Header Ads

Kasihnya Guru…

Oleh: Rafika, S. Pd
Terharu… itu adalah kata pertama yang tercatat dalam kisah-kisah hati diantara lereng-lereng curam yang cadas. Di antara mega-mega rerimbunan pohon dan dibalik ganasnya gunung yang terlampau tinggi untuk ku gapai.
Tetapi di sini di antara bianglala senja di antara deraian canda seragam yang masih orisinil,ku temukan kembali kisah cintanya hati yang terlampau sayang, terlampau luhur, terlampau ‘nrimo’ dengan tugas yang sangat luar biasa abdinya. Seluruhnya alami tanpa embel dengan predikat yang meluber, tanpa nada ‘mbangkang’, tanpa nada aksi.
Malu itulah yang tersirat dan kembali bertengger lagi dihati yang lara…tanpa finansi tatapi asik menikmati perjuangan luhur dengan predikat pahlawan tanpa tanda jasa.Kasih yang tulus, dengan cinta yang luar biasa yang bisa melahirkan segala keharuan yang jarang ditemukan di balik keseharian yang tiada menemukan sandungan dengan segala fasilitas yang luar biasa.Disini kutemukan hati yang terlampau tulus mengisi kekosongan dengan kekosongan yang rutin.
Tanpa protes, tanpa embel, ternyata masih bisa aktif dengan segala tuntutan yang merisaukan. Hanya dituntut tetapi tak jua menuturkan tuntutan karena takut tersingkir dengan kebelengguan yang siaga.Tiga medan telah kulalui dengan nelangsa,hanya bisa dengan keresahan… dengan kegalauan yang menggigit rongga-rongga hati yang senasib.
Hati yang terlampau luhur sehingga menorehkan konflik batin di sela-sela keseharian ku yang teramat padat. Itulah sebaris rindu dan kasihnya teman-teman guru yang mengabdi nun jauh di sana.Mereka sangat luar biasa dengan semangat  mendidik sejati yang harus diapresiasi.
 Marilah kita bertanya kepada guru-guru  pasca kemerdekaan, atau kita menyimak film-film kolosal yang berlatar atau beralur guru-guru tempo doeleo. Jawabannya tentu sangat berbeda dengan siswa dan guru zaman sekarang. Mengapa demikian ?
Guru adalah “Corong” bagi masyarakat terhadap perkembangan kualitas dan kuantitas pendidikan, dan guru harus memberikan jawaban yang pasti dan akurat kepada masyarakat terhadap prestasi pendidikan yang dicapai. Dulu ketika pasca kemerdekaan siswanya dipaksa dan dididik ala militer atau digora ( gogo rancah).
Siswa diibaratkan dengan lahan kritis sehingga perlu digogo rancah ( Dan penulis pernah mengangkat karya tulis dengan judul; Teknik Gogo Rancah untuk Menunjang Keterampilan Berbicara pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia) Judul tulisan ini pernah diikutseratakan dalam lomba kreativitas guru oleh Depdiknas Jakarta tahun 2003. 
Maksudnya ketika kita mendidik dan mengajar siswa diibaratkan “mengukir di atas batu” karena seberat apapun lahan dan medan yang diarungi pasti pada akhirnya akan membekas dan meninggalkan tapak . Karena memang setiap aktivitas akan berarti dan menghasilkan bila dilakukan dengan saksama dan kolaboratif, Sigmund Freud (Psikolog) Dan setiap pekerjaan yang baik dan buruk pada akhirnya kita akan memetik “kembangnya”, Willian Shakespeare (Raja Sastrarawan)
Lalu bagaimana dengan murid zaman sekarang ? ditengah saratnya kemajuan teknologi apa “Iya”, kita masih meng-Gora siswa ? Apakah siswanya masih dikatakan “lahan kritis” sehingga sangat membutuhkan “pupuk dan insektisida” ? Apakah siswa masih perlu diberi hukuman “berdiri angkat kaki sebelah” di depan kelas ? Apakah siswanya masih perlu diberi ganjaran untuk menghafal materi dua sampai tiga bab ? Tetapi kurikulum 2013 akan memberikan kontribusi yang luar biasa demi perkembangan dan kemajuan pendidikan ke depannya. Tetapi jangan sampai kita ketinggalan teknologi dan dikalahkan oleh siswa. Kita tidak boleh tertinggal jauh dibelakang tentang browsing internet dan sama sekali tidak bisa menjelajah dunia melalui dunia maya.
