dan kasih sayang yang inspiratif. Disini, saya bergaul dengan pembaca yang adalah “orang asing” dan membuat mereka menangkap hal yang saya maksudkan. Walau, tujuan utama adalah bukan untuk itu. Tujuan saya pada awalnya yaitu melatih menulis. Sehingga, langkah ini menjadi the next step untuk mempersiapkan sebuah buku “sederhana.” 

           Tapi kemudian, “bukankah memang menulis adalah untuk dipahami?” Jika tidak demikian, hal itu adalah kegagalan. Dan, pro-kontra dari pembaca adalah bukan kegagalan penulis. Hal tersebut merupakan efek, dampak. Ayolah! “Bukankah dari segala sesuatu terdapat efek, dampak?” Bram. “Adakah anak kelahiran Bima bernama Bram?” Biasanya siy, tidak ada. Nama Bima untuk anak laki-laki berkisar antara “Muhammad, Abdullah, Malik, Imran dan Irfan.” Well, I think so. Si pemilik nama dalam tulisan ini mempunyai kulit eksotis. Ia pekerja keras, baik hati dan pintar. Tapi, ia pernah bergaul dengan preman, sempat menjadi preman, meneguk alkohol. “Apakah dengan fakta itu, lalu masa depannya amburadul?” Yeah! Beliau menjabat sebagai wakil direktur rumah sakit saat-saat ini.

           Bermula dari seorang ayah yang baik. Ayah yang sudah bercerai dari sang bunda, kemudian menghasilkan dua anak perempuan yang baik. “Kenapa saya berani bilang mereka baik padahal belum pernah bertemu?” Sori jika menjawab dengan pertanyaan, “adakah ayah yang baik menjadikan anaknya buruk?” Tidak ada. Hal yang terjadi adalah anak-anak itu mungkin akan melakukan kesalahan besar oleh pikiran dan keputusan yang diambilnya sendiri. Pun, hal demikian bukanlah bernama kesalahan tapi kemandirian. Independency membawa efek, dampak. Dan, tidak pernah ada satu manusia yang luput dari salah, keliru. Jadi, ketika seseorang melakukannya untuk kemudian menjadi bijak, “then, so what?” Pihak yang menanggung resiko adalah individu itu sendiri. Tetap, sikap baik orang lain dalam bentuk Intolerance adalah resiko yang patut.

          Dilihat dari persentase kehadiran di sekolah, Bram tidak dikatakan pintar karena selama di SD dan SLTP, ia jarang masuk disebabkan harus berjualan pisang goreng. Masa SLTA dihabiskan di sekolah PGRI yang sejauh ini mempunyai reputasi tidak kompeten. Beberapa teman masa kecil pergi kesana untuk berguru. Mereka membawa TOA dan berpesta. Meninju guru ketika tersinggung tidak menjadi hal besar yang pantas untuk direnungkan. It’s a public knowledge of the school.
“Lalu, bagaimana dengan masa depan Bram?” Yeah, ia pernah memimpin demo besar pada masa kuliah. 

          Ia memperjuangkan ijazah teman sekampusnya yang ditolak karena masalah keabsahan. Sepuluh orang dinyatakan batal lulus PNS karena sertifikat kelulusan ditenggarai di-issued oleh kampus baru di area Bima walau Brand-nya telah go public dan mempunyai nama di kancah nasional.
Pertanyaan-nya adalah, “berapa orang disekeliling anda yang rela menjadi target penculikan hanya karena memperjuangkan nasib baik orang lain?” Bram menjadi pintar bukan karena selalu memasuki ruang kelas dan menuntut ilmu lanjutan di universitas terkemuka. Saya pikir, ia menjadi idealis karena sekolah nyata bernama kehidupan telah menempanya menjadi pribadi yang peduli, sabar dan berani.
People!

          Jika anda mengaktifkan kepekaan anda saat ini, dua kualitas pribadi: peduli dan sabar adalah nature dari anak perempuan. Kualitas lain yang ada pada Bram yaitu keberanian adalah satu mata pelajaran yang perlu diajarkan pada anak perempuan anda. Bukan-nya kesempurnaan. (Kadang berpikir, mengapa masyarakat begitu bangga pada kualitas maskulin dan cenderung malu pada kelebihan feminin. Tidakkah kemanusiaan bertahan karena rasa iba, kasih-sayang dan pengampunan? Dan, perang berlangsung karena fashion show dari dominasi, superioritas dan pikiran dangkal? Sure, Kalau diserang duluan, maka perang adalah keharusan).

