Header Ads

Ketika Kesalahan Mendapat Cibiran

Rafika, S.Pd
Kesalahan dan kekeli¬ruan itu tidak boleh dianggap sepele, seperti sepelenya anggapan kita terhadap eksistensi secuil “slilit”. Memang Slilit kadang dianggap hal yang biasa bagi seba¬gian orang, tetapi umumnya menganggap slilit sebagai fenomena yang serius. Yang pasti bukan Slilit sang Kiai miliknya Emha Ainun Nadjib. Keberadaan slilit memang sangat mere¬sahkan karena mengganggu privace seseo¬rang. Karena melakukan kesalahan pertan-da minimalnya kepedulian kita terhadap tugas yang kita aktifisi.
Dimana-mana kesalahan sangat meresahkan dan dianggap petaka atau musibah yang harus disikapi dengan serius. Tetapi tentu beda dengan garapan roman Salah Asuhan-nya Abdul Muis (1928), beda setting dan alur dengan yang kita lirik dalam tulisan ini.
Sepertinya tidak pernah ada person yang tidak pernah berbuat kesalahan atau kekeliruan. Tetapi ketika sebuah kesalahan itu dilakukan dengan sengaja, dilakukan dengan penuh per¬tim¬bangan, legalitas, tekanan dari pihak tertentu, lumrah, apakah masih bisa dikate¬gorikan se¬buah kesalahan ? Setiap tindakan itu bertujuan, dan ketika tidak bertujuan bagaimana ? Manu¬sia adalah tuan bagi nasib dan kesala¬hannya sendiri, dan dengan hidupnya yang ditentukan oleh tindakannya sendiri, begitu pandangannya Jean Paul dalam ( L’existentia¬lis¬me est un humanisme 1948) . Dan kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan, baik itu kesalahan ringan, sedang atau kesalahan berat!
Apapun model dan tingkatannya, kesalahan itu pasti akan ada respek dari pihak lain, seperti cibiran panas, selentingan minor, atau ungka¬pan-ungkapan yang tidak familiar dan sarkas. Mau tidak mau kita harus menyikapi dengan wajar, tenang, dan idealis.
Lalu bagaimana ketika sebuah kesalahan dilakukan berencana dan sistematis oleh pela¬ku-pelaku yang berintelek dan berdasi ? Yang imbasnya sangat dasyat dan mematikan ? Seperti kesalahan yang sangat fatal ? Dimana¬kah posisi yang dianggap sebuah kesalahan dan kebenaran itu ? Tidak ada individu yang tidak lepas dari kesalahan, tetapi kesalahan itu harus diminimalkan, dan urgensialnya kita harus pandai-pandai introspeksi diri, pesannya Umar H.M. Saleh, S.Pd (Kasek SMA Negeri I Bolo ketika rapat Dinas 3 Nopember 2011)
Ketika sebuah kesalahan itu dianggap se¬suatu yang wajar ? ketika kesalahan dianggap sebuah seremonial ?Ketika kesalahan menda¬pat cibiran? Ketika kesalahan mendapat ce¬moohan dari publik? Ketika kesalahan dicap se¬bagai aib? Ketika kesalahan dilaknat? Dan ke¬tika kesalahan harus dipertanggungjawabkan !
Pada pelajaran bahasa Indonesia, kesala¬han dalam penulisan ejaan sangat berpengaruh terdapat tepat dan tidaknya ketika kita menjawab soal esay Tidak mencantumkan tanda koma atau titik saja, akan merubah arti dari kata tersebut. Sangat sederhana kelihatannya, tetapi sangat pasti letak kesalahannya. 3
Dulu ketika Rapor siswa masih manual, pemakaian tipex sangat alergi bagi guru. Karena Rapor salah satu dokumen dan tidak boleh ada coretan atau di tipex. Disinilah Kita bisa membaca tingkat kedisplinan dan kinerjanya sosok guru. Dan Sangat jelek imagenya ketika Buku rapor siswa sarat dihiasai oleh asesoris alias penuh dengan coretan.
Penulis selalu memberikan tinta merah bagi siswa yang menggunakan tipex. Karena penggunaan tipex sama halnya dengan mem¬biasakan diri untuk enteng melakukan kesala¬han. Tipex identik dengan ketidakdisipli¬nan dan melegalkan sebuah kesalahan. Kesalahan yang rutin kita lakukan akan menjadikan kita resistens terhadap kesalahan-kesalahan besar atau kecurangan turunan. Bisa karena terbiasa, terjadinya kesalahan karena tidak ingin terciptanya kebenaran sejati, Abraham Lincol. Dan kita bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan bagi kehidupan pribadi kita, Catherine Pulsifer.
