Header Ads

Remiten TKI NTB Tahun 2016 Sekitar Rp1,7 Trilyun

Foto: Wartawan senior Garda Asakota, Imam Ahmad Gibran, saat mewawancara Kasi Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Provinsi NTB, Abdul Hadi.

Mataram, Garda Asakota.-
Kontribusi yang diberikan oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Negara-negara Asia Pasifik kepada daerah dalam bentuk remittent ternyata sangatlah besar. Kontribusi ini tentu sangat membantu dalam rangka membantu menggeliatkan perekenomian keluarga dan daerah asal TKI. “Untuk tahun 2016, remittent berdasarkan data pengiriman TKI untuk NTB itu sebesar Rp1,7 Trilyun. Itu data dari Bank Indonesia. Belum dihitung pengiriman uang dari TKI melalui jasa penitipan dan lain sebagainya,” ungkap Kepala Seksi (Kasi) Penempatan Kerja Disnakertrans Provinsi NTB, Abdul Hadi, kepada wartawan media ini, Kamis (16/02).
Memasuki pertengahan bulan Februari ini saja, menurut Hadi, minat warga masyarakat NTB untuk bekerja ke wilayah Asia Pasifik khususnya Malaysia sangatlah tinggi. “Untuk tahun 2017 ini saja. Angka TKI kita yang ke Negara-negara Asia Pasifik khususnya Malaysia itu sudah mencapai angka 1.422 orang TKI dan kebanyakan itu berasal dari Lombok Timur. Dan kebanyakan mereka bekerja di Malaysia itu sebagai pekerja di Perkebunan Kelapa Sawit. Sementara untuk ke Negara-negara seperti Korea, Jepang dan Hongkong, jumlahnya belum terlalu banyak,” kata Hadi.
Tingginya angka TKI yang bekerja ke Negara-negara luar, menurutnya, sangatlah memberikan aspek manfaat bagi Daerah. “Sebelum dilakukannya Moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Jumlah TKI kita pada saat itu yakni Tahun 2015 mencapai angka 53 ribu orang TKI. Kemudian terjadi moratorium, angka itu menurun menjadi 30 ribu lebih dan kebanyakan tersebar di Negara-negara Asia Pasifik. Sebenarnya keuntungan dalam aspek pengiriman TKI ini sangatlah besar untuk daerah,” terangnya.
Abdul Hadi mengaku sudah banyak warga masyarakat NTB yang datang ke Disnakertrans meminta agar moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah khususnya ke Arab Saudi itu dicabut. “Sebab, dari ribuan orang TKI yang bekerja disana. Semuanya mengaku mendapatkan manfaat yang besar dari pekerjaannya itu untuk membantu perekonomian keluarganya.
Jangan hanya karena ada penyiksaan terhadap satu atau dua orang TKI kemudian kita harus mengorbankan sekitar 50 ribu-an orang Pekerja yang mendapatkan manfaatnya. Jangan jeleknya saja yang kelihatan dan dibesar-besarkan. Sementara hal-hal baiknya kita sembunyikan,” ujar Abdul Hadi. (GA. IAG*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.