Header Ads

Apa Pikiran Anda tentang Gubernur NTB, H. Zainul Majdi...?

Oleh: Hazairin AR

         "Memandang seorang Ibu berparas cantik atau melihat seorang Ayah berwajah tampan, tidak cukup disebut baik & terhormat tanpa kita menyaksikan adakah kasih sayang & tanggung jawab terhadap anak-anaknya tanpa diskriminasi".

          Sependek keterbatasan ingatan saya bahwa beliau Ulama, beliau Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode, beliau mantan Ketua Umum Partai Demokrat Nusa Tenggara Barat (NTB), beliau memiliki otoritas kultural yang mengakar terhadap kalangan Nahdatul Wathan (NW), beliau alumni Mesir-penghafal Al-Qur'an, beliau pernah menjadi Anggota DPR RI dari Partai Bulan Bintang (PBB) besutan Prof Yusril Ihza Mahendra sebelum H. Zainul Majdi mualaf ke Partai Demokrat.

         Tahun 2008 beliau memenangkan Pilkada langsung Propinsi NTB di usung oleh dua Partai Islam yakni PBB & PKS dgn basis pemilih keseluruhan di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar 3,5 juta pemilih sah di Tahun 2008.

          Ketika peristiwa rasialis yang menerpa beliau dari perlakuan tidak senonoh  seorang Steven, rakyat NTB marah, rakyat NTB protes dan saya termasuk yang memprotes itu. Bukan karena semata reaksi simpatik terhadap H. Zainul Majdi, tetapi semangat empati itu tumbuh lahir dari kesadaran moralitas bahwa  melawan dan memprotes penghinaan pada kemanusiaan adalah wujud dari adanya benih moralitas dan kepekaan perasaan menolak diskriminasi rasial.

           Magnet H. Zainul Majdi sebagai ulama mendapat apresiasi yang luas, melampaui kadalaman luasnya empati publik melebihi kapasitas beliau sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara, apresiasi publik yang luas terhadap Tuan Guru H. Zainul Majdi secara faktual berbanding terbalik dengan kesempitan posisi Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk keluar dari cengkraman kemiskinan yang rentang usia kemiskinan itu sudah cukup tua dari ukuran perlombaan kemajuan sebuah daerah berdasarkan tuntutan perubahan.

           H. Zainul Majdi yang akrab dengan sapaan Tuan Guru Bajang diakui sebagai figur kharismatik. Pemimpin kharismatik identik dengan pemimpin tradisional. Mengandalkan ketaatan, mengandalkan loyalitas, tak ubahnya tradisi kehidupan santri. Dalam kehidupan Santri fatwa Kyai atau Ulama dipatuhi oleh santri seikhlas kesanggupan diri menerima takdir jiwa. Tapi ini tentang kehidupan santri.

           H. Zainul Majdi sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terikat dalam kontrak moral sosial dgn masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kurang lebih berpenduduk lima juta jiwa. Kesetiaan langkah tegap menekan angka kemiskinan, kerelaan menerima kritikan & masukan, mengurangi angka kebodohan, memajukan kesejahteraan rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap sekian Kota & Kabupaten di Pulau Lombok & Pulau Sumbawa sebagai rumah pembangunan, semua itu sumpah, janji, dan ikrar H. Zainul Majdi terhadap seluruh rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB).

           Sepintas ingatan saya, Prof Almarhum Afan Gaffar pernah berkata bahwa "bergabungnya kepulauan Sumbawa dalam naungan teritorial kekuasaan Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah kecelakaan sejarah". Dari silsilah historisnya; Sumbawa, Dompu, dan Bima, lebih dekat pada kultur-tradisi Bugis-Makassar & Ternate, sementara Pulau Lombok-Suku SASAK lebih dekat secara tradisi dgn Bali. (Pengetahuan yg perlu mendapatkan kesempurnaan).

            Diskursus ini sengaja saya hadirkan bahwa kekaguman suatu bangsa pada sosok menyebabkan kita absen menelusuri kenapa sistem dengan perangkat dan dukungan keuangan yang tersedia meski dengan alasan terbatas membuat kita tidak bergerak maju...? Apa yang salah dengan semua itu...? Apakah skenario sistem menyimpang dari cita-cita bersama lima juta rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB)? ataukah skenario sistem yang dirancang tidak membuka ruang partisipasi yang luas? Padahal, sisi luhur untuk mengenali bentuk dan isi pembangunan mensyaratkan partisipasi publik.

Saudara-saudara...