Ok- lah ketika sebuah kesalahan yang sudah diralat tidak memberikan pengaruh yang begitu parah, tetapi ketika kesalahan dan kekeliruan memberikan imbas yang meresahkan dan meru¬gikan semua pihak bagaimana ? Tentu hal ini tidak boleh dianggap sepele karena ujung-ujungnya akan melibatkan semua pihak yang berkepentingan. Apakah dengan sederet kata maaf bisa menjinakkan rangkaian kesalahan ? Kata maaf adalah pelarian terakhir yang dilaku¬kan oleh individu-individu yang melegalkan kesalahan. Kesalahan juga adalah potret kinerja yang serampangan, tidak bertanggungjawab, dan tidak bertujuan. Ketika semua aktifitas dida¬sarkan atas tanggung jawab dan motivasi yang tinggi, pastilah kesalahan itu akan minimal dan tidak akan pernah terjadi kesalahan fatal !
Mengapa sampai harus terjadi sebuah kesalahan atau kekeliruan ? Karena kelalaian¬kah ? Suasana yang tidak kondusifkah ? Terte¬kankah ? Dipolitisirkah ? Disengajakah ? Tidak modkah ? Yang pasti kesalahan akan menjadi sebuah catatan yang kurang bagus bagi orang atau lembaga yang melakukannya. Dicap tidak profesional , atau masih amatirlah ! korelasinya sangat menganggu aktivitas dan kinerja kita kedepannya.
Bagaimana kalau terjadi kesalahan yang tidak bisa diralat ? Kesalahan yang tidak bisa diperbaiki ? Kesalahan yang bersertifikat ? kesa¬lahan berjangka ? Kesalahan yang dide¬posit ? Kesalahan yang tidak bisa dituntaskan kebenarannya ? Apakah kita hanya akan mang¬gut-manggut saja ? Tidak berani berkoor ? Pas¬rah menunggu titah ? Atau hanya menjadi pe¬nonton abadi ? Menjadi penonton kemudaratan, adalah temannya kemudaratan. Menjadi penonton kediktatoran, adalah kawannya diktator. Dan menjadi penonton keapatisan, adalah kerabatnya simpatisan ! Ketika ingin kebenaran, damailah dengan kebenaran. Dan ketika ingin keadilan, tunjukkan keadilan !
Bentuk kesalahan banyak model dan momentnya, seperti ketika kesalahan dilakukan oleh satu pemain bola. Sedikit saja salah meng¬oper bola, gawang akan terancam gol dan kalah . Apalagi kalau terjadi gol bunuh diri. Begitu juga ketika guru keliru menyampaikan materi. Yang ini lebih parah, karena ilmu yang diberikan ter¬sebut akan berkembangbiak ke generasi beri¬kutnya. Kesalahan penyampaian materi terse¬but akan estafet ! Begitu juga ketika kesalahan menyetir kendaraan, bisa berakibat nyawa orang lain dan diri sendiri melayang dalam hitun¬gan menit. Sering terjadinya kecelakaan, bun¬tut¬nya pasti dikambinghitamkan kata kesalahan atau lebih amelioratifnya kesalahan teknis. Kesalahan teknis sudah menjadi istilah yang trend ketika terjadi musibah pada urusan jasa pelayanan. Bagaimana ketika kesalahan itu dipinpong oleh pembeli kebenaran ? Bagai¬mana dengan nasib pelaku kesalahan tersebut ? Apakah hanya bersahabat dengan kata filosofnya “nasib”. Apakah dengan kata maaf menjadi kunci segala-galanya. Kesalahan yang bisa mendera orang lain, adalah deraan juga bagi pelaku-pelaku kesalahan. Matematisnya tidak bisa diwujudkan dengan hitungan mesin kalkulator ! Kita tinggal menunggu antrian, dan kebenaran itu pasti akan terbeberkan ! Jangan sampai kita mendeposit kesalahan, yang pada akhirnya kita akan menuai bunga kesalahan tersebut berlipat ganda, Amin.

Pemerhati Pendidikan dan budaya
Aktif di SMA Negeri I Bolo

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.