Header Ads

Raba Baka Kompleks Ditargetkan Tuntas Tahun 2018

Doto: Kepala Satuan Kerja (Satker) Bendungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara 1, H. Abdul Hafidz, ST., MSc.,Sp.,

Mataram, Garda Asakota.-

Kepala Satuan Kerja (Satker) Bendungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara 1, H. Abdul Hafidz, ST., MSc.,Sp., mengungkapkan pekerjaan bendungan Raba Baka Kompleks di Kabupaten Dompu akan berakhir sekitar tahun 2018. Proyek pembangunan Raba Baka Kompleks ini merupakan program Strategis Nasional yang terdiri dari tiga item pekerjaan besar yakni saluran integrative, Bendungan Tanju dan Bendungan Mila dengan total anggaran sebesar Rp348 Milyar.
“Untuk Bendungan Tanju sendiri kita ditargetkan untuk bisa menyelesaikannya di akhir tahun 2017 ini dengan tingkat progress pekerjaannya sudah mencapai diatas 50 persen,” ungkap pria lulusan ITB ini kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Kamis (13/07).

Kendala terbesar dalam penyelesaian pekerjaan ini menurutnya lebih dominan disebabkan pada aspek pembebasan lahan serta banyaknya aksi blokir pekerjaan serta pemberhentian proyek yang dilakukan oleh sejumlah pihak terkait dengan persoalan lahan. “Padahal sejatinya soal pembebasan tanah atau lahan ini mestinya merupakan kewenangan Pemerintah Daerah. Sementara BWS itu hanya bertanggungjawab pada aspek fisik pekerjaan saja. Namun karena pihak Pemda tidak memiliki anggaran untuk itu, maka pihak BWS ikut membantu dengan melobi anggaran pembebasan lahan dari Pemerintah Pusat,” jelasnya.

         Akibat ketiadaan anggaran pembebasan lahan ini pekerjaan Raba Baka Kompleks mengalami kemunduran dari jadwal, apalagi untuk anggaran pembebasan lahan di Pusat itu tidak sekonyong-konyong langsung ada. Imbasnya karena masyarakat terus menagih agar dibayarkan sisa pembayaran lahan pada sekitar bulan Juni ini sementara anggaran belum bisa dicairkan. “Masyarakat pun memblokir pekerjaan Raba Baka Kompleks,” tuturnya.

Total anggaran pembebasan lahan untuk areal proyek Raba Baka Kompleks menurutnya adalah sekitar Rp8 Milyar. “Sisa yang belum dibayarkan adalah sekitar Rp1,8 Milyar dan direncanakan akan dibayarkan pada tahun 2017 ini. Sumber anggarannya adalah dari Pemerintah Pusat,” kata Hafidz.
Hafidz sendiri mengaku sangat berharap agar pekerjaan Raba Baka Kompleks ini tidak perlu diblokir pekerjaannya oleh masyarakat disana. “Apalagi target penuntasan pekerjaan ini adalah harus diselesaikan di tahun 2018,” harapnya.

          Kedepannya pihaknya tidak akan berani lagi melakukan eksekusi terhadap rencana pekerjaan proyek bendungan jika masih  ada masalah terkait dengan aspek lahan atau tanah dilokasi pekerjaan. “Jadi kedepannya kita akan usulkan untuk mempending lelang pekerjaan yang masih berkaitan dengan aspek lahan agar tidak lagi muncul permasalahan seperti ini,” tandasnya. (GA. Imam*).

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.