          Menjelang tutup usia Kepemimpinan H. Zainul Majdi sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam dua periode menjabat, kita menyaksikan dua hal yang menguat di arena publik & itu dialektika yang menarik perhatian publik yakni:

1. Safari Politik Tuan Guru Bajang di sejumlah daerah di Tanah Air, saya memaknai sebagai langkah sosialisasi dan langkah konsolidasi politik berjenjang dengan harapan mendapat lamaran untuk dinikahi dalam agenda Pemilihan Presiden Republik Indonesia pasca satu Tahun periode Kepemimpinan Bapak Presiden Jokowi. (Jgn lupa belajar dr Safari politik Sultan Hamengkubuwono Jokja, tokoh Golkar, Tokoh kultural & Pemimpin yang dicintai rakyatnya).

Sebagai Putra NTB saya bangga mengamati jejak politik H. Zainul Majdi yang terkesan kuat menaksir wilayah kepemimpinan Nasional. Saya turut prihatin ketika rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) belum selesai beranjak melangkahi anak tangga kemajuan-perubahan. Dosa personal selesai dengan pertaubatan personal, Dosa sosial hanya bisa dihapus atas pemenuhan janji-janji, menunaikan tanggung jawab yang sejalan dengan  visi, misi, dan program.

Lantas, berikutnya penyakit Propinsi Nusa Tenggara Barat yang bernama Kemiskinan, Kebodohan, rendahnya tingkat perkapita masyarakat, rendahnya Sumber Daya Manusia, adalah tanggung jawab pemimpin/ Gubernur NTB yang baru tanpa pernah ada penyesalan menerima warisan masalah. Mengatakan bertanggung jawab memikul amanah oleh siapapun yang menjadi Pemimpin tanpa kepastian menuntasan persoalan masa lampau adalah mustahil mampu mewujudkan perubahan di masa datang.

2. Perhatian dan harapan jutaan rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) menyambut riang Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara (NTB) pasca H. Zainul Madji. Gubernur & Wakil Gubernur NTB dipilih langsung oleh rakyat NTB dalam satu paket pemilihan.

          Menilik posisi geo-wilayah bahwa Gubernur NTB bakal dimenangi oleh Calon yang berasal dari suku Sasak Asli dengan tingkat populasi pemilihan hampir 70 porsen terdapat di Pulau lombok. Ini realitas sosial yang selalu menciptakan fakta politik pemenang.

          Sumber daya manusia dan sumber daya alam yang tersebar di pulau Sumbawa sangat besar memberikan investasi bagi kelanjutan pembangunan dan ketahanan suatu Negara. Sektor pangan, potensi maritim, sumber daya alam sangat mungkin mengantar Pulau Sumbawa untuk disejajarkan dengan dengan daerah-daerah lain. Karenanya, revolusi berfikir merubah cara penglihatan dan revolusi tindakan merubah cara bertindak adalah opsi yang paling rasional mengusung PUTRA terbaik Pulau Sumbawa untuk memandu masa depan Nusa Tenggara Barat (NTB) agar rakyat NTB lebih maju, lebih kompetitif, lebih bahagia menyambut hari demi hari, bulan demi bulan, Tahun demi Tahun.

            Putra Pulau Sumbawa tidak kekurangan SDM, tidak kekurangan adab, tidak kekurangan kesantutan, bahkan jauh lebih terlatih menerapkan sistem kepemimpinan yang bisa disandari oleh semua rakyatnya. Putra terbaik Pulau Sumbawa, tidak saja berani tampil melawan arus besar, tapi juga mampu menawarkan gagasan alternatif untuk kemajuan bangsa & Negara.

             Dalam kerangka itu, sekaligus sikap iba dan toleransi kemanusiaan memafaatkan hutang politik dan hutang pembangunan sudah selayaknya H. Zainul Madji sosok yang mengakar di basis pemilih tradisional memimpin Ummatnya agar memastikan mengusung, berjuang bersama memenangkan Putra Pulau Sumbawa menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca kepemimpinan beliau. Hemat saya, inilah jalan tengah kompromi memaafkan utang sosial pembangunan H. Zainul Majdi dalam memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB) selama sepuluh Tahun.

Sebagai penutup:

Bagi saya, siapapun yang meraih keuntungan politik tanpa niat dan kemauan sungguh-sungguh "membebaskan rakyat NTB dr deretan masalah" adalah  bagian dari praktek perilaku anti moralitas. Di titik itulah "ketidak adilan kita menyaksikan tanpa jarak...!!!

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.