         Mari lebih personal dengan tokoh non-fiksi ini. “Bram adalah seorang laki-laki. Bagaimana alur jatuh cintanya? Apakah ia menghabiskan masa-masa pinky moment yang bertabur bunga dengan menari India?” “Saya merasionalisasikan-nya,” said he. Caranya? Cewek yang tengah merajut cinta dengannya waktu itu secara bersamaan mempunyai laki-laki lain. So, tentu Bram meninggalkannya. Cewek berikutnya adalah teman kelas semasa kuliah yang setelah beberapa saat lulus lalu menjadi PNS. Bram tidak percaya diri dengan keadaan itu dan memilih yang lain. Cewek ketiga ini adalah tipe alim, tertutup. Ketika Bram mengajaknya berpacaran untuk saling mengenal terlebih dahulu, sang ukhti menolak karena ingin langsung menikah. Bram pun melangkah pergi.
“What the hell he wants?”
Dongeng mengisahkan bahwa anak perempuan dari kalangan jelata bisa mendapatkan seorang pangeran. Di kehidupan nyata tak jauh beda. Kerajaan-kerajaan di Eropa telah banyak memiliki putri/ ratu dari rakyat biasa. Sebut saja Letizia Ortiz dari Spanyol dan Grace Kelly dari Monako. “Apakah hal ini menjadi satu pertanda bahwa anak perempuan yang membaca folks, novels dan karya fiksi lain lebih berpotensi memperoleh “keajaiban” dalam hidup dan memperlakukan kenyataan tersebut sebagai keberuntungan? Anak perempuan cenderung untuk tidak merasionalisasikan keadaan. Hal demikian lebih terdengar seperti, “Anda seorang pangeran. Saya hanya orang “biasa”. Anda berniat menikahi saya. Then, let’s give it a go.“ Anak perempuan yang cerdas adalah yang mampu dan beruntung dalam merasionalisasikan rasa.

          Tapi, tentu. Kalau Tuhan sudah Kun Faya Kun terus mau apa? Bram seperti halnya insan lain adalah sebuah proses yang sempurna. A Perfect thing apabila memiliki rasa cinta, iba dan pengampunan. Seorang yang menempuh jalan berliku dari “Bram” menjadi “Imran” adalah prestasi. Tidak rasional kan sebenarnya jika modal yang “Rp. 0” menjadi “Rp. 350.000.000”?
Lihatlah! Hidup bahkan sudah ajaib sebelum manusia mengusahakannya menjadi ajaib.

            Lalu, apa hubungan Bram dengan bupati? Sebelumnya, saya perlu menginformasikan, Bram dalam tulisan ini tidak hanya satu individu real tapi mewakili orang-orang lain diluar sana yang tengah menikmati proses eksistensi dari yang tidak terlihat menjadi kasat mata.
Hubungan Bram dengan bupati dalam tulisan ini lebih pada pesan yang disimpulkan dari kisahnya sendiri.
“Bram, jika kelak engkau ditempatkan pada jalur kekuasaan, semisal bupati. Tidaklah engkau menutup-nutupi data tentang korban kekerasan yang melambung tinggi demi sebuah pencitraan palsu. Tidaklah memadamkan jiwa kritis yang bijak hanya demi citra ketenangan daerah. Atau, mencoret kasus-kasus kejahatan besar agar wilayah mu mendapat piala. Bram, Biarlah geografis mu pahit oleh kenyataan. Pahit itu obat. Masyarakat akan mengerti. Jika tidak dimengerti, tidak perlulah ikut-ikutan memadamkan cahaya mu. Pisang goreng tidak akan menjadi makanan jika engkau mematikan kompornya. Jika kami memprotes mu, tidak usah pake acara culik menculik segala. Apalagi, membunuh karakter Big Bos mu. Lebay!”
Tidak pasti hal macam apa yang ditawarkan masa depan pada hidup seseorang. Konon, satu-satunya kepastian penjamin masa yang akan datang adalah tindakan saat ini. Sekarang ini.
Penulis: (Diana Dahlan. Sila -Bima. dianadahlan172@yahoo.com)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.