Header Ads

Mantan Kepala SDN Inpres Raba Buntu Bantah Ada Penyimpangan BSM

Kabupaten Bima, Garda Asakota.-
Mencuatnya dugaan penyimpangan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) tahap IV tahun 2014 secara tegas dibantah oleh mantan Kepala SDN Inpres Raba Buntu Desa Nggembe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (14/2), mantan Kasek, Syahruddin.HMA, Ama.Pd, mengaku selama dirinya memimpin sekolah itu tidak ada masalah yang muncul. “Semua berjalan dengan baik, tidak ada yang dipersoalkan.
Segala masalah yang berhubungan dengan keuangan sekolah maupun terkait dengan masalah dana BSM semuanya sudah berjalan sesuai mekanisme,” bantahnya saat dikonfirmasi wartawan.
Sebagai Kepsek saat itu, pria yang sudah memasuki masa pensiun ini tugasnya menerima laporan saja dari bendahara.
“Kalau urusan berapa jumlah siswa yang diajukan dan berapa jumlah siswa yang mendapatkan dana BSM, itu tugasnya bendara. Saya tahunya berapa yang cair berdasarkan laporan bendahara, sejumlah itulah saya perintahkan untuk dibagi habis ke semua siswa yang ada. Dalam urusan pembagiannya bukan saya yang membaginya, tapi saya tugaskan para guru yang ada,’ timpalnya. Dirinya tidak menampik setiap kali ada pencairan dana BSM tersebut kerap kali mendapat bagian.
“Soal itu saya tidak mengelak, setiap kali pencairan dana BSM, saya dan para guru lainnya kadang dapat bagian. Itupun  kita dapatnya kalau ada sumbangsih dan kerelaan dari orang tua wali murid. Namanya dikasih yah kita terima, saya tidak pernah meminta atau memotong uang BSM siswa tersebut,” akunya.
Sementara itu, Ismail Karim A.ma.Pd, selaku bendahara SDN Inpres Raba Buntu, juga secara tegas membantah kalau dirinya melakukan penyimpangan terkait dengan data maupun pencairan dana BSM. “Saya tidak pernah mengajukan jumlah siswa penerima dana BSM melebihi data jumlah siswa,” bantahnya.
Menurut data yang dia miliki jumlah siswa yang ada saat ini sebanyak 84 orang, bukan 71 orang. “Dari jumlah 84 siswa,  semuanya saya ajukan untuk menerima dana BSM. Hanya saja pada tahap ke 4 tahun 2014 lalu namanya hanya 71 orang saja yang cair, dan dari 71 orang yang dapat saya bagi satu untuk semua.
Jadi sebanyak 84 siswa yang ada tidak ada yang tidak dapat, semua siswa merasakan uang tersebut,” jelasnya.
Adapun adanya oknum guru yang menyatakan tidak dilibatkan dalam  setiap pencairan dana BSM, itu tidak benar. Sebab kata dia, setiap pencairan dana BSM tetap melibatkan para guru.
Bahkan lanjutnya yang membagikan uang BSM bukan dirinya, tetapi dilakukan oleh para guru yang ada. “Dan sebelum di lakukan pembagian uang tersebut kita tetap mengadakan rapat terlebih dulu dengan semua guru,” tuturnya.
Menyingung adanya dugaan pemotongan dana BSM tahap ke 4 untuk kebutuhan perbaikan pagar dan pembelian sebuah laptop sekolah, dirinya tidak menampiknya, namun hanya ada pemotongan untuk pembuatan pagar.
“Kalau pemotongan untuk kebutuhan perbaikan pagar sekolah memang benar dan hal itu sudah ada kesepakatan pihak sekolah dengan sejumlah 71 orang tua wali murid yang ada, dengan besar potongan sebesar Rp25 ribu per siswa.
Tapi kalau pemotongan untuk pembelian laptop sekolah, itu juga tidak benar. Tidak ada saya lakukan pemotongan untuk pembelian labtop,” tegasnya.
Ismail juga menjelaskan terkait dengan penerima dana BSM tahap-5, tahun 2014, merupakan dana yang diperuntukkan bagi sejumlah siswa kelas satu. Sebanyak 21 orang siswa yang diajukan pihaknya tahun 2014 lalu, hanya 13 orang siswa saja yang dananya cair. “Dari jumlah siswa 13 orang tersebut kami mendapatkan uang Rp3,150 juta, semuanya sudah kita bagi habis satu untuk semua. Artinya total 21 orang siswa yang ada semua kebagian dan tidak ada uang yang lebih,” katanya. (GA. 888*)

No comments

elshandy creative. Powered by Blogger.