Header Ads

Kisah Pilu Sejumlah Korban Banjir Bandang

Sape, Garda Asakota.-
Hujan lebat yang melanda Kecamatan Sape, Jumat hingga Sabtu pagi, menyebabkan banyak warga lebih berdiam diri di rumah. Mentari pagi lebih suka bersembunyi dibalik awan tebal dilangit mendung. Ratna warga RT 15 Desa Rai Oi ini usai shalat subuh, seperti biasa berhidmat menyiapkan sarapan pagi buat suami dan anak tersayang.
Ibu tiga anak itu meski kondisi badannya masih sakit-sakitan tak pernah mengeluh dan bermalas-malasan. Pengabdian tanpa pamrih itu dilakoninya tak kenal waktu. Nikmat yang diterimanya selama ini, tak bisa diurai dengan kata, meski hidup bersama dalam kesederhanaan, tetapi kebahagiaan terus mewarnai rona kehidupan
berumah tangga. Rumah 12 tiang yang ditempatinya selama ini merupakan surga terindah untuk bermadu kasih, melukis sesuatu dalam skema masa depan yang indah dan lebih baik. Mertua yang baik tinggal berdempetan dengan rumahnya bukan merupakan beban, tetapi dimaknai sebagai pelengkap pengabdian. Karena petuah orang tua, kewajiban isteri adalah menyayangi mertua seperti menyayangi orang tua sendiri.
Buktinya, jika Ratna keluar rumah maka ketiga anaknya, Nining siswa kelas II SMPN 4 Sape, Ratu siswa SD, dan EN Jelita (3 tahun) bisa dititipkan pada mertuanya itu. Selain kedua orang tuanya sendiri. Pada hari itu, Nining anaknya yang pertama, malas ke sekolah hanya santai menyaksikan acara televisi. Sebagai itu merasa kuatir kenapa anaknya hari itu malas ke sekolah, padahal biasanya paling rajin dan jarang bolos sekolah.
”Tadi malam saya bermimpi melihat rumah kita diterjang banjir, tetapi diganti oleh orang dengan rumah bercet putih. Saya takut terjadi sesuatu dengan rumah kita,” ujar Ratna mengulang ucapan anaknya saat disambangi di lokasi bekas rumahnya yang hanyut diterjang banjir, Rabu (27/4).
Mendengar mimpi yang ceritakan anaknya, perasaaan Ratna kurang te
nang, seperti ada magnet yang menguat kan dirinya dan ketiga anaknya untuk tetap tinggal di rumah. Ratu anaknya yang kedua juga tak mau jauh dari ibunya. Bahkan, saat berpamitan untuk belanja di pasar Sape, menangis ingin ikut. Namun, setelah dibujuk baru mau tinggal bersama kakaknya, sementar suaminya sejak pagi berangkat ke sawah. “Firasat saya kurang enak, sehingga hanya beberapa saat saja di pasar dan cepat pulang. Saat itu hujan tetap mengguyur Sape dan sekitarnya, sehingga kami senang berada di rumah,” kata ibu muda itu. Tidak lama kemudian, tuturnya, sempat menyaksikan kondisi banjir yang tidak jauh dari rumahnya. Dia tak pernah kuatir mengenai banjir karena selama ini tidak sampai melewati jembatan yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Namun, dalam sekajab air sudah mulai menerpa tiang rumahnya. Ibu itu kaget dan cepat menarik anaknya untuk menyelamatkan diri.
Dalam kondisi panik seperti itu, dirinya dan tiga anaknya berteriak minta tolong. Sambil menggendong EN Jelita anaknya yang berusia tiga tahun, terus berlari hingga di jalan beraspal, sedangkan banjir terus memburu. “Saya berlari mengikuti kedua anak saya tanpa menghiraukan sekeliling karena warga lain juga ikut menyelamatkan diri,” katanya. Usaha menyelamatkan diri itu baru berhenti hingga bisa menaiki Doro Pela Desa Parangina. Meski kondisinya masih sakit demam, tak merasakan capek dan lelah. “Baru tiba di sana baru saya memeluk dan mencium satupersatu anak-anak saya. Kami terharu dan menangis sejadi-jadinya,” katanya.
Pada episode lain, Junaidin suami Ratna, juga berlarian dari sawa hingga memasuki perbatasan Desa Nae, tetapi saat itu bapak tiga anak ini dihadang oleh banjir bandang di jembatan Rai Oi yang saat itu tinggi air sekitar satu meter. Junaidin tak menghiraukan teriakan Husen Sahadu orang tuanya.
Menyaksikan rumahnya yang diseret arus hatinya tak kuasa menahan sedih. Tangannya membuncah ingin menyelamatkan anak dan istrinya. Dalam hatinya, tak ada lagi arti hidup tanpa bisa bertemu dengan tiga anak dan istri tercinta. “Saya tidak lagi takut harus mati, yang penting bagaimana nasib anak dan istri saya,” ujarnya di bekas lokasi kediamannya, Rabu. Karena itu, dia nekat menantang maut, banjir yang meluap hingga jembatan itu tak dihiraukan, meski beberapa kali kakinya diseret banjir, tetapi tanpa sadar bisa lolos. Dengan air mata berlinang Junaidin berlarian kemana-mana mencari anak dan istrinya. Hatinya tak kuasa menahan rindu ingin bertemu dan kemana lagi henda di cari.
Junaidin, tak mengenal lelah, terus berlari hingga mendengar ada yang berteriak memanggil dirinya. Bapak... Bapak...., bapak itu semakin memacu langkahnya ke arah ruara itu. “Saya sempat melihat lambaian tangan istri saya dan ketiga anak saya hingga saya jatuh dipangkuan mereka. Kami menangis sejadi-jadinya tak menghiraukan sekitar,” katanya.
Dalam suasana bahagia seperti itu, Junaidin, tak ingin melepaskan pelukannya, istrinya beberapa kali mencium pipinya sembari membanjatkan kalimat syukur atas pertemuan yang tak ada bandingan itu. Mereka pasrah terhadap keadaan mereka yang kehilangan segalanya, tetapi keselamatan jiwa mereka tak ada bandingannya.
“Saya tidak peduli apa yang ada di rumah yang telah hanyat, yang penting istri dan anak saya bisa selamat. Inilah kekayaan saya yang tidak ternilai dengan apapun,” katanya.
Suasana bahagia itu, kembali terjadi saat mereka berkumpul dengan orang tua dan mertua mereka. Rumah hasil keringat mereka sejak menikah belasan tahun lalu, kini tinggal kenangan dan hanya tanah kosong bekas ditempati dua rumah yang hanyut terseret banjir. Kini, biduk rumah tangga harus dimulai lagi dari awal dan tidak tahu kapan derita itu akan berakhir. Kedua anaknya yang bersekolah harus berlibur beberapa hari untuk menunggu pakaian seragam, sedangkan seluruh isi rumahnya tak ada yang tersisa. “Syukur mertua saya menyayangi kami, sehingga untuk sementara tinggal bersama mereka, sedangkan bapaknya juga mengalami hal yang sama dan telah kehilangan segalanya,” katanya. Dia mengaku, telah mendapatkan beberapa bantuan makanan dan minuman, tetapi untuk keperluan sekolah anaknya belum ada. Semoga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima secepatnya membantu meringankan beban mereka untuk membangun rumah yang baru. (GA. 333*)

Tidak ada komentar

elshandy creative. Diberdayakan oleh Blogger.