Kita segala-galanya harus lebih tahu dan unggul dari siswa, Ir.Indra Djati Sidi, Ph.D (Mantan Direktur Jend Pend.Dasar & Meneg, Depdiknas)
Teknik gogo rancah sepertinya tidak cocok lagi diterapkan , karena dulu tidak pernah ada tindakan barbar pada siswa, tidak ada siswa ugal, tidak ada internetan . Siswa kini lebih plural,kompleks, dinamis dan peka terhadap perkembangan. Tetapi harus diakui pasti memiliki keragaman dimasing-masing dekade.
Begitu juga dengan guru-guru, yaitu guru yang sebenar-benarnya guru. Ya… guru yang digugu plus ditiru atau istilahnya, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Jadi siswanya tidak dan bukan mengguru dan meniru pada behavioris ala selebritis.Guru adalah tauladan yang seluruhnya akan dicontoh dan ditiru oleh murid-murid kita. Melihat dinamika yang diiringi dengan derapnya teknologi semuanya harus disesuaikan dan diseleraskan.
Sedikit saja tindakan yang melenceng akan fatallah semuanya. Guru harus jeli melihat cela dan ruang untuk memasuki alur pikiran dan keinginan siswa . Karena siswa berada pada titik rawan yang memposisikan dirinya kepada pilihan masa depan yang  tepat.
Tidak perlu ada tindakan ala militer di dunia pendidikan, tetapi ciptakan suasana yang asri, bersahabat, kreatif, loyal, kolaboratif , bertanggung jawab, dan beriman kepada siswa. Siswa dan guru harus ada kedekatan dan hubungan yang terarah dan sistematis sehingga pendidikan kita bertujuan . Berikan yang terbaik untuk murid-murid kita, karena mereka adalah penerus perjuangan, Pesannya, Saidin, S.Pd.M,Pd [Kasek SMAN I Bolo]
Kedekatan, keakraban, silaturahim, dan aplaus dari guru untuk siswa tidak akan mengu rangi dan menurunkan “Citra dan martabat guru” di mata siswa dan publik. Melalui kebersamaan dan kekeluargaan yang bertujuan semua cita-cita pendidikan yang ingin kita capai akan sukses dan terarah. Tidak perlu kita pasang muka ‘Dingin’ dan  apatis kepada siswa karena akan membuat “Batas” dan “Garis Merah” yang menghalang cita-cita pendidikan yang kita hajatkan bersama, Pesannya, Saidin, S.Pd.M,Pd [Kasek SMAN I Bolo]
Ruang belajar yang damai, demokratis, evaluative, asri, inovatif , variatif, kompetatif, adalah sisi urgensial untuk tercapainya tujuan pendidikan, Howard Gardner .Kalau siswa tidak damai dengan lingkungan belajarnya, alamat siswa akan shock learning dalam pembelajaran.Dan bukanlah dikatakan sebuah prestasi, ketika siswa merasa ‘takut’ kepada gurunya. Dalam artian siswa tidak ‘dekat’ dengan gurunya. Pembelajaran dalam lingkungan yang harmonis dan layak, mutunya bisa lebih dijamin daripada dididik ditempat yang “kaku dan mencemaskan”.
Dan ujung-ujungnya akan berpengaruh kepada kualitas SDM kita. Memberikan reward dan pujian kepada siswa yang unggul dan  harus  dibudayakan, Dra. Emi,M.Pd [Mantan Kasek SMAN I Madapangga, ketika IN- 2 Pendampingan K 13]
Ketika pendidikan menengok terus ke belakang dan dibayang-bayang oleh romantisme masa penjajahan, adalah sebuah “ mimpi” bila mengharapkan sekolah yang sejajar dengan Sekolah Bertaraf Internasional . Sekarang persaingannya nyata sekali dan sangat ketat dan tantangannya jauh lebih seru. Jadi siapa yang tidak memperhatikan kualitas, maka dalam sekejap saja sudah ketinggalan semakin jauh dan kita akan menjadi penonton yang abadi di panggung percaturan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Atau memang kita malah senang dan bangga ketika selalu mengekor terus di belakang ? Kesuksesan siswa adalah kesuksesan gurunya dan kegagalan siswa adalah kegagalan pendidikan, Ir. Indra Djati Sidi, P.hD. Dan pendidikan yang “gagal”, adalah ciri “Kemunduran”. Mari kita bekerja lebih baik dan amanah agar selamat  dunia akhirat, Amin.

Kado untuk  Seluruh teman-teman guru yang tercinta di SMA Negeri I Bolo

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.