Header Ads

Angka Perkelahian Antar Pelajar di Madapangga Tinggi, Perlu Kepedulian Semua Pihak

Ilustrasi
Kabupaten Bima, Garda Asakota.-
Pendidikan Nasional itu sejatinya harus memupuk kecerdasan kognitif, psikomotorik dan aspek spiritual atau moral siswa yang nantinya akan teraktualisasi lewat sikap atau attitude yang baik dengan saling mendukung antara satu dengan yang lain. Bukan sebaliknya membentuk karakter yang keras dan saling beradu otot atau beradu fisik diantara siswa.
Tingginya angka perkelahian antar pelajar atau siswa di Kecamatan Madapangga sepanjang tahun 2016 lalu menjadi catatan penting tersendiri di Kepolisian Sektor (Polsek) Madapangga. Kapolsek Madapangga, IPDA Rusdin, melalui Kanit Reskrimnya, Heri Kuswanto, mengakui akan tingginya angka perkelahian antara pelajar di Kecamatan Madapangga.
“Bahkan saking tingginya. Sampai-sampai Polsek memberlakukan pengawalan saat jam pulang siswa. Ditambah lagi, awal Januari 2017 ini, angka perkelahian antara pelajar juga sudah mulai signifikan terjadi. Saya kira untuk meminimalisir tingginya angka perkelahian antara pelajar ini membutuhkan perhatian semua pihak,” cetus Heri Kuswanto kepada wartawan media ini, Senin (23/01).
Tingginya angka perkelahian antar pelajar di Kecamatan Madapangga ini juga sangat dikhawatirkan oleh M. sayuti, SH., staf di UPTD Dikpora Kecamatan Madapangga. Kepada wartawan, Sayuti mengaku gelisah dengan tingginya angka perkelahian antar pelajar. “Akibat kejadian ini. Siswa kerap terganggu bahkan mereka meminta kepada orang tuanya untuk pindah sekolah saja,” beber Sayuti.
Diakuinya, masalah ini pernah terjadi pada keponaannya yang dulu bersekolah di SMAN-1 Madapangga. Karena merasa takut akan perkelahian itu,  saat ini ponaannya bersekolah di SMAN-2 Madapangga. Dirinya merasa risau dengan keadaan seperti ini, apalagi pelajar SMAN- 1 Madapangga sebagian besarnya juga terdiri dari empat (4) Desa Ujung Selatan Madapangga yakni Desa Woro, Tonda,  Mpuri, serta Desa Campa.
“Kerap sekali dijumpai diperbatasan Desa Dena dan Desa Tonda para pelajar ini sering berkelahi usai mereka pulang dari sekolahnya,” ujarnya.
Sayuti mengaku memiliki seorang putri yang tengah mengenyam pendidikan di SMAN-1 Madapangga.  Dirinya mangaku sangat resah dengan kondisi pelajar yang ada saat ini. “Mau dibawa kemana generasi muda kita ini kedepannya jika hal seperti ini selalu terjadi?. Menuntut ilmu di kampung sendiri saja perilaku mereka sudah seperti ini. Bagaimana jika generasi muda kita ini menuntut ilmu di daerah orang jika perilaku mereka saat sekarang ini seperti ini keadaannya,” ujar Sayuti dengan ekspresi resah.
Sayuti sangat berharap agar semua pihak bisa peduli terhadap tingginya angka perkelahian antar pelajar ini, terutama terhadap adanya peningkatan peran para orangtua siswa. “Para orang tua siswa ini sangat diharapkan perannya dibandingkan peran para guru dalam mendidik moral anak-anak mereka,” cetusnya.
Di tempat terpisah, Wakasek Kesiswaan SMAN 1 Madapangga, Zulkifli S.P.d., yang ditemui wartawan media ini tidak menampik akan terjadinya perkelahian antar pelajar ini.
“Ini bukan hal yang baru,” cetus Zulkifli. Akan tetapi, lanjutnya, pihak sekolah selama ini telah memberikan pembinaan kepada siswa-siswa yang bermasalah tersebut. “Bahkan sampai kepada para Wali Muridnya, agar para orang tua siswa ini betul-betul memperhatikan raung lingkup pergaulan anak-anaknya, baik itu di luar Desa maupun di dalam Desanya setelah anak-anak mereka pulang dari sekolah,” tandasnya. (GA.Marlin*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.