Header Ads

PENGIBARAN MERAH PUTIH DI DAERAH BIMA

Penulis: Prof. H. Imran Ismail.


"Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad merdeka, atau mati" (Ir.Soekarno).

   Tulisan ini sengaja disajikan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72, guna membangkitkan rasa Nasionalisme dengan mengingat-ingat fakta sejarah yang telah dilalui oleh generasi Indonesia. Nasionalisme terwujud dari rasa kebersamaan dalam perangai, jiwa, karakter, sama-sama pernah dijajah maupun kultur yang sama.(Ernes Renan) menyebutkan bahwa, makin jauh kita dari peristiwa sejarah maka semakin mengingat dan merindukan peristiwa tersebut.

  Berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tidaklah serta merta diketahui oleh seluruh bangsa Indonesia, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, karena keterbatasan komunikasi, masih berkuasanya tentara Jepang ketika itu, di samping berita tentang kekalahan Jepang terhadap sekutu selalu ditutup-tutupi, sehingga berita tentang Proklamasi Kemerdekaan demikian lambat tersebar ke seluruh pelosok tanah air.

   Di daerah Bima sebetulnya sudah diketahui terjadi peristiwa proklamasi. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan pemuda-pemuda yang progresif, mulai nampak terorganisasi setelah terbentuknya panitia penyambutan Kemerdekaan tanggal 19 September 1945 oleh pemuda-pemuda di daerah, maka dibentuklah Badan Komite Nasional Indonesia Daerah Bima di wilayahTente (kecamatan Woha), yang dipimpin oleh ketuanya, Ishaka Abdullah. Mengapa harus dipuasatkan di Tente (15 km dari kota Bima), dengan pertimbangan jauh dari pengaruh tentara Jepang dan Tente merupakan tempat strategis berkumpulnya pemuda-pemuda pejuang daerah Bima. Tente Kecamatan woha merupakan basis perjuangan pemuda dan sangat wajar dijadikan pusat Pemerintahan Kabupaten Bima.

   Panitia penyambutan Kemerdekaan bekerjasama dengan Komite nasional Indonesia Daerah Bima mengadakan kontak sambil mengirim utusan-utusan untuk menghadap wakil-wakil rakyat seperti Muhammad Amin (Jeneli Dompu) dan M. Idris Jafar (Jeneli RasanaE) serta pemimpin-pemimpin lainnya. Kedua badan ini bertambah yakin setelah menerima surat pengumuman Indonesia Merdeka dari Gubernur Propinsi Sunda Kecil di Singaraja Mr. I Gusti Ktut Poedja, tanggal 8 Oktober 1945.

   Adanya dokumen mengenai pengumuman Indonesia Merdeka itu, menambah keyakinan panitia penyambut kemerdekaan bersama rakyat akan kemerdekaan, ditambah lagi dengan sikap tentara Jepang yang semakin melunak terhadap Indonesia merdeka, yang tidak melarang dan tidak menyuruh mengibarkan bendera merah putih, asalkan situasi keamanan tetap terjaga.

     Atas dasar inilah maka pada tanggal 25 Oktober 1945, wakil-wakil rakyat beserta pemimpin-pemimpin lain yang sepaham dengan mereka menghadap Putra Abdul Kahir (saat itu berada di kecamatan Bolo, 55 km dari kota Bima), untuk membicarakan pernyataan kemerdekaan dan waktu pengibaran Sang Merah Putih di Istana Kerajaan Bima. Pertemuan tersebut dihadiri Putera Abdul Kahir dari Pembela Tanah Air (PETA), M.Tayeb Abdullah (API), H.Saleh Bakry (Panitia Penyambutan Kemerdekaan) dan Ishaka Abdullah dari Komite Nasional Indonesia (KNI).

         Hasil pertemuan tersebut diperhadapkan kepada Sultan Muhammad Salahuddin untuk dimintai persetujuannya. Sri Sultan dan pemimpin dalam Kerajaan Bima menyatakan kesediaannya untuk bersama-sama dengan pemuda dalam pengibaran bendera kebangsaan di halaman Istana Kesultanan Bima pada tanggal 31 Oktober 1945, hari Rabu. Jam 10.00 pagi. Adapun yang merampungkan persiapan pengibaran Sang Merah Putih diserahkan sepenuhnya kepada Jeneli RasanaE M. Idris Jafar, sebagai salah seorang pemuda yang terus menerus mengikuti secara aktif kegiatan pemuda-pemuda di daerah Bima.

        Upacara pengibaran Sang Merah Putih dihadiri sekitar 2000-an orang yang terdiri dari massa rakyat, kesatuan-kesatuan pemuda, kepala Dinas/Jawatan Bima-Dompu. Menurut catatan sejarah Dompu pada saat itu merupakan salah satu kejenelian (distrik) Kerajaan Bima. Sebagai kepala pemerintahan Kerajaan Bima, Sultan Muhammad Salahuudin mengucapkan pidato resmi saat pengibaran bendera merah putih (disampaikan dalam bahasa Bima), yang intinya bahwa bendera Indonesia Sang Merah Putih telah dikibarkan sebagai tanda telah merdeka. Hal ini dilakukan berdasarkan keinginan rakyat seluruhnya. Kalau pengibaran ini agak terlambat maka janganlah anda sekalian salah sangka. Itu bukan apa-apa, hanya kami menunggu kemauan rakyat secara bulat. Adalah menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama untuk mempertahankan yang kita umumkan ini. Selain Sri Sultan, juga tampil berpidato M.Idris Jafar, Ishaka Abdullah dan M.Tayeb Abdullah yang menjelaskan tentang warna bendera kebangsaan Indonesia, arti kemerdekaan serta cara- cara membela dan mempertahankan kemerdekaan.

     Apa makna yang bisa dibungkus dari peristiwa pengibaran bendera merah putih sebagai peristiwa sejarah yang monumental, tidak lain adalah terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. menjadi titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia. Pentingnya kebersatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita patut merasa malu ketika tidak mampu atau kurang berdaya dalam merawat, menjaga, dan melindungi persatuan yang majemuk dalam bingkai NKRI di atas Tanah Air Indonesia. Betapa kemajemukan kita dalam peta geografis, etnis, suku, ras, budaya dan agama yang menunjukkan makna dibalik ungkapan Bhinneka Tunggal Ika.

   Semangat merah putih tetap mengalir dalam diri warga bangsa untuk selamanya, karena Kemerdekaan adalah hasil perjuangan rakyat Indonesia dan atas berkat dan rahmat dari Allah Swt, maka wajib menjaganya dalam mengelola negara yang demokratis dan mengisinya dengan pembangunan. Merdeka !!!

Penulis: Kelahiran Jatiwangi Asakota Kota Bima, tinggal di Makassar.